Kisah Kipli Menghapus Stigma Negatif Anak Punk, Mandiri dan Tetap Merawat Diri
Kisah Kipli, anak punk yang hidup mandiri dan bekerja di depo sayur, mematahkan stigma negatif lewat bekerja dan tetap merawat diri.(dok. Ida Setya/Kompas.com)
13:35
22 April 2026

Kisah Kipli Menghapus Stigma Negatif Anak Punk, Mandiri dan Tetap Merawat Diri

Gaya hidup anak punk kerap dilekatkan dengan berbagai stigma negatif, mulai dari dianggap urakan, hidup di jalanan, hingga dinilai tidak menjaga kebersihan diri.

Namun, realitas di lapangan tidak selalu demikian.

Hafid (22) atau yang akrab disapa Kipli, pemuda asal Pemalang, Jawa Tengah, menjadi salah satu contoh yang mematahkan anggapan tersebut.

Kini ia merantau ke Solo dan bekerja di sebuah depot sayur, menjalani keseharian layaknya pekerja pada umumnya, sekaligus tetap mempertahankan identitasnya sebagai anak punk.

Berawal dari rasa penasaran

Kipli mengaku mulai mengenal punk sejak duduk di bangku SMP. Lingkungan tempat tinggalnya kala itu cukup akrab dengan komunitas punk, sehingga menumbuhkan rasa penasaran.

“Awalnya saya juga melihat anak punk itu hidupnya di jalan dan tidak jelas. Tapi setelah dipelajari, ternyata tidak sesederhana itu,” ujarnya saat ditemui Kompas.com di Solo, Selasa (21/4/2026).

Seiring waktu, pandangannya berubah. Ia mulai memahami bahwa punk bukan sekadar gaya berpakaian atau penampilan nyentrik, melainkan juga cara pandang hidup.

Baca juga: Cerita Alfina Rahmatia: Dibesarkan Mandiri Sejak Kecil, Kini Jadi PhD Mother di Turki

Punk sebagai identitas dan cara hidup

Bagi Kipli, menjadi anak punk berarti berani mandiri dan bertanggung jawab atas hidup sendiri. Prinsip ini ia pegang teguh dalam kesehariannya.

Keputusan itu membawanya ke Solo, tempat ia kini bekerja sekaligus melanjutkan hidup dengan caranya sendiri.

Ia kini bekerja di depot sayur milik rekannya, Hilman Ramadhon, yang ia temui di komunitas vespa.

Setiap pukul 5 pagi, Kipli pergi ke pasar untuk berbelanja sayuran kebutuhan pelanggan.

“Yang penting bisa mencukupi kebutuhan sendiri. Mau bekerja apa saja, yang penting usaha dan halal, tidak merugikan orang lain,” kata dia.

Nilai kemandirian tersebut menjadi salah satu fondasi utama dalam gaya hidup punk yang ia jalani.

Baginya, bertahan hidup dari usaha sendiri jauh lebih penting daripada sekadar penampilan luar.

Fashion sebagai bentuk ekspresi

Tak bisa dimungkiri, fashion menjadi bagian penting dari identitas anak punk. Kipli pun mengakui hal tersebut.

Menurut dia, atribut seperti jaket, sepatu boots, hingga rambut mohawk bukan sekadar gaya, melainkan penanda identitas.

“Itu bentuk ekspresi diri, biar orang tahu kita punk,” ujarnya.

Menariknya, sebagian besar atribut yang ia gunakan dibuat sendiri. Ia merancang dan memodifikasi pakaiannya dengan bahan sederhana, menunjukkan sisi kreatif yang juga lekat dengan budaya punk.

Baca juga: Berawal dari Hujatan, Topik Sudirman Inisiasi Movement Gendut Berlari

Kisah Kipli, anak punk yang hidup mandiri dan bekerja di depo sayur, mematahkan stigma negatif lewat bekerja dan tetap merawat diri.dok. Ida Setya/Kompas.com Kisah Kipli, anak punk yang hidup mandiri dan bekerja di depo sayur, mematahkan stigma negatif lewat bekerja dan tetap merawat diri.

Menepis stigma yang melekat

Salah satu stigma yang paling sering ia rasakan adalah anggapan bahwa anak punk identik dengan hidup kotor dan tidak terurus.

Kipli menilai, pandangan tersebut muncul karena masyarakat hanya melihat sebagian kecil realitas.

“Padahal tidak semua seperti itu. Saya tetap mandi setiap hari, tidur di dalam rumah, kerja juga seperti biasa,” katanya.

Ia juga mengaku pernah mendapat perlakuan kurang menyenangkan, seperti dibicarakan atau dipandang aneh saat berada di tempat umum. Namun, hal itu tidak membuatnya gentar.

Menurut Kipli, cara terbaik untuk melawan stigma adalah dengan menunjukkan sikap dan tindakan nyata.

“Kita buktikan saja kalau punk juga bisa kerja, bisa mandiri,” ujarnya.

Baca juga: Cerita Pria Turun 25 Kg Meski Kerja di Laut, Berawal dari Rasa Tidak Percaya Diri

Lebih dari sekadar penampilan

Kisah Kipli menunjukkan bahwa gaya hidup punk tidak bisa disederhanakan hanya dari penampilan luar.

Di balik jaket kulit dan rambut mohawk, terdapat nilai kemandirian, kreativitas, dan tanggung jawab yang dijalani dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Kipli, menjadi punk bukan berarti menolak norma secara membabi buta, melainkan memilih jalan hidup sendiri dengan penuh kesadaran.

Ia berharap masyarakat dapat melihat anak punk secara lebih utuh, tidak hanya dari stereotip yang selama ini melekat.

“Yang penting kita jalanin hidup dengan baik. Tidak semua anak punk seperti yang orang pikir,” kata dia.

Tag:  #kisah #kipli #menghapus #stigma #negatif #anak #punk #mandiri #tetap #merawat #diri

KOMENTAR