Pelican Crossing Tegal Mampang Pernah Hanya Lima Detik, Pejalan Kaki Dipaksa Berlari
— Pelican crossing sejatinya dirancang sebagai fasilitas keselamatan bagi pejalan kaki.
Namun, fungsi tersebut justru dipertanyakan di Halte Tegal Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, setelah sebuah video viral memperlihatkan betapa singkatnya durasi lampu hijau penyeberangan yang dinilai membahayakan keselamatan warga.
Dalam rekaman yang beredar di media sosial, waktu yang tersedia bagi pejalan kaki untuk menyeberang disebut tak sampai lima detik. Video tersebut pertama kali diunggah akun Instagram @glensaimima dan dengan cepat menyita perhatian warganet.
Dalam keterangannya, pengunggah mengaku semula mengira durasi singkat itu hanya terjadi pada malam hari. Namun, saat dicek kembali keesokan paginya, kondisi tersebut disebut tetap sama.
“Di bawah lima detik! Nyawa taruhannya!” tulis akun tersebut.
Rekaman itu memperlihatkan pejalan kaki yang harus bergegas melintas di tengah arus lalu lintas yang masih padat.
Lampu hijau penyeberangan menyala sangat singkat, sementara sepeda motor dan mobil tampak mulai bergerak kembali ketika sebagian orang belum sepenuhnya mencapai sisi seberang jalan.
Memaksa pejalan kaki berlari
Endang (47), salah satu pejalan kaki yang rutin melintas di kawasan tersebut, membenarkan bahwa durasi lampu penyeberangan di lokasi itu sempat hanya sekitar lima detik.
“Iya bener, waktu itu pendek banget, rasanya baru kaki turun, lampu udah mau merah lagi," kata Endang saat ditemui di sekitar Halte Tegal Mampang, Rabu (14/1/2026).
Menurut Endang, durasi yang sangat singkat membuat aktivitas menyeberang berubah menjadi pengalaman yang menegangkan. Ia menilai waktu lima detik sama sekali tidak proporsional dengan lebar jalan dan kepadatan lalu lintas di lokasi tersebut.
Bahkan bagi orang dengan kondisi fisik yang masih sehat, waktu tersebut nyaris tidak memberi kesempatan untuk berjalan normal.
Endang mengaku harus langsung bergegas begitu menginjakkan kaki di zebra cross, tanpa sempat memastikan kondisi lalu lintas benar-benar aman.
"Lima detik mah bukan kecepatan lagi, itu mah kaya nyuruh orang lari. Saya orang sehat aja ngos-ngosan, apalagi yang udah tua. Itu kaya formalitas doang ada pelican crossing," ujarnya.
Menurut Endang, berjalan dengan kecepatan normal hampir mustahil dilakukan. Dalam satu siklus lampu hijau, ia mengaku harus berlari agar bisa mencapai seberang.
“Kalau jalan santai mah enggak keburu. Mau nggak mau ya lari," kata dia.
Menyeberang sambil panik
Bagi Endang, menyeberang dengan berjalan santai hampir mustahil dilakukan. Setiap kali lampu hijau menyala, ia harus bergegas agar tidak terjebak di tengah jalan.
Dalam kondisi lalu lintas yang padat, fokus pejalan kaki pun terpecah antara mengejar waktu dan menghindari kendaraan yang mulai bergerak.
Ia menyebutkan, rasa waswas selalu muncul karena kendaraan, khususnya sepeda motor, kerap melaju meski lampu penyeberangan pejalan kaki masih hijau.
"Takut motor sudah nyelonong duluan. Jadi nyebrang sambil was-was," katanya.
Situasi makin berisiko ketika lampu hijau keburu padam saat pejalan kaki masih berada di tengah jalan. Endang mengaku hal tersebut bukan kejadian sekali dua kali.
“Sering. Biasanya saya berhenti di tengah, di garis pembatas itu. Diam aja, nunggu mobil lewat deg-degan," katanya.
Tak jarang, ia memilih menunda penyeberangan dan menunggu siklus lampu berikutnya demi menghindari risiko yang lebih besar.
Tekanan psikologis pun muncul ketika suara klakson mulai terdengar dari kendaraan yang merasa mendapat prioritas jalan.
“Panik, pasti. Apalagi klakson bunyi-bunyi. Kaya kami yang salah, padahal lampunya yang pendek," ujar dia.
Motor kerap mendahului pejalan kaki
Dalam praktiknya, Endang menilai kendaraan tidak selalu memberi ruang bagi pejalan kaki meski lampu penyeberangan masih hijau.
Kondisi tersebut semakin berbahaya bagi kelompok rentan. Menurut Endang, durasi lima detik hampir mustahil jika harus menyeberang bersama anak-anak atau orang lanjut usia.
“Itu parah. Dulu lima detik mah mustahil. Orangtua bisa gemeteran kali di tengah jalan," kata dia.
Tak heran jika ia mengaku pernah memilih menyeberang di luar fasilitas resmi.
“Pernah. Karena mikir, toh sama-sama bahaya, mending nyebrang pas kosong," kata Endang.
Pengalaman serupa dirasakan Irna (56). Ia menilai durasi lima detik benar-benar di luar nalar dan menunjukkan minimnya empati terhadap pejalan kaki.
Irna mengaku harus berlari kecil setiap kali menyeberang. Perhatiannya justru terpecah antara menjaga keselamatan dan mengejar waktu.
“Harus lari kecil. Saya sering sambil setengah lari, setengah takut, soalnya sambil nengok kanan kiri. Padahal idealnya kan nyebrang itu ya nyebrang aja kan," katanya saat ditemui di Halte Tegal Mampang, Rabu.
Ia juga beberapa kali terpaksa berhenti di tengah jalan karena lampu keburu berubah.
Namun, menurut Irna, kondisi kini jauh membaik setelah durasi waktu penyeberangan diperpanjang menjadi sekitar 20 detik.
"Lebih aman, lebih nyaman. Setidaknya ada rasa dihargai sebagai pejalan kaki," kata dia.
Pernah menunggu dua kali di tengah terik
Sebelum durasi diperpanjang, Irna mengaku pernah menunggu hingga dua kali siklus lampu demi merasa aman meski melelahkan.
“Iya, pernah. Kadang saya nunggu satu kali, lihat rame banget, akhirnya mundur lagi. Nunggu dua kali malah capek, berdiri lama, panas," ujarnya.
Kondisi tersebut berubah setelah durasi lampu diperpanjang menjadi sekitar 20 detik. Ia merasakan perbedaan yang signifikan.
“Sekarang jauh lebih manusiawi. Saya bisa jalan biasa, Walau masih harus waspada karena di sini rame tapi setidaknya dikasih waktu," katanya.
Pelican crossing yang dulu terasa untuk kendaraan
Sementara itu, Rizky (25) menilai durasi lima detik mencerminkan cara pandang yang tidak berpihak pada pejalan kaki. Ia merasa keberadaan pelican crossing saat itu sekadar formalitas.
Menurut Rizky, fokus utama pejalan kaki justru bergeser dari keselamatan menjadi sekadar mengejar waktu.
“Jadinya fokus bukan ke keselamatan, tapi ke ngejar waktu. Padahal idealnya orang nyebrang itu sambil waspada, bukan sambil panik," ujar dia.
Ia mengaku beberapa kali berada di posisi rawan ketika kendaraan sudah bersiap melaju sementara dirinya masih berada di tengah jalan.
“Rasanya aneh, karena kita pakai fasilitas resmi tapi malah merasa bersalah," ujarnya.
Fasilitas resmi yang justru dihindari
Rizky menyebut tak jarang ia memilih menunggu dua siklus lampu atau bahkan menyeberang di luar pelican crossing.
“Kadang saya sengaja nunggu dua kali, apalagi kalau rame. Kadang nyebrang aja kalau emang kosong," kata dia.
Ia menilai durasi lima detik bersifat tidak inklusif. Namun, setelah durasi diperpanjang, Rizky merasakan fungsi pelican crossing yang sesungguhnya.
“Sekarang baru kerasa pelican crossing itu fungsional. 20 detik itu bukan lama, tapi cukup orang bisa jalan normal, dan enggak ngerasa dikejar waktu. Perbedaannya kerasa banget," ujarnya.
Meski demikian, ia menilai perbaikan waktu saja belum cukup jika tidak dibarengi dengan disiplin pengendara.
“Sekarang jauh lebih enak. Nggak perlu lari-lari lagi. Tapi ya tetep harus waspada, karena motor kadang masih suka nyelonong,” kata dia.
Dishub sudah lakukan perbaikan
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo, mengatakan pihaknya telah melakukan perbaikan pada pelican crossing di Halte Tegal Mampang.
Menurut dia, perbaikan tidak hanya mencakup penyesuaian durasi waktu penyeberangan, tetapi juga penggantian perangkat pelican crossing.
“Pada 9 Januari (2026) telah dilakukan perbaikan berupa penggantian mesin pelican crossing dan penyesuaian durasinya dengan pnambahan sebesar 15-20 detik," kata Syafrin saat dikonfirmasi, Rabu.
Penggantian mesin dilakukan untuk memastikan sistem kembali bekerja sesuai standar keselamatan lalu lintas.
Durasi tidak ditentukan secara seragam
Kepala Unit Pengelola Sistem Pengendalian Lalu Lintas (UP SPLL) Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Edy Sufa'at, menjelaskan sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan dalam menentukan durasi lampu penyeberangan.
Ia menegaskan durasi waktu penyeberangan pejalan kaki tidak ditetapkan secara seragam untuk semua lokasi.
Setiap pelican crossing memiliki karakteristik yang berbeda sehingga pengaturan waktunya disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Menurut Edy, penyesuaian ini dilakukan untuk menyeimbangkan keselamatan pejalan kaki dengan kelancaran arus lalu lintas kendaraan.
“Pertimbangan durasi waktu pada pelican crossing antara lain, Lebar jalan, volume pejalan kaki, karateristik penyeberang, dan lokasi," kata dia.
Ia menekankan bahwa durasi waktu menyeberang di setiap pelican crossing bisa berbeda.
“Durasi waktu menyeberang masing-masing pelican crossing berbeda," katanya.
Selain faktor teknis seperti lebar jalan dan volume pejalan kaki, Edy menyebut lokasi pelican crossing juga menjadi pertimbangan utama.
Area dengan aktivitas tinggi dinilai membutuhkan durasi penyeberangan yang lebih panjang karena intensitas pejalan kaki yang tinggi serta keberadaan pengguna jalan dengan mobilitas terbatas.
“Lokasi dapat dijadikan sebagai dasar penentuan durasi waktu penyeberangan," ujar dia.
Tag: #pelican #crossing #tegal #mampang #pernah #hanya #lima #detik #pejalan #kaki #dipaksa #berlari