Kilas Balik Penyelamatan WNI dari Perompak Somalia di MV Sinar Kudus
- Dahulu, misi penyelamatan para WNI dari penyanderaan perompak di mancanegara pernah berhasil.
Kini 2 jurnalis Republika, 1 wartawan TV Tempo, 1 wartawan iNews, dan WNI lainnya sedang butuh diselamatkan dari penangkapan aparat zionis.
Di lokasi lain, ada empat anak buah kapal (ABK) dari Indonesia yang menjadi korban pembajakan Kapal MT Honour 25 di perairan Somalia dan masih perlu diselamatkan.
Mengkilas balik, Indonesia pernah dibuat tegang oleh penyanderaan awak kapal MV Sinar Kudus pada 2011.
Saat itu, 20 awak kapal warga negara Indonesia disandera perompak Somalia setelah kapal mereka dibajak di jalur perdagangan internasional dekat Teluk Aden—salah satu kawasan laut paling berbahaya di dunia pada masa itu.
Baca juga: Kemenlu: 4 ABK WNI yang Disandera di Perairan Somalia Sehat dan Tetap Digaji
Awal peristiwa
Dikutip dari pemberitaan Kompas.com, kasus itu bermula ketika MV Sinar Kudus berlayar melintasi perairan Somalia dekat Teluk Aden, tepatnya di 320 mil timur laut Socotra.
Wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu jalur berbahaya bagi kapal dagang internasional.
Kapal membawa nikel milik PT Aneka Tambang Tbk senilai Rp 1 triliun, yang berlayar dari Sulawesi menuju Rotterdam, Belanda.
Peristiwa pembajakan kemudian terjadi pada Rabu, 16 Maret 2011. Setidaknya, ada 20 Anak Buah Kapal (ABK) yang berkewarganegaraan Indonesia.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang kala itu menjabat, mendapat kabar perihal pembajakan sehari setelahnya, tepatnya pada Kamis, 17 Maret 2011.
Baca juga: Kemenlu Pastikan 4 ABK WNI yang Disandera di Perairan Somalia dalam Kondisi Baik
Cari jalan keluar
Setelah mendengar kabar buruk tersebut, ia memberi mandat kepada Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan saat itu, Djoko Suyanto, untuk memimpin upaya penyelamatan kapal beserta awak MV Sinar Kudus.
Kepala Negara juga memimpin rapat upaya penyelamatan secara langsung pada 18 Maret 2011.
Pemberitaan Kompas.com pada tahun 2011 mengungkapkan, SBY setidaknya menggelar lima rapat terbatas (ratas) berturut-turut untuk menyiapkan pemberangkatan Satuan Tugas (Satgas) hingga 22 Maret 2011.
Ada sejumlah opsi yang dibicarakan: Negosiasi, operasi militer, serta negosiasi dan operasi militer.
Baca juga: Bertambah, 7 WNI Ditangkap Israel, 2 Lainnya di Kapal Kasr 1 Sadabat
Opsi-opsi itu terbuka, tetapi detail strategi tidak pernah dijelaskan detil ke publik karena menyangkut keamanan dan kerahasiaan.
Di sisi lain, kombinasi antara negosiasi dan operasi militer menjadi salah satu yang dipertimbangkan bukan tanpa alasan. Operasi ini pernah digelar Perancis, yang diceritakan dalam buku Pirates of 21st Century Nigel Cawthorne.
Setelah tebusan dibayar dan sandera bebas, pasukan elite milik Perancis yang menangani operasi berisiko tinggi, Groupe d'Intervention de la Gendarmerie Nationale (GIGN), menyerbu.
Sebanyak tiga helikopter militer mengejar bajak laut yang sudah berada di daratan. Terjadi kontak tembak, bajak laut diringkus dan dibawa ke Perancis untuk diadili.
Operasi militer khusus
Dari hasil pembahasan tersebut, pemerintah akhirnya memutuskan menempuh operasi militer khusus sebagai langkah pembebasan MV Sinar Kudus dan seluruh awaknya.
Langkah ini bukan berarti penyerbuan frontal, melainkan strategi gabungan antara negosiasi dan kesiapan militer untuk memastikan keselamatan sandera, sekaligus memberikan tekanan kepada perompak Somalia.
Pemerintah lalu mengerahkan dua kapal perang, yakni KRI Abdul Halim Perdanakusuma dan KRI Yos Sudarso, didukung pasukan khusus serta satu unit helikopter untuk mendukung misi.
SBY juga menyetujui pelibatan sejumlah satuan elite TNI dalam operasi tersebut. Pasukan yang diterjunkan berasal dari Korps Marinir, Kopassus, Kopaska, hingga Kostrad.
Setelah memperoleh lampu hijau dari pemerintah, TNI membentuk Satgas Merah Putih yang dipimpin Kolonel Laut (P) M Taufiqurochman.
Sementara itu, Letjen (Purn) Doni Monardo yang kala itu menjabat Wakil Komandan Jenderal Kopassus ditunjuk sebagai wakil komando satuan tugas pembebasan MV Sinar Kudus. Penunjukan tersebut dilakukan langsung oleh SBY.
Persiapan operasi
Persiapan operasi dimulai pada Minggu, 20 Maret 2011. Sehari kemudian, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono memberikan pengarahan terkait rencana operasi.
Pemerintah memutuskan memberangkatkan pasukan dari Jakarta menuju Kolombo, Sri Lanka, sebagai titik transit sebelum bergerak ke wilayah operasi.
Dua hari berselang, dua kapal perang beserta helikopter diberangkatkan dari Jakarta untuk memperkuat misi penyelamatan. Pasukan tiba di Kolombo pada 29 Maret 2011 sambil melakukan konsolidasi dan pengisian logistik.
Keesokan harinya, mereka kembali bergerak menuju perairan Somalia setelah pemerintah memperoleh informasi bahwa MV Sinar Kudus telah menjatuhkan jangkar.
Satgas Merah Putih akhirnya tiba di wilayah perairan Somalia pada 4 April 2011.
Setibanya di sana, pasukan segera melakukan pengumpulan informasi dan menyusun berbagai skenario cadangan. Hasil pemantauan helikopter menunjukkan kapal telah berlabuh menggunakan jangkar, kondisi yang belum pernah dihadapi negara lain dalam operasi penyelamatan serupa.
Selain itu, para awak kapal diketahui kerap dipindahkan sehingga keberadaan mereka sulit dipastikan secara lengkap.
Informasi lain menyebut setiap kapal sandera dijaga kelompok bersenjata khusus.
Pada masa itu, terdapat sekitar 15 hingga 20 kelompok perompak aktif di kawasan Somalia dengan struktur organisasi yang cukup rapi dan masing-masing beranggotakan sekitar 30 orang.
Dua hari kemudian, pasukan bergerak menuju Salalah, Oman, yang dijadikan pangkalan sementara untuk pengisian logistik sebelum kembali lagi ke perairan Somalia pada 12 April 2011.
Baca juga: Kedubes Palestina Kecam Penangkapan WNI Rombongan Global Sumud Flotilla oleh Israel: Itu Kriminal!
Negosiasi dan pengejaran
Mengetahui dinamika yang terjadi, pemerintah mulai menjalankan proses negosiasi dengan kelompok perompak. Negosiasi diisi dengan proses tawar-menawar yang rupanya berlangsung alot.
Para perompak sempat meminta kenaikan nilai tebusan yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp 40 miliar.
Setelah kesepakatan tercapai, uang tebusan dijatuhkan ke atas MV Sinar Kudus pada 30 April 2011.
Para perompak setidaknya membutuhkan waktu hampir 20 jam untuk menghitung uang tersebut.
Baca juga: Why SBY Keeps Silent over Sinar Kudus
Setelah mereka meninggalkan kapal pada 1 Mei 2011, pasukan Indonesia langsung melakukan pengejaran.
Kontak senjata sempat terjadi antara aparat dan kelompok perompak, namun seluruh awak MV Sinar Kudus berhasil selamat. Dalam baku tembak itu, empat perompak dilaporkan tertembak dan jatuh ke laut.
Setelah operasi selesai, MV Sinar Kudus dikawal KRI Yos Sudarso dan KRI Abdul Halim Perdanakusuma meninggalkan perairan Somalia menuju Oman.
Seluruh awak kapal akhirnya kembali ke Indonesia pada 7 Mei 2011 dalam keadaan selamat dan sehat. Secara total, WNI disandera selama 46 hari oleh perompak.
Misi dirahasiakan SBY 46 hari
Setelah berhasil diselamatkan, SBY akhirnya berbicara terkait misi rahasia itu.
Ia mengaku terpaksa harus bungkam selama dua bulan untuk mendukung keberhasilan operasi pembebasan yang disandera oleh perompak Somalia selama hampir 46 hari.
Menurutnya, operasi khusus memerlukan kerahasiaan dan keamanan. Pelaksanaannya juga memerlukan kecepatan dan pendadakan.
"Oleh karena itu, kalau kita obral apa yang akan atau sedang kita lakukan, sama saja kita memberi tahu musuh, lawan, untuk setiap saat bisa menggagalkan operasi kita dan bisa menghancurkan satuan kita sendiri," katanya saat menerima Satuan Tugas Merah Putih dan Duta Samudra I/2011, 15 tahun lalu.
SBY saat saat orasi ilmiah pada peringatan Dies Natalis ke-65 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur, Selasa (11/11/2025).
Ia juga membeberkan alasan mengapa Indonesia mengirimkan kekuatan lebih dari satu batalyon.
Langkah itu dilakukan lantaran Indonesia sudah menyiapkan segalanya untuk penyelamatan dan menghadapi skenario terburuk.
"Operasi dirancang untuk melakukan sesuatu yang lebih dari yang ditakdirkan Tuhan," tegas dia.
Kasus MV Sinar Kudus menjadi salah satu krisis penyanderaan WNI terbesar di luar negeri.
Selama lebih dari satu bulan, nasib para awak kapal berada dalam ketidakpastian di tengah negosiasi panjang antara pemerintah Indonesia dan kelompok perompak Somalia.
Kini, sejumlah WNI masih menunggu penyelamatan
Pada bulan kelima 2026 ini, para WNI mengalami penangkapan dan penyanderaan.
Tujuh WNI masih di bawah penangkapan aparat Israel di perairan Siprus sejak Senin (18/5/2026).
Di lokasi lain, empat ABK dari Indonesia yang menjadi korban pembajakan Kapal MT Honour 25 oleh perompak Somalia.
“Berdasarkan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber, dapat kami sampaikan bahwa kondisi kru WNI tersebut dalam keadaan yang sehat, kebutuhan logistik mereka terpenuhi, dan gaji mereka tetap dibayarkan,” kata Juru Bicara Kemenlu Vahd Nabyl Mulachela, dalam keterangannya melalui video kepada wartawan, Senin (18/5/2026).
Nabyl mengatakan, Kemenlu dan Perwakilan RI terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak di dalam dan luar negeri untuk menindaklanjuti kasus pembajakan Kapal MT Honour 25 tersebut.
Tag: #kilas #balik #penyelamatan #dari #perompak #somalia #sinar #kudus