Motor Sering Mogok dan Tenaga Drop? Ini 7 Kebiasaan Sepele yang Bisa Bikin Turun Mesin
Ilustrasi: Sepeda motor mogok tiba-tiba bikin jengkel, bisa jadi karena masalah ini. (BikeRestart).
15:16
25 Januari 2026

Motor Sering Mogok dan Tenaga Drop? Ini 7 Kebiasaan Sepele yang Bisa Bikin Turun Mesin

 

- Turun mesin menjadi momok bagi banyak pemilik sepeda motor karena biaya perbaikannya tidak murah dan prosesnya memakan waktu. Padahal, dalam banyak kasus, kerusakan mesin berat ini bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat kebiasaan perawatan dan penggunaan motor yang kurang tepat dalam jangka panjang.

Tanpa disadari, hal-hal sepele seperti telat ganti oli, jarang servis, hingga gaya berkendara yang kasar bisa perlahan merusak komponen internal mesin. Jika dibiarkan, kondisi ini akan berujung pada keausan parah yang membuat motor harus turun mesin.

Berikut 7 penyebab paling umum yang perlu kamu waspadai seperti dirangkum dari laman Suzuki Indonesia!

1. Telat Mengganti Oli Mesin

Oli mesin memiliki peran vital sebagai pelumas, pendingin, sekaligus pembawa kotoran hasil gesekan komponen mesin. Namun seiring pemakaian, oli akan mengalami penurunan kualitas karena terpapar panas tinggi dan tercampur sisa pembakaran.

Saat kamu telat mengganti oli, teksturnya menjadi lebih kental dan daya lumasnya menurun drastis. Akibatnya, piston, bearing, dan komponen lain bekerja dengan gesekan tinggi. Dalam kondisi parah, gesekan antar logam bisa menyebabkan piston macet, ring piston rusak, hingga dinding silinder tergores, yang akhirnya membuat motor harus turun mesin.

Idealnya, penggantian oli dilakukan setiap 2.000–3.000 km, terutama untuk motor matic, atau mengikuti anjuran pabrikan. Gunakan oli sesuai spesifikasi, rutin cek volume oli, dan jika motor sering dipakai di kondisi macet atau stop-and-go, interval ganti oli sebaiknya lebih singkat.

2. Jarang Melakukan Servis Berkala

Turun mesin umumnya bukan disebabkan satu kerusakan besar, melainkan akumulasi berbagai masalah kecil yang dibiarkan terlalu lama. Servis berkala berfungsi mendeteksi masalah sejak dini sebelum berkembang menjadi kerusakan serius.

Servis bukan hanya soal ganti oli, tetapi juga mencakup pengecekan filter udara, busi, sistem pembakaran, celah klep, hingga CVT pada motor matic. Jika filter udara kotor, suplai udara ke ruang bakar terganggu dan pembakaran menjadi tidak sempurna. Endapan kerak pun terbentuk dan membebani kerja mesin.

Jika kondisi ini dibiarkan, suhu mesin meningkat, komponen cepat aus, dan risiko turun mesin semakin besar. Karena itu, jangan menunggu motor bermasalah parah. Lakukan servis rutin sesuai jadwal, misalnya setiap 2.000–4.000 km atau mengikuti buku servis.

3. Sering Menerjang Banjir (Water Hammer/Hydrolock)

Menerobos banjir merupakan kebiasaan berisiko tinggi bagi mesin motor. Jika air masuk ke saluran intake dan tersedot ke ruang bakar, piston bisa berhenti mendadak karena air tidak dapat dikompresi. Kondisi ini dikenal sebagai water hammer atau hydrolock.

Dampaknya sangat serius, mulai dari stang seher bengkok hingga kerusakan internal mesin. Selain itu, air juga bisa bercampur dengan oli, sehingga daya lumas hilang dan memicu karat serta keausan lebih cepat. Gejalanya bisa muncul belakangan, seperti tenaga mesin menurun, suara kasar, atau mesin macet mendadak.

Sebisa mungkin hindari menerjang banjir. Jika terpaksa melintas dan motor mati, jangan dipaksa distarter ulang. Segera bawa ke bengkel agar oli dan ruang bakar bisa diperiksa sebelum kerusakan bertambah parah.

4. Coolant atau Air Radiator Tidak Pernah Diganti

Pada motor dengan sistem pendingin cair, coolant berfungsi menjaga suhu mesin tetap stabil. Jika cairan ini jarang diganti, akan muncul endapan dan karat yang mengganggu sirkulasi pendinginan.

Akibatnya, mesin lebih mudah mengalami overheat. Jika panas berlebih terjadi berulang kali, komponen seperti piston, ring piston, dan klep bisa rusak. Dalam jangka panjang, kondisi ini sangat berpotensi menyebabkan motor turun mesin.

Penggantian coolant sebaiknya dilakukan secara berkala, misalnya setiap sekitar 12.000 km atau sesuai rekomendasi pabrikan. Selain itu, kamu juga perlu rutin mengecek tabung reservoir dan tidak menunggu mesin sering panas baru mengganti coolant.

5. Modifikasi Mesin Tanpa Perhitungan Matang

Modifikasi mesin seperti bore up atau peningkatan kompresi memang dapat mendongkrak performa. Namun, modifikasi yang dilakukan tanpa perhitungan justru memperbesar risiko kerusakan mesin.

Masalah muncul ketika peningkatan performa tidak diimbangi dengan penguatan komponen pendukung, seperti piston, crankshaft, sistem pendinginan, bahan bakar, dan pengapian. Komponen standar yang dipaksa bekerja di luar batas desainnya akan mengalami keausan lebih cepat.

Pembakaran yang tidak optimal juga bisa memicu kerak, suhu mesin naik, hingga merusak dinding silinder. Jika kondisi ini terjadi, motor sangat rentan masuk tahap turun mesin. Karena itu, lakukan modifikasi hanya di bengkel yang benar-benar paham perhitungan mesin dan jangan asal mengganti komponen.

6. Gaya Berkendara yang Merusak Mesin

Cara kamu mengendarai motor sangat mempengaruhi usia mesin. Kebiasaan menarik gas secara mendadak, sering bermain di rpm tinggi, atau menggeber mesin saat masih dingin dapat meningkatkan gesekan dan suhu mesin secara ekstrem.

Saat mesin belum mencapai suhu kerja ideal, oli belum bersirkulasi dengan sempurna. Jika dipaksa bekerja keras, komponen internal mengalami pelumasan minim dan cepat aus. Jika dilakukan terus-menerus, ring piston dan dinding silinder akan terkikis, kompresi menurun, dan motor berakhir turun mesin.

Biasakan memanaskan motor secukupnya sebelum digunakan dan hindari memacu mesin di rpm tinggi terlalu lama. Sesuaikan gaya berkendara dengan kondisi jalan dan beban motor.

7. Terlalu Sering Membawa Beban Berlebih

Membawa beban berlebih secara rutin, seperti sering boncengan sambil mengangkut barang berat, apalagi di tanjakan, membuat mesin bekerja jauh lebih keras dari kapasitas normalnya.

Tekanan kerja mesin meningkat, suhu lebih cepat naik, dan gesekan pada ring piston serta dinding silinder menjadi lebih intens. Jika kondisi ini berlangsung lama tanpa perawatan ekstra, keausan komponen akan dipercepat dan risiko turun mesin semakin besar.

Sebaiknya hindari membawa muatan melebihi batas anjuran pabrikan. Jika kamu memang sering membawa beban berat, lakukan servis lebih disiplin, ganti oli tepat waktu, dan pastikan sistem pendinginan motor berfungsi optimal.

Editor: Estu Suryowati

Tag:  #motor #sering #mogok #tenaga #drop #kebiasaan #sepele #yang #bisa #bikin #turun #mesin

KOMENTAR