Apa Itu Gaslighting? Istilah yang Ramai Disebut dalam Polemik MC LCC 4 Pilar
Polemik dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI masih ramai diperbincangkan di media sosial.
Selain soal keputusan juri, perhatian publik juga tertuju pada ucapan MC yang dinilai sebagian warganet sebagai bentuk gaslighting.
"Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja, nanti bisa dilihat tayangan ulangnya," ujar MC LCC 4 Pilar, Shindy Lutfiana, dalam video yang beredar di media sosial.
Ucapan itu muncul ketika peserta menyampaikan keberatan atas penilaian lomba.
Namun, sebagian netizen menilai respons tersebut terdengar meremehkan perasaan peserta dan membuat pengalaman yang mereka rasakan seolah tidak valid.
"Nyagka ga lu di-gaslighting juri + MC sekaligus??," tulis @j******* di X.
"MC dan JURI gaslighting ke peserta," kata akun @kmn******.
Lalu, sebenarnya apa itu gaslighting?
Baca juga: Berkaca dari Siswi SMAN 1 Pontianak, Psikolog: Speak Up Bentuk Keberanian Moral
Apa Itu Gaslighting?
Menurut ensiklopedia Britannica, gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis yang membuat seseorang perlahan meragukan ingatan, persepsi, atau penilaiannya sendiri.
Istilah ini berasal dari drama berjudul Gas Light pada 1938 yang kemudian diadaptasi menjadi film Gaslight tahun 1944.
Ceritanya tentang seorang suami yang terus memanipulasi istrinya hingga sang istri merasa dirinya kehilangan kewarasan.
Dalam dunia psikologi modern, gaslighting biasanya merujuk pada pola perilaku yang dilakukan berulang kali untuk membuat seseorang mempertanyakan realitas yang ia rasakan.
Dikutip dari Cleveland Clinic, psikolog Chivonna Childs, PhD, menjelaskan bahwa gaslighting bukan sekadar berbohong atau berbeda pendapat.
Perilaku ini termasuk manipulasi emosional yang membuat seseorang merasa pikirannya tidak valid atau apa yang ia alami sebenarnya tidak terjadi.
"Gaslighting adalah bentuk manipulasi emosional untuk membuat Anda merasa seolah-olah perasaan Anda tidak valid, atau bahwa apa yang Anda pikir terjadi tidak benar-benar terjadi," kata Dr. Childs.
"Seiring berjalannya waktu, Anda mulai mempertanyakan harga diri, harga diri, dan kapasitas mental Anda," tambahnya.
Gaslighting biasanya terjadi secara terus-menerus dan membuat korban perlahan kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri.
Mengapa Kalimat Tertentu Bisa Terasa Menyangkal Perasaan?
Dalam praktik sehari-hari, perilaku yang dianggap menyerupai gaslighting sering muncul lewat kalimat seperti:
- “Kamu terlalu sensitif.”
- “Itu cuma perasaanmu saja.”
- “Kamu salah ingat.”
- “Kamu berlebihan.”
Dikutip dari Medical News Today, kalimat semacam itu dapat membuat seseorang merasa pengalaman atau emosinya tidak valid, terutama jika terjadi berulang kali.
Namun, para psikolog juga mengingatkan pentingnya membedakan antara komunikasi yang kurang empatik dengan gaslighting sebagai manipulasi psikologis yang serius.
Sebab, tidak semua ucapan yang menyinggung atau defensif memiliki tujuan membuat orang lain meragukan realitasnya.
Baca juga: Remaja Berani Bicara di Depan Otoritas, Tanda Perkembangan Psikologi yang Sehat
Mengapa Istilah Ini Banyak Dibicarakan?
Popularitas istilah gaslighting meningkat karena masyarakat kini semakin akrab dengan isu kesehatan mental dan validasi emosi.
Media sosial juga membuat publik lebih cepat mengenali pola komunikasi yang dianggap meremehkan pengalaman seseorang.
Dalam konteks polemik LCC 4 Pilar, diskusi tentang gaslighting akhirnya meluas menjadi pembicaraan soal bagaimana orang dewasa merespons keberatan remaja, pentingnya mendengar sudut pandang peserta, serta cara berkomunikasi di ruang publik.
Tag: #gaslighting #istilah #yang #ramai #disebut #dalam #polemik #pilar