Survei LSI: 53 Persen Responden Menilai Masyarakat Takut Bicara Politik
Direktur Eksekutif LSI, Djayadi Hanan, di Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (12/4/2026).(KOMPAS.com/BAHARUDIN AL FARISI)
18:30
12 April 2026

Survei LSI: 53 Persen Responden Menilai Masyarakat Takut Bicara Politik

- Sebanyak 53 responden dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) menilai masyarakat selalu atau sering takut berbicara politik.

Komponen survei soal kondisi kebebasan termaktub dalam survei berjudul “Evaluasi dan Komitmen Publik Terhadap Pancasila” dari LSI, dipaparkan Direktur Eksekutif LSI, Djayadi Hanan, di Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (12/4/2026).

Baca juga: Survei LSI Nyatakan 97 Persen Responden Merasa Bebas Menjalankan Agama

Responden diminta menyatakan pendapat terhadap sejumlah pertanyaan, salah satunya adalah pendapat atas pernyataan “sekarang masyarakat takut berbicara tentang masalah politik”.

Sebanyak 12 persen responden menyatakan masyarakat selalu takut berbicara masalah politik; 41 persen menyatakan masyarakat sering takut bicara politik; 28 persen menyatakan masyarakat jarang takut bicara politik; 14 persen menyatakan masyarakat tidak pernah takut bicara politik; dan sisanya ada 5 persen tidak tahu dan tidak menjawab.

Bila digabung antara 12 persen responden yang menilai masyarakat selalu takut bicara politik dan 41 persen responden yang menilai masyarakat sering takut bicara politik, maka angkanya menjadi 53 persen.

“Apakah sekarang merasa warga takut akan adanya penangkapan semena-mena? Kebanyakan warga merasa ketakutannya meningkat. Kemudian, apakah sekarang masyarakat takut bicara tentang politik? Kebanyakan mereka lebih takut bicara politik sekarang,” kata Djayadi Hanan.

Baca juga: Survei LSI: 68 Persen Publik Bisa Sebutkan 5 Sila dalam Pancasila

Sebanyak 58 persen responden menyatakan warga kini sering atau selalu takut terhadap penangkapan sewenang-wenang oleh aparat hukum (14 persen selalu dan 44 persen sering).

Soal persepsi bahwa pemerintah mengabaikan konstitusi atau perundang-undangan, hal itu dirasakan oleh 51 persen responden.

“Apakah sekarang pemerintah mengabaikan konstitusi perundang-undangan? Cukup banyak masyarakat yang mengatakan pemerintah mengabaikan konstitusi dan perundang-undangan,” kata Djayadi.

Baca juga: Survei LSI: 92 Persen Orang Indonesia Merasa Tahu Pancasila

Sementara itu, 35 persen responden menyatakan masyarakat jarang takut untuk ikut organisasi, meskipun masih ada 35 persen yang merasa sering atau selalu takut.

Di sisi lain, mayoritas responden (49 persen) menilai masyarakat tidak pernah takut menjalankan ajaran agama. 23 Persen merasa sering atau selalu takut dalam menjalankan ajaran agama.

Kebebasan dinilai masih terjaga

Sebanyak 92 persen responden mengaku puas terhadap kebebasan menjalankan agama, dengan rincian 33 persen sangat puas dan 59 persen cukup puas.

Tingkat kepuasan juga tinggi pada kebebasan berkumpul atau berserikat, yakni mencapai 83 persen (14 persen sangat puas dan 69 persen cukup puas).

Baca juga: Soroti Masalah Intoleransi, Menteri HAM Usul Bentuk RUU Kebebasan Umat Beragama

Sementara itu, kepuasan terhadap kebebasan berpendapat berada di angka 75 persen, serta kebebasan pers dan media sosial sebesar 75 persen.

Adapun kepuasan terhadap jaminan perlindungan hukum dan perlakuan setara di depan hukum mencapai 70 persen.

Metodologi survei

Responden survei ini mencakup seluruh warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah saat survei dilakukan.

Dari populasi tersebut, peneliti memilih 2.020 responden secara acak menggunakan metode multistage random sampling.

Dengan jumlah sampel itu, margin of error survei sebesar ±2,2 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, dengan asumsi simple random sampling.

Para responden diwawancarai secara tatap muka oleh pewawancara yang telah mendapatkan pelatihan.

Untuk menjaga kualitas data, tim melakukan pengawasan secara acak terhadap 20 persen sampel melalui kunjungan ulang ke responden (spot check).

Hasilnya, tidak ditemukan kesalahan berarti dalam proses wawancara.

Survei ini berlangsung mulai 4 Maret 2026 hingga 12 Maret 2026.

Tag:  #survei #persen #responden #menilai #masyarakat #takut #bicara #politik

KOMENTAR