Kenapa Perfeksionis itu Buruk? Berikut 9 Bahaya yang Timbul dari Mengejar Kesempurnaan
Ilustrasi- Pefeksionis dengan tugas yang tak kunjung selesai/Freepik
06:50
5 Mei 2024

Kenapa Perfeksionis itu Buruk? Berikut 9 Bahaya yang Timbul dari Mengejar Kesempurnaan

Di dunia yang sering menilai keunggulan dan ketelitian, keinginan akan kesempurnaan tampak seperti suatu hal yang mulia.

Pada dasarnya, apa yang salah dengan menjadi perfeksionis yang mengejar kesempurnaan?

Masalah dalam mengejar kesempurnaan muncul ketika keinginan ini menjadi merugikan, membawa pada kegagalan daripada kesuksesan. Inilah tepatnya masalah yang dihadapi oleh perfeksionis.

Perfeksionisme ditandai dengan mentalitas di mana sesuatu hanya bisa sempurna atau dianggap sebagai kegagalan.

Ini muncul dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pekerjaan hingga usaha pribadi, dan sering kali datang dengan biaya yang besar.

Melansir Succes, berikut adalah sembilan cara di mana perfeksionisme mungkin membuka jalan menuju kegagalan:

1. Pekerjaan yang Tidak Pernah Selesai

Bagi perfeksionis, sebuah proyek tidak pernah benar-benar selesai karena tidak memenuhi standar sempurna mereka yang sulit dicapai.

Upaya terus-menerus untuk mencapai kesempurnaan ini menghasilkan revisi yang tidak pernah berakhir dan penundaan dalam berbagi ide atau produk, sehingga menghambat pertumbuhan pribadi dan profesional.

2. Stres dan Ketidakpuasan

Pengejaran tanpa henti terhadap kesempurnaan secara inheren menimbulkan stres, karena perfeksionis terus-menerus dihantui oleh ketakutan tidak mencapai standar yang diinginkan.

Standar yang tidak tercapai ini merampas mereka dari kegembiraan dan kepuasan yang diperoleh dari pekerjaan mereka, meninggalkan mereka selalu tidak puas.

3. Menghindari Risiko

Meskipun menginginkan kesempurnaan, segala perbuatan perfeksionisme didorong oleh rasa takut akan kegagalan. Ketakutan ini sering kali mengarah pada enggan untuk mengambil risiko.

Dengan perfeksionis mengadopsi pola pikir 'jika saya tidak bisa melakukannya dengan sempurna, maka saya tidak akan mencoba sama sekali.' Akibatnya, peluang untuk pertumbuhan dan kesuksesan terlewatkan.

4. Kreativitas Terkekang

Tekanan untuk mencapai kesempurnaan menghambat kreativitas dan inovasi.

Kecemasan yang konstan tentang menghindari kesalahan menekan imajinasi, menghambat kemampuan untuk berpikir di luar kotak dan menjelajahi gagasan-gagasan baru yang penting untuk kemajuan.

5. Perasaan Senang Menguntungkan Orang Lain

Perfeksionis sering mencari validasi dari orang lain, berusaha membuat semua orang senang.

Dan ketika berusaha menyenangkan orang lain, muncul banyak kesulitan dalam mengambil keputusan dan menghindari percakapan penting karena takut akan membuat orang lain kesal. Karena itu, pekerjaan perfeksionis sering kali lumpuh.

6. Kritik Berlebihan

Perfeksionis sangat kritis terhadap diri sendiri dan orang lain, memperpetuasi budaya penilaian dan negativitas.

Pola pikir kritis ini tidak hanya merusak produktivitas tim tetapi juga berkontribusi pada konflik interpersonal yang akhirnya menghambat kesuksesan.

7. Sulit Mendelegasikan Tugas

Keyakinan pada satu cara yang benar dalam melakukan sesuatu membuat sulit bagi perfeksionis untuk mendelegasikan tugas kepada orang lain.

Rasa enggan dalam mempercayai metode orang lain memunculkan mikro manajemen dan ketidakefisienan, menyebabkan stres yang tidak perlu dan menghambat kemajuan.

8. Personalisasi Umpan Balik

Perfeksionis mengaitkan harga diri mereka dengan validasi eksternal dan kinerja tanpa cacat. Setiap bentuk kritik diinternalisasi, menyebabkan perasaan kegagalan dan ketidakmampuan.

Ketidaknyamanan perfeksionis terhadap umpan balik menghalangi pertumbuhan dan perbaikan, sehingga memperpanjang siklus stagnasi.

9. Etos Kerja Tanpa Henti

Perfeksionis mempercayai bahwa istirahat hanya pantas setelah pekerjaan selesai dengan sempurna.

Namun, karena kesempurnaan tidak dapat dicapai, pola pikir ini menyebabkan kerja berlebihan yang kronis dan kelelahan, sehingga membahayakan kesejahteraan pribadi dan kesuksesan profesional.

Sebagai kesimpulan, meskipun mengejar kesempurnaan mungkin tampak mulia, seringkali terbukti sebagai hambatan daripada pendorong kesuksesan.

Mengenali bahaya-bahaya perfeksionisme adalah penting bagi individu untuk melepaskan diri dari cengkeraman dan memeluk pendekatan hidup dan kerja yang lebih seimbang dan memuaskan.

Editor: Hanny Suwindari

Tag:  #kenapa #perfeksionis #buruk #berikut #bahaya #yang #timbul #dari #mengejar #kesempurnaan

KOMENTAR