Bebas Aktif atau Bebas Dilewati?
BERITA mengenai rencana pemberian akses lintasan udara bagi pesawat militer Amerika Serikat melalui wilayah udara Indonesia memunculkan perdebatan luas tentang arah politik luar negeri Indonesia.
Isu ini tampak teknis di permukaan, namun pembacaan semacam itu terlalu sederhana.
Akses lintasan militer bagi negara adidaya selalu memiliki arti geopolitik yang menyentuh inti dari bagaimana Indonesia memposisikan diri di tengah persaingan kekuatan global.
Sejak awal kemerdekaan, politik bebas aktif dirancang oleh Mohammad Hatta sebagai strategi bertahan bagi negara baru merdeka di tengah rivalitas blok besar dunia.
Indonesia tidak ingin menjadi satelit salah satu kekuatan. Pilihan tersebut bukan sikap pasif, melainkan memberikan ruang bagi Indonesia untuk menjalin hubungan luas tanpa terikat pada kepentingan militer kekuatan besar.
Baca juga: Islamabad Talks: Laga Ego Saudagar Vs Martir
Semangat tersebut diperkuat melalui Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955.
Dasasila Bandung menegaskan prinsip saling menghormati kedaulatan serta penolakan terhadap tekanan kekuatan besar.
Negara peserta memahami bahwa keterlibatan dalam orbit militer kekuatan besar selalu berakhir dengan pengikisan kedaulatan politik.
Prinsip tersebut tidak berarti menutup hubungan dengan negara besar. Indonesia tetap menjalin kerja sama militer, ekonomi, dan diplomatik dengan banyak pihak. Politik bebas aktif memungkinkan semua hubungan tersebut berjalan secara bersamaan tanpa menjadikan Indonesia bagian dari arsitektur militer negara mana pun.
Perdebatan terbaru muncul setelah laporan mengenai proposal lintasan udara militer Amerika Serikat beredar di media internasional.
Proposal tersebut mencakup akses lintasan udara bagi pesawat militer Amerika Serikat dalam berbagai operasi.
Skema semacam ini bukan sekadar izin penerbangan militer biasa, karena jalur udara menentukan kecepatan mobilisasi pasukan serta kemampuan operasi jarak jauh.
Letak geografis Indonesia membuat isu ini semakin sensitif. Kepulauan Indonesia berada di antara dua samudra besar serta di jalur pertemuan berbagai rute strategis dunia.
Posisi tersebut memberi nilai geopolitik yang sangat tinggi bagi negara mana pun yang ingin menghubungkan operasi militer di kawasan Pasifik dan Samudra Hindia.
Akses semacam itu dapat mengubah persepsi mengenai posisi Indonesia dalam arsitektur keamanan kawasan. Negara yang menyediakan jalur mobilitas militer bagi kekuatan besar sering dipandang sebagai bagian dari jaringan operasi mereka.
Situasi ini menjadi menarik jika dikaitkan dengan latar belakang kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang berasal dari lingkungan militer elite.
Dunia militer memahami dengan jelas arti jalur logistik serta koridor mobilitas militer dalam konflik modern. Namun, perdebatan mengenai proposal ini berlangsung relatif terbatas di ruang publik.
Kontras tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai prioritas kebijakan negara yang saat ini lebih tersedot pada agenda domestik seperti program makan bergizi gratis.
Baca juga: Durian Runtuh Amerika
Pendekatan diplomasi pemerintah terlihat menekankan pentingnya hubungan baik dengan berbagai negara sahabat. Pendekatan tersebut mencerminkan interpretasi tertentu terhadap politik bebas aktif yang berpotensi berubah menjadi sikap terlalu akomodatif.
Dalam tafsir baru ini, kemampuan menampung kepentingan berbagai negara sahabat dipandang sebagai indikator keberhasilan politik luar negeri.
Masalah muncul apabila keterbukaan tersebut meluas hingga menyentuh dimensi strategis seperti mobilitas militer.
Otonomi kebijakan nasional sulit dipertahankan apabila infrastruktur strategis negara digunakan dalam operasi militer kekuatan besar. Jarak strategis menjadi semakin tipis dalam situasi semacam itu.
Perdebatan mengenai lintasan udara militer Amerika Serikat memperlihatkan pergeseran tersebut secara jelas.
Politik bebas aktif tidak lagi dibaca sebagai prinsip menjaga jarak dari kepentingan militer negara besar. Prinsip tersebut tampak ditafsirkan sebagai kemampuan menampung berbagai kepentingan negara sahabat tanpa batas yang jelas.
Perubahan tafsir semacam ini membawa implikasi serius bagi arah kebijakan luar negeri Indonesia.
Politik bebas aktif ala Prabowo tampak dimaknai sebagai kesiapan menampung hampir semua kepentingan negara sahabat.
Dalam tafsir semacam ini, bebas aktif tidak lagi berfungsi sebagai pagar strategis, melainkan perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih sederhana: bebas dilewati.