6 dari 10 Anak Muda di Indonesia Suka ''Self-Diagnose'' Penyakit, Waspadai Risikonya
- Fenomena mendiagnosis penyakit secara mandiri (self-diagnose) menggunakan internet atau kecerdasan buatan (artificial intelligence) kini menjadi kebiasaan baru di kalangan warga perkotaan.
Alih-alih mengunjungi fasilitas kesehatan, banyak individu menjadikan layar ponsel pintar mereka sebagai pintu pertama untuk mencari tahu penyakit yang sedang diderita.
Pergeseran perilaku ini ternyata menyimpan risiko yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Baca juga: Alasan Jangan Melakukan Self Diagnose Kesehatan Mental
Sebuah temuan terbaru dari Health Collaborative Center (HCC) membuktikan bahwa kebiasaan tersebut sudah berada di tahap yang perlu diwaspadai karena menyangkut standar kesehatan masyarakat secara luas.
"Enam dari 10 anak muda urban lebih memilih untuk swadiagnostik ketika ada keluhan kesehatan pertama kali, dan enggak akan langsung buru-buru ke dokter," ujar Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH selaku Ketua Peneliti dan Pendiri HCC, dalam sesi diskusi di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Bahaya tersembunyi di balik kemudahan diagnosis digital
Mesin pencari jadi rujukan utama
Ketergantungan terhadap instrumen digital terlihat dari profil 448 responden usia produktif di bawah 39 tahun yang diteliti.
Sebanyak 99,5 persen dari mereka mengakses internet harian melalui ponsel pintar, dengan 23 persen di antaranya menghabiskan waktu lebih dari enam jam per hari.
"Kebayang algoritma itu udah jadi referensi kesehatan utama anak muda sekarang di bawah 39 tahun," ujar Ray.
Profil pendidikan dan ekonomi mereka tergolong mapan, dengan mayoritas berpendidikan di atas SMA dan sarjana, bahkan 25 persen merupakan lulusan S2 ke atas.
Dari sisi penghasilan, 61 persen responden memiliki gaji setara atau sedikit di atas UMR, dan 17 persen berpenghasilan melampaui Rp 10 juta per bulan.
"Malah mereka lebih tinggi risikonya untuk menggunakan self-diagnostic dibanding ke dokter," tutur Ray.
Baca juga: Sering Tanpa Gejala, Mayapada Hospital Bandung Hadirkan Layanan Deteksi Dini Penyakit Liver
Status darurat kesehatan masyarakat
Sebanyak 75 persen dari total responden berasal dari lima kota besar, yakni Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta, sedangkan sisanya tersebar di 12 kota urban lainnya.
Dari kelompok ini, 59,8 persen anak muda lebih memilih swadiagnostik sebagai langkah pertama.
"Suatu perilaku kesehatan kalau sudah di atas 40 persen itu dianggap sebagai public health concern," terang Ray.
Angka yang menyentuh hampir 60 persen tersebut telah melampaui batas indikator aman epidemiologi dari World Health Organization (WHO).
Kondisi ini membuat kebiasaan mendiagnosis penyakit lewat internet masuk ke dalam kategori masalah kesehatan masyarakat berskala luas.
"Jadi, studi HCC ini mengatakan bahwa self-diagnostic pada anak muda urban di Indonesia sudah punya risiko public health concern," tegas Ray.
Literasi digital tidak sepadan
Tingginya angka penggunaan mesin pencari untuk urusan medis ternyata berbanding terbalik dengan pemahaman literasi digital.
Pengukuran menggunakan instrumen eHEALS menunjukkan 45 persen anak muda memiliki literasi kesehatan digital yang rendah.
Kondisi ini memperbesar peluang masyarakat menelan informasi medis secara mentah tanpa bisa menyaring fakta secara akurat.
Risiko diagnosis keliru
Ancaman nyata dari diagnosis melalui layar ponsel adalah ketidakmampuan kecerdasan buatan memeriksa kondisi fisik pasien secara riil.
Ray menuturkan bahwa algoritma sangat rentan membuat pengguna salah menafsirkan keluhan ringan menjadi penyakit berat.
"Yang pertama adalah pasti akan ada risiko over diagnosis yang sangat tinggi," ucap dia.
Rekomendasi dari mesin pembaca juga sering memicu kecemasan kesehatan yang berlebihan atau cyberchondria.
Seseorang akan terus mencari pembenaran atas penyakit yang diyakini sedang diderita tanpa adanya pembuktian medis secara langsung.
"Orang merasa bahwa apa pun rekomendasi kata per kata yang keluar dari mesin algorithm itu memberikan kecemasan kesehatan," kata Ray.
Baca juga: Jangan Asal, Hati-hati Self Diagnosis Hanya Bermodal Internet
Tahapan medis yang terlewati
Pemeriksaan klinis yang akurat selalu membutuhkan proses evaluasi mendalam yang tidak bisa digantikan oleh mesin pembaca.
Tenaga medis wajib menempuh serangkaian langkah khusus kepada pasien untuk menetapkan sebuah penyakit.
Tahapan tersebut mencakup anamnesis keluhan utama, inspeksi fisik, palpasi, hingga perkusi dan auskultasi.
Langkah penting ini secara otomatis dihilangkan ketika seseorang sekadar mengetik keluhan di perangkat lunak.
"Di algoritma, lima langkah itu dilewati. Bayangin teman-teman. Hanya dengan mengambil kata, mengambil data dari mana aja," ucap Ray.
Ketiadaan pemeriksaan fisik yang menyeluruh membuat hasil tebakan mesin ini tidak bisa dijadikan patokan utama yang sah.
Teknologi kecerdasan buatan dan mesin pencari sebaiknya tidak digunakan untuk mengambil alih keahlian medis yang sesungguhnya.
"Tapi tetap, ujung-ujungnya diagnostik hanya boleh dilakukan oleh tenaga kesehatan," pungkas dia.
Baca juga: Sadari, 5 Risiko Lakukan Diagnosis Kesehatan Mental Sendiri
Tag: #dari #anak #muda #indonesia #suka #self #diagnose #penyakit #waspadai #risikonya