9 Kebiasaan Setelah Kerja yang Bisa Merusak Hubungan, Sadari Sebelum Terlambat
- Tekanan pekerjaan, target harian, hingga kelelahan fisik sering kali terbawa hingga ke rumah dan memengaruhi kualitas hubungan dengan pasangan.
Masalahnya bukan semata pada stres kerja yang dialami, melainkan bagaimana seseorang merespons stres tersebut saat bersama pasangan.
Menurut psikolog klinis sekaligus Associate Professor of Psychiatry di University of Massachusetts Medical School, Francheska Perepletchikova, banyak hubungan mengalami tekanan karena kebiasaan maladaptif yang terbentuk akibat stres kerja.
Baca juga: 8 Pola Komunikasi Toxic yang Merusak Hubungan dan Cara Mengatasinya
“Tekanan umum dalam hubungan romantis sering kali melibatkan kebiasaan tidak sehat yang terbentuk dari stres pekerjaan,” ujarnya seperti disadur Parade, Kamis (7/5/2026).
9 Kebiasaan buruk setelah kerja yang bisa merusak hubungan
1. Langsung meluapkan keluhan tanpa melihat kondisi pasangan
Setelah menjalani hari yang melelahkan, banyak orang merasa perlu segera meluapkan semua keluh kesah kepada pasangan.
Meski terlihat wajar, kebiasaan ini bisa menjadi beban emosional apabila dilakukan terus-menerus tanpa mempertimbangkan kondisi pasangan.
Psikolog berlisensi Brittany McGeehan menjelaskan, meluapkan emosi secara otomatis dapat membuat pasangan merasa kewalahan.
“Melampiaskan stres hari itu memang terasa perlu, tetapi melakukannya secara otomatis bisa membuat pasangan kewalahan,” ujarnya.
Sebelum bercerita, ada baiknya bertanya lebih dulu apakah pasangan sedang memiliki kapasitas untuk mendengarkan.
2. Memendam semua stres sendirian
Di sisi lain, sebagian orang memilih diam dan menahan semua tekanan kerja sendiri. Mereka berpikir tidak membicarakan masalah pekerjaan adalah cara terbaik agar pasangan tidak ikut terbebani.
Padahal, menurut Perepletchikova, kebiasaan ini justru bisa menjadi bentuk sabotase diri.
“Mengabaikan stres adalah ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya untuk menghancurkan diri,” katanya.
Baca juga: Kebiasaan Sebelum Tidur yang Bisa Merusak Hubungan dengan Pasangan
Memendam masalah hanya membuat tekanan semakin besar karena tidak ada ruang sehat untuk memproses emosi.
Komunikasi terbuka tetap diperlukan agar pasangan memahami kondisi satu sama lain.
3. Sibuk scrolling media sosial daripada mengobrol
Sepulang kerja, banyak orang langsung mengambil ponsel untuk scrolling media sosial sebagai cara melepas penat.
Meski terlihat seperti aktivitas santai, kebiasaan ini bisa mengurangi kualitas interaksi dengan pasangan.
McGeehan menyebut kehadiran fisik tanpa keterlibatan emosional mengirim pesan halus berupa ketidakpedulian.
“Hadir secara fisik tetapi absen secara mental memberi pesan halus berupa ketidaktertarikan,” ungkap dia.
Jika terus dilakukan, kedekatan emosional perlahan dapat memudar meski pasangan masih berada di ruangan yang sama.
4. Tetap berada dalam mode kerja sepanjang malam
Sebagian orang sulit berhenti memikirkan pekerjaan setelah pulang ke rumah. Mereka masih sibuk memikirkan target, memecahkan masalah kantor, atau terus membahas urusan profesional.
Akibatnya, suasana rumah terasa seperti perpanjangan kantor, bukan tempat beristirahat.
McGeehan menyebutkan, langsung masuk ke mode problem solving membuat ruang emosional dalam hubungan mengecil.
Pasangan yang ingin didengar bisa merasa justru sedang dihakimi atau diberi solusi tanpa empati.
5. Tidak menghargai kebutuhan ruang pribadi pasangan
Setelah hari yang melelahkan, tidak semua orang ingin langsung berbicara atau berinteraksi intens. Sebagian membutuhkan waktu tenang untuk memulihkan energi.
Namun, ada pasangan yang justru langsung mengajak bicara panjang atau meluapkan energi sosialnya.
Menurut Perepletchikova, hal ini bisa melelahkan pasangan yang sedang membutuhkan ruang.
Komunikasi mengenai kebutuhan waktu sendiri menjadi penting agar tidak muncul kesalahpahaman.
Baca juga: 4 Tanda Cemburu yang Toxic dan Merusak Hubungan, Kenali Sebelum Terlambat
6. Terlalu sibuk hingga lupa membangun koneksi
Rutinitas setelah kerja sering kali diisi daftar tugas lain seperti memasak, mengurus anak, atau menyelesaikan pekerjaan tambahan.
Kesibukan tanpa jeda membuat pasangan kehilangan kesempatan membangun koneksi sederhana. McGeehan menekankan, hubungan sehat dibangun dari momen kecil yang konsisten.
“Pelukan singkat, berjalan bersama, atau percakapan singkat yang disengaja sudah cukup untuk membangun ulang koneksi,” katanya.
7. Tidak konsisten menjalankan tanggung jawab rumah tangga
Kelelahan kerja kadang dijadikan alasan untuk mengabaikan tugas rumah secara terus-menerus.
Jika berlangsung sesekali mungkin bisa dimaklumi, tetapi jika menjadi pola, hal ini dapat memicu rasa kesal.
Perepletchikova menilai, ketidakkonsistenan dalam tanggung jawab rumah tangga dapat memberi kesan kurang menghargai pasangan. Hubungan yang sehat membutuhkan kontribusi seimbang dari kedua belah pihak.
8. Mengabaikan masa transisi dari kerja ke rumah
Banyak pasangan mengharapkan pasangannya langsung berubah dari stres kerja menjadi santai dalam hitungan menit. Padahal, transisi emosional membutuhkan waktu.
McGeehan mengatakan harapan instan ini justru memicu frustrasi. Menurutnya, ritual kecil seperti duduk tenang selama lima menit atau mandi setelah pulang kerja bisa membantu tubuh memberi sinyal bahwa fase kerja telah selesai.
9. Menjadikan media sosial pelarian utama
Menggunakan media sosial untuk relaksasi sesekali tidak masalah. Namun, jika setiap malam dihabiskan untuk scrolling berjam-jam, kebiasaan ini dapat merusak hubungan.
Perepletchikova menyatakan, media sosial sering membuat orang terjebak dalam perbandingan sosial yang memengaruhi suasana hati.
Hal ini dapat memperburuk stres, menurunkan kualitas tidur, dan secara tidak langsung memengaruhi hubungan dengan pasangan.
Membangun kebiasaan setelah kerja yang lebih sehat bukan soal kesempurnaan, melainkan konsistensi dalam menciptakan ruang aman bagi hubungan.
Baca juga: 3 Alasan Mengapa Internet Bisa Merusak Hubungan Romantis
Tag: #kebiasaan #setelah #kerja #yang #bisa #merusak #hubungan #sadari #sebelum #terlambat