SBY Minta PBB Tegas Hentikan Penugasan Prajurit UNIFIL di Lebanon
Susilo Bambang Yudhoyono Presiden ke-6 Republik Indonesia(KOMPAS.COM/FIRMAN TAUFIQURRAHMAN)
09:34
6 April 2026

SBY Minta PBB Tegas Hentikan Penugasan Prajurit UNIFIL di Lebanon

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyarankan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) tegas menghentikan penugasan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) imbas tewasnya tiga prajurit dari Indonesia.

SBY juga menyarankan PBB memindahkan lokasi penugasan bagi para prajurit yang ditugaskan untuk misi perdamaian.

"Dengan argumentasi ini, seharusnya PBB, New York segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini," kata SBY dalam unggahan akun X, @SBYudhoyono pada Minggu (5/4/2026).

Baca juga: Kisah SBY Kirim AHY Jadi Pasukan Perdamaian Pertama ke Lebanon

SBY mendorong Dewan Keamanan PBB harus segera bersidang dan bisa mengeluarkan resolusi yang tegas dan jelas.

Sebab, menurut SBY, tugas Kontingen Garuda XXIII/S yang sedang mengemban tugas di Libanon saat ini adalah untuk menjaga perdamaian atau peacekeeping, bukan membuat perdamaian atau peacemaking.

Ia mengatakan, peacekeeper tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak diberikan mandat untuk melaksanakan tugas-tugas pertempuran.

Hal ini juga diatur dalam Chapter 6 Piagam PBB.

Para penjaga perdamaian tersebut juga tidak sedang menjalankan Chapter 7 Piagam PBB yang tengah melakukan tugas untuk sebuah peacemaking.

Baca juga: Akui Tak Mudah, SBY Tetap Minta PBB Investigasi Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon

SBY menyebut, mereka bertugas di wilayah 'blue zone' atau bukan merupakan daerah pertempuran atau war zone.

"Kontingen Indonesia, hakikatnya bertugas di “Blue Line” yang memisahkan teritori Israel dengan teritori Libanon. Sekarang ini, kenyataannya yang semula mereka berada di sekitar “Blue Line” kini sudah berada di “war zone”, yang sehari-hari sudah berkecamuk pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah," lanjutnya.

Bahkan, menurut dia, ada kabar bahwa pasukan Israel sudah maju 7 km dari blue line tersebut.

"Keadaan ini tentu sangat berbahaya bagi “peacekeeper” karena setiap saat bisa menjadi korban dari pertempuran yang tengah berlangsung," imbuh SBY.

Di kesempatan ini, SBY menegaskan, dirinya mendukung langkah-langkah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang mendesak PBB untuk melakukan investigasi secara serius, jujur dan adil.

Meski investigasi dalam situasi pertempuran yang amat dinamis sering tidak mudah, namun harus tetap dapat dilaksanakan dengan harapan hasilnya dapat dinalar dan masuk akal.

"Indonesia berhak untuk itu. PBB (utamanya UNIFIL) dengan penuh rasa tanggung jawab, harus bisa menjelaskan mengapa sejumlah insiden beruntun yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka “peacekeeper” dari Indonesia itu terjadi," kata SBY.

Lebih lanjut, SBY turut menyampaikan dukacita mendalam atas gugurnya 3 prajurit TNI di UNIFIL.

Baca juga: SBY Berduka atas Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon: Hati Saya Tergetar...

Ia juga berdukacita karena masih ada sejumlah prajurit lain yang mengalami luka-luka.

Adapun ketiga prajurit yang gugur adalah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon.

"Memang seorang prajurit disumpah untuk siap mengorbankan jiwa dan raganya ketika tugas negara memanggil," kata SBY.

"Namun, saya bisa merasakan duka yang mendalam dari keluarga mereka (istri, anak dan orang tua) yang hadir di Cengkareng semalam. Saat saya ikut mengucapkan bela sungkawa yang mendalam kepada mereka, saya tahu arti air mata yang jatuh di pipi mereka," ujar dia.

Tag:  #minta #tegas #hentikan #penugasan #prajurit #unifil #lebanon

KOMENTAR