Saat Soeharto Berpesan “Ojo Dipateni” Usai Penangkapan Xanana Gusmao
Xanana Gusmao(AFP PHOTO)
17:18
28 Mei 2026

Saat Soeharto Berpesan “Ojo Dipateni” Usai Penangkapan Xanana Gusmao

Pagi itu di Dili belum benar-benar ramai ketika sebuah mobil berhenti di rumah Panglima Komando Pelaksanaan Operasi TNI Timor Timur, Brigjen Theo Syafei pada 20 November 1992.

Di kursi tamu rumah itu, seorang pria kurus bertelanjang dada dan bercelana pendek duduk lemas tanpa banyak bicara.

Rambut dan janggutnya tidak lagi seperti foto-foto buram yang selama bertahun-tahun beredar di kalangan militer Indonesia.

Pria itu adalah eks pemimpin Frente Revolucionária do Timor-Leste Independente (Fretilin), Xanana Gusmao.

Beberapa jam sebelumnya, pria yang kini menjabat sebagai Perdana Menteri Timor Leste itu baru saja ditangkap hidup-hidup oleh Satgas Nanggala X/Timor Timur dari Kopassus di bawah komando Letkol Mahidin Simbolon, yang kini menyandang pangkat purnawirawan mayor jenderal.

Baca juga: “Double Agent” di Balik Operasi Senyap Penangkapan Xanana Gusmao

Mahidin menceritakan momen setelah penangkapan Xanana tersebut dalam podcast Brigade Kompas.com yang tayang Kamis (28/5/2026).

“Hadiah untuk Bapak, Xanana tertangkap,” kata Mahidin kepada Theo Syafei yang baru turun dari kamar dalam keadaan setengah mengantuk, dikutip dari Podcast Brigade Kompas.com, Kamis.

Theo sempat mengusap matanya berkali-kali.

Mayor Jenderal (Purn) TNI Mahidin Simbolon dalam sesi wawancara bersama Brigade Podcast Kompas.com, Jakarta, Selasa (5/5/2026).KOMPAS.com/FREDERIKUS TUTO KE SOROMAKING Mayor Jenderal (Purn) TNI Mahidin Simbolon dalam sesi wawancara bersama Brigade Podcast Kompas.com, Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Di hadapannya, sosok yang selama ini hanya hadir dalam laporan operasi dan foto intelijen kini duduk tenang di ruang tamunya.

“Belum (pakai baju, masih bercelana pendek), masih asli (kondisi usai penangkapan). Jadi, dibayangkan Pak Theo, mungkin dia (Xanana) berjenggot seperti foto-foto,” ucap Mahidin.

Tak lama kemudian Theo masuk ke ruangan lain untuk melapor ke Jakarta.

Rantai komando bergerak cepat. Saat itu Presiden Soeharto sedang berada di Mesir dalam kunjungan kerja.

Baca juga: “Rakyat Tidak Salah, Saya yang Salah”: Operasi Senyap Penangkapan Xanana Gusmao

Laporan diteruskan melalui Panglima ABRI Jenderal TNI Try Sutrisno.

Sekitar 10 menit kemudian Theo kembali memanggil Mahidin.

“Petunjuk Bapak Presiden, ‘ojo dipateni’,” jelas dia.

Kalimat pendek dalam bahasa Jawa itu, menurut Mahidin, menjadi penanda bahwa negara menginginkan Xanana hidup.

Sebab dalam operasi tersebut, perintah resminya memang jelas, menangkap tokoh puncak Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) Fretilin itu hidup atau mati.

Namun pagi itu saat penangkapan tidak ada baku tembak.

Tidak ada perlawanan.

Xanana ditangkap dalam kondisi lemah di bungker rumah persembunyian yang diketahui milik seorang polisi.

Baca juga: Xanana Gusmao Menangis di KTT ASEAN Usai Timor Leste Sah Jadi Anggota

Di rumah Theo Syafei, suasana yang terbentuk justru jauh dari gambaran interogasi keras ala operasi kontra-gerilya.

Para perwira yang berdatangan masih mengenakan pakaian olahraga dipanggil mendadak ke rumah Theo Syafei.

Mereka bergantian berbicara dengan Xanana.

“Ada yang tanya keluarganya, ada yang ngobrol biasa. Kita kasih makan, kasih rokok,” ujar Mahidin.

Ia mengingat jelas bagaimana Xanana tampak senang ketika diberi rokok. Tidak ada bentakan, tidak ada tekanan fisik.

“Supaya dia tambah yakin bahwa dia kita manusiakan,” tegas Mahidin.

Padahal pada masa itu, Xanana adalah musuh utama negara.

Baca juga: Tolak Lembur lalu Kena Sanksi, Eks Pegawai Logistik Gugat Pasal Lembur UU Cipta Kerja

Selama bertahun-tahun namanya menjadi target utama operasi militer Indonesia di Timor Timur.

Penangkapannya dianggap salah satu operasi terbesar TNI pada era konflik tersebut.

Tetapi bagi Mahidin, tugas pokoknya selesai ketika Xanana berhasil ditangkap hidup-hidup.

Menjelang siang, rombongan petinggi militer mulai berdatangan ke Dili.

Selain Try Sutrisno, hadir pula sejumlah petinggi seperti Komandan Kopassus Brigjen TNI Tarub, Direktur BAIS ABRI Brigjen TNI Hendropriyono, Pangkostrad Mayjen TNI Kuntara, dan lain-lain.

Sebelum bertemu para jenderal itu, Mahidin sempat memberikan pakaian kepada Xanana.

Bukan pakaian sipil, melainkan seragam tropas Fretilin tanpa pangkat.

“Ya adanya itu, daripada bertemu Panglima begini (tanpa pakaian),” ungkap Mahidin.

Baca juga: Masjid Istiqlal Sembelih 65 Sapi dan 13 Kambing, Menag: Jangan Ada Manipulasi Pembagian Daging

Bagi Mahidin, keputusan itu bukan bentuk penghormatan politik, melainkan perlakuan manusiawi terhadap lawan yang sudah tidak berdaya.

“Ya enggak apa-apalah. Ya manusiawilah kita. Hidupkan dia, bagaimanapun dia diakui sebagai pimpinan GPK. Bukan rendahan. Jadi kita harus manusiawikan lah gitu,” tegas dia.

Namun suasana cair itu tidak berlangsung lama.

Dalam pembicaraan dengan para petinggi ABRI, Xanana tetap menolak mengimbau pasukannya turun gunung atau menyerah kepada pemerintah Indonesia.

Ia tidak mau meminta jaringan Fretilin menghentikan perlawanan.

“Ya saya tidak bisa mengatakan. Kita serahkan kepada mereka saja,” begitu Mahidin mengingat jawaban Xanana saat diinterogasi para petinggi militer.

Sikap keras itu mengubah situasi.

Malam harinya muncul perintah baru: Xanana harus dirantai.

Ia mendapat tugas tambahan untuk memasang rantai pengaman pada tahanan paling penting di Timor Timur itu.

Baca juga: Projo Siap Dampingi Jokowi Keliling Indonesia

Tidak ada perlawanan dari Xanana.

Menurut Mahidin, pemimpin gerilya itu hanya diam.

Menjelang dini hari, Mahidin kembali menerima instruksi.

Pukul empat pagi pada 21 November 1992, Xanana harus dibawa ke lapangan terbang untuk diterbangkan keluar dari Timor Timur menggunakan pesawat Fokker.

Di perjalanan menuju bandara, untuk pertama kalinya Xanana menyampaikan permintaan pribadi.

“Jadi ketika di jalan, saya bersama dia, dia sudah ngomong, ‘Bapak komandan, kalau bisa, saya ke Cipinang saja’,” jelasnya.

“Dia sudah tahu Cipinang. Jadi dia dulu mungkin sudah ada komunikasi dengan agen-agen dia, jaringan dia bahwa di Cipinang itu lebih luas, lebih bisa diatur, mungkin gitu. Jadi, fakta ini,” tambahnya.

Baca juga: Mengintip Ruang Kendali Tank Leopard, Monster Baja Kebanggaan TNI AD | Brigade Podcast

Mahidin tidak banyak menanggapi.

Sebagai bawahan, ia merasa urusan lokasi penahanan bukan kewenangannya.

Xanana sempat dibawa ke Denpasar, kemudian dipindahkan ke Semarang sebelum akhirnya benar-benar mendekam di Lapas Cipinang dan menjalani proses peradilan.

Menurut Mahidin, seluruh proses penangkapan berlangsung cepat dan nyaris tanpa gejolak.

Bahkan banyak warga Dili belum mengetahui bahwa pemimpin Fretilin itu sudah berada di tangan TNI.

Keheningan itu justru dianggap sebagai keuntungan terbesar operasi tersebut.

Tidak ada serangan balasan, tidak ada upaya pembebasan, tidak ada demonstrasi besar di jalanan Dili.

Padahal, bila kabar penangkapan itu menyebar terlalu cepat ke pegunungan tempat basis gerilya Fretilin bertahan, situasinya bisa jauh lebih rumit.

Tag:  #saat #soeharto #berpesan #dipateni #usai #penangkapan #xanana #gusmao

KOMENTAR