Jual Mobil Demi Keliling Dunia, Pesepeda Wanita Iran Ini Ungkap Rahasia Bahagia Lewat 'Slow Life'
Pesepeda asal Iran Arezoo Eskandari di Jakarta. (Suara.com/Tsabita Aulia)
08:36
9 Juni 2026

Jual Mobil Demi Keliling Dunia, Pesepeda Wanita Iran Ini Ungkap Rahasia Bahagia Lewat 'Slow Life'

Jakarta boleh saja sibuk dengan kemacetannya, tapi bagi Arezoo Eskandari, kecepatan bukan segalanya.

Pesepeda asal Iran ini baru saja tiba di Indonesia pada Sabtu (6/6/2026) setelah mengayuh pedal sejauh lebih dari 8.000 kilometer.

Ditemui di AFK Beauty Skin Clinic, Mampang, Senin (8/6/2026) sore, Arezoo memancarkan aura ketenangan yang berbeda.

Bukan sekadar hobi, perjalanannya melintasi benua ini membawa tiga misi besar: perdamaian dunia, persahabatan antar bangsa, dan kampanye filosofi Slow Life.

"Hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tapi tentang apa yang kita rasakan di sepanjang jalan," seolah menjadi pesan tersirat dari setiap kayuhan rodanya.

Arezoo membuktikan bahwa di atas sepeda, batas-batas negara bisa dilebur dengan persahabatan.

Pesepeda asal Iran Arezoo Eskandari (kanan) di Jakarta. (Suara.com/Tsabita)Pesepeda asal Iran Arezoo Eskandari (kanan) di Jakarta setelah menempuh ribuan kilometer. (Suara.com/ Tsabita Aulia)

Pertanyaan yang paling sering menghampiri Arezoo bukan tentang rute, melainkan tentang keberanian. Bagaimana mungkin seorang perempuan berani melintasi benua sendirian dengan sepeda?

Dengan senyum tipis, seorang lulusan psikologi ini menjawab bahwa musuh terbesar manusia bukanlah jarak atau orang asing, melainkan isi kepalanya sendiri.

"Saya memiliki latar belakang pendidikan psikologi di Iran, saya juga aktif di dunia pendidikan di Iran. Dan apa yang saya sedang lakukan sekarang dengan mandiri bersepeda ke berbagai negara," ungkap Arezoo, Senin (8/6/2026).

Bagi Arezoo, ketakutan adalah dinding imajiner.

"Yang saya ingin bagikan dengan rekan-rekan wartawan, adalah kekhawatiran sering kali hanya berada dalam pikiran kita, dan pikiran kita yang membatasi langkah dan gerakan kita," ungkapnya.

Modal Nyali dan Hasil Jual Mobil

Perjalanan Arezoo tidak disokong oleh dana melimpah dari pemerintahnya, Ia bukan pegawai negeri atau utusan kementerian.

Ia adalah seorang pemimpi yang rela melepaskan kemapanan demi sebuah pencarian.

Sebelum memulai petualangan ini, ia bekerja di sektor swasta. Namun, mimpi yang besar menuntut pengorbanan yang nyata.

"Saya sebelum melakukan perjalanan ini merupakan seorang pegawai di sektor swasta. Dikarenakan keterbatasan waktu dan kesempatan untuk mengincar mimpi saya, saya mengambil keputusan untuk mundur dari posisi saya sebagai seorang pegawai di sektor swasta," katanya.

Akhirnya dengan modal menjual mobil pribadi saya, saya jadikan modal awal, kemudian dengan modal awal tersebut saya mulai perjalanan saya.

Pesepeda perempuan asal Iran, Arezoo Eskandari, menginjakkan kaki di Indonesia setelah gowes ribuan kilometer. (Suara.com/Tsabita Aulia)Pesepeda perempuan asal Iran, Arezoo Eskandari, menginjakkan kaki di Indonesia setelah gowes ribuan kilometer. (Suara.com/Tsabita Aulia)

Kini, hidupnya ada di atas sepeda seberat 60 kilogram beban yang sangat berat untuk dikayuh dengan kecepatan rata-rata hanya 15 kilometer per jam.

Tidak ada hotel mewah dalam agendanya.

"Dikarenakan keterbatasan finansial yang saya miliki, saya tidak ke hotel. Saya mendirikan tenda sendiri, tidur di tenda, bahkan masak sendiri untuk bisa mengelola perjalanan saya sampai dengan titik akhir," katanya.

Indonesia Negara ke-enam

Indonesia adalah negara keenam yang ia singgahi. Dari Jakarta, ia berencana mengayuh pedalnya menuju Denpasar, Bali.

Jarak 1.200 hingga 1.300 kilometer akan ia tempuh dalam waktu kurang lebih 30 hari. Baginya, setiap kota di Indonesia adalah laboratorium kebudayaan.

Ia ingin melihat kota-kota bersejarah, mencicipi kuliner lokal, dan memahami cara berpakaian masyarakat setempat untuk kemudian ia ceritakan kepada rakyat Iran melalui media sosialnya.

Selain itu, Banyak yang bertanya bagaimana ia menjalankan kewajiban ibadahnya sebagai seorang Muslimah di tengah perjalanan yang tak menentu.

Bagi Arezoo, hubungan dengan Sang Pencipta tidak dibatasi oleh sekat dinding bangunan.

"Tempat ibadah di mana pun. Seseorang menjalankan salat bisa di mana pun dan itu saya lakukan," ucapnya.

Selama tujuh bulan di jalanan, ia menemukan bahwa dunia tidak sekejam yang digambarkan berita. Ia menemukan sebuah 'bahasa universal'.

"Sepanjang perjalanan saya mengambil dua hikmah besar. Pertama, perjalanan saya sama seperti perjalanan hidup, ada naik dan turunnya, ada momen manis atau pahitnya. Apabila kita terus percaya pada tujuan kita, hal-hal baik akan terjadi," ucapnya.

"Kedua, setiap negara mungkin dipisahkan oleh perbatasan, tapi ada bahasa universal yaitu bahasa kebaikan," sambungnya.

Pesepeda asal Iran Arezoo Eskandari (kanan) di Jakarta. (Suara.com/Tsabita)Pesepeda asal Iran Arezoo Eskandari (kanan) di Jakarta. (Suara.com/Tsabita)

Slogan Slow Life: Menikmati Detik Sekarang

Arezoo Eskandari adalah pengingat di tengah dunia yang terobsesi dengan kecepatan.

Ia memilih untuk berjalan lambat bukan karena lemah, tapi karena ingin melihat lebih banyak dan hidup lebih dalam.

"Slogan perjalanan saya adalah Slow Life atau Hidup Lambat, saya ingin mengajak orang-orang untuk menikmati setiap momen kehidupan sekarang tanpa terlalu khawatir tentang masa lalu atau masa depan," katanya.

Baginya, perjalanan menuju tempat wisata yang merupakan tujuan utama, bukan sekadar sampai di lokasi tersebut.

Ia ingin orang-orang, khususnya perempuan di Indonesia, untuk berani mengejar mimpi mereka selagi waktu masih memihak.

"Maka saya melalui kesempatan di sore hari ini ingin mengundang seluruh wanita yang berada di seluruh dunia, khususnya Indonesia, untuk tidak takut bermimpi dan tidak takut untuk mengincar mimpinya," harapnya kepada seluruh perempuan.

Kini, jalan aspal sepanjang Pulau Jawa menuju Bali telah menantinya, di bawah terik matahari tropis, Arezoo akan terus mengayuh, membawa bendera Iran dan pesan perdamaian di setiap tetap keringatnya.

Sebab bagi Arezoo, setiap orang yang ia temui di jalan bukan lagi orang asing, melainkan saudara dalam kemanusiaan.

Reporter: Tsabita Aulia

Editor: Dwi Bowo Raharjo

Tag:  #jual #mobil #demi #keliling #dunia #pesepeda #wanita #iran #ungkap #rahasia #bahagia #lewat #slow #life

KOMENTAR