SKKL Rising 8 Mulai Digelar, Perkuat Jalur Digital IndonesiaSingapura Kapasitas 400 Tbps
- PT KETR melalui JMP dan PT MORA memulai penggelaran SKKL Rising 8 sepanjang 1.128,5 km menghubungkan Jakarta–Batam–Singapura.
- Penggelaran menggunakan kapal CLV Bentang Bahari berbendera Indonesia, menandai kemandirian infrastruktur kabel laut nasional.
- SKKL ini memiliki kapasitas ultra tinggi 400 Tbps, mendukung agenda strategis penguatan konektivitas digital Indonesia.
PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) melalui anak usahanya PT Jejaring Mitra Persada (JMP), menggandeng PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), resmi memulai penggelaran Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Rising 8.
Proyek strategis ini menghadirkan kabel fiber optik bawah laut sepanjang 1.128,5 kilometer yang menghubungkan Jakarta–Batam–Singapura, menjadi salah satu jalur konektivitas internasional terpenting di kawasan.
Tahap awal penggelaran difokuskan pada segmen Jakarta–Batam dengan panjang mencapai 1.053,5 kilometer.
Menariknya, penggelaran SKKL Rising 8 sepenuhnya dilakukan menggunakan kapal penggelar kabel berbendera Indonesia, Cable Laying Vessel (CLV) Bentang Bahari, menandai babak baru kemandirian nasional dalam pembangunan infrastruktur kabel laut.
SKKL Rising 8 mengusung teknologi repeatered submarine cable system berkapasitas ultra tinggi dengan total daya angkut hingga 400 Terabit per second (Tbps).
Dengan kapasitas tersebut, sistem ini menjadi salah satu kabel laut berkapasitas terbesar di tingkat regional.
Kabel bawah laut yang digunakan diproduksi oleh Norddeutsche Seekabelwerke GmbH (NSW) asal Jerman, pabrikan milik Prysmian Group yang telah berpengalaman lebih dari 125 tahun dalam pengembangan kabel laut global.
Sistem ini diperkuat 11 unit repeater berteknologi tinggi dari Alcatel Submarine Networks (ASN) Prancis, yang dirancang untuk menopang 16 fiber pairs dengan kapasitas minimum 400 Tbps.
Dari sisi regulasi, proyek SKKL Rising 8 telah mengantongi seluruh perizinan yang dipersyaratkan, termasuk Izin Lingkungan (AMDAL).
Seluruh proses penggelaran juga berada di bawah pengawasan ketat instansi pemerintah terkait, dengan penugasan pengawas resmi yang ikut berada di atas kapal.
Pemerintah pun memberikan dukungan penuh terhadap proyek ini.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi)menilai proyek ini sebagai elemen penting dalam mewujudkan kedaulatan dan kemandirian digital Indonesia, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta konektivitas global.
CLV Bentang Bahari sendiri telah mengantongi sertifikasi lengkap dari lembaga klasifikasi maritim internasional Det Norske Veritas (DNV), mulai dari Container Lifting Certified Equipment (CLCE), International Load Line Certificate (ILLC-IC), hingga Ballast Water Management Statement of Compliance (BWM-T-SoC).
Kapal sepanjang 94,65 meter ini memiliki kapasitas angkut hingga 2.400 ton kabel dan dilengkapi teknologi Dynamic Positioning DP-2, yang memungkinkan penggelaran kabel dilakukan secara presisi dan aman.
Bentang Bahari juga mengantongi berbagai notasi kelas DNV, termasuk E0 Notation, DP Notation, dan Cable Ship Notation, yang menegaskan kelayakannya untuk proyek kabel laut berskala besar.
Direktur Utama PT Ketrosden Triasmitra Tbk, Titus Dondi, menegaskan arti penting proyek ini bagi industri telekomunikasi nasional.
PerbesarSKkL Rising 8. [Triasmitra]“Penggelaran SKKL Rising 8 dengan CLV Bentang Bahari menandai era baru kemandirian Indonesia di sektor infrastruktur kabel laut,” ujar Titus dalam jumpa pers daring, Rabu (21/1/2026).
Ia menjelaskan, dengan kapasitas 25 Tbps per fiber pair serta kendali penuh atas operasional jaringan, Triasmitra optimistis proyek ini akan meningkatkan kualitas konektivitas digital Indonesia–Singapura sekaligus memperkuat posisi perusahaan sebagai pemain regional berstandar global.
“Kami berkomitmen menyelesaikan penggelaran segmen pertama ini tepat waktu pada akhir kuartal pertama 2026,” tambahnya.
Lebih jauh, SKKL Rising 8 dirancang untuk menjawab lonjakan kebutuhan bandwidth dan keandalan konektivitas lintas negara.
Sistem ini juga berfungsi sebagai jalur alternatif domestik dan internasional bagi penyelenggara Network Access Point (NAP), sehingga menghadirkan redundansi penting guna menjaga stabilitas infrastruktur digital nasional.
Penggelaran segmen pertama Jakarta–Batam ditargetkan rampung pada akhir kuartal I 2026.
Setelah itu, Triasmitra akan melanjutkan pengembangan SKKL Indonesia Tengah sepanjang 8.732 kilometer, yang ditargetkan mulai dikomersialisasikan pada 2027.
Tag: #skkl #rising #mulai #digelar #perkuat #jalur #digital #indonesiasingapura #kapasitas #tbps