Krisis Regenerasi Batik Peranakan, Anak Muda Pilih Kerja di Pabrik
- Kelestarian batik Nusantara, terutama batik peranakan Tionghoa, kini dihadapkan pada sebuah tantangan besar. Ancaman utama tersebut bukan berasal dari pergeseran tren busana, melainkan ketiadaan penerus.
Isu mengenai krisis regenerasi ini menjadi salah satu sorotan di tengah meriahnya pameran batik peranakan Tionghoa "Metamorfosa" di Lantai 8 Menara Kompas, Jakarta.
Realitas pahit mengenai keengganan generasi muda untuk meneruskan tradisi kerajinan tangan ini dirasakan sangat nyata di pesisir Cirebon, Jawa Barat. Para pengrajin terampil yang saat ini masih terus aktif rata-rata sudah memasuki usia senja.
"Pembatik saya ini rata-rata usianya sudah hampir 60, 56, 55, 58 tahun, dan yang muda-muda ini sangat saya sedihkan," ungkap pembatik asal Cirebon sekaligus pemilik Batik Kanoman, Giok, dalam talkshow "Merayakan Batik Peranakan di Indonesia" di lokasi, Sabtu (11/4/2026).
Baca juga: Krisis Pembatik, Warisan 6 Motif Batik Khas Pamekasan Terancam Punah
Pembatik asal Cirebon sekaligus pemilik Batik Kanoman, Giok, dalam talkshow Merayakan Batik Peranakan di Indonesia di pameran batik peranakan Metamorfosa di Lantai 8 Menara Kompas, Jakarta, Sabtu (11/4/2026).
Susahnya mencari penerus muda
Giok melanjutkan, anak-anak dari para pembatiknya sendiri justru enggan melanjutkan keahlian turun-temurun orangtua mereka.
Ia bahkan sempat berupaya keras membiayai sekolah anak didiknya agar mereka bersedia membatik secara profesional. Namun, upaya tersebut menguap begitu saja karena mereka memilih berhenti setelah mencoba sebentar.
Mereka menganggap profesi buruh pabrik jauh lebih menyenangkan karena, menurut pengakuan mereka, minim tekanan batin dan tak perlu konsentrasi tinggi.
"Katanya lebih enak kerja di pabrik rotan daripada membatik. Karena kalau di pabrik rotan bisa haha-hehe, kalau membatik tuh musti mungkur (fokus menunduk)," ungkap Giok.
Baca juga: Pesona Akulturasi Budaya Tionghoa dan Jawa dalam Batik Peranakan
Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.
Kestabilan emosi dalam membatik
Giok menuturkan, keengganan orang muda tersebut sebenarnya sangat bisa dipahami jika melihat langsung proses di balik layar.
Beragam karya yang dipamerkan dalam "Metamorfosa", termasuk karya dari Batik Kanoman, nyatanya menuntut ketahanan fisik dan mental yang luar biasa.
Proses menorehkan lilin malam panas menggunakan canting menuntut tingkat kesabaran tinggi. Ketidakseimbangan emosi pada diri seorang pengrajin dipercaya dapat langsung merusak keindahan susunan motif kain.
Baca juga: Makna Mendalam Batik Jaga Rawat Bumi Karya Dave Tjoa, Suarakan Krisis Lingkungan
Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.
"Membatik itu punya emosi, kemudian juga mesti berpikir dengan akalnya. Makanya kenapa pembatik saya kalau lagi marah-marah, saya suka bilang 'stop ya'," papar Giok.
Kondisi penuh tekanan ini semakin terasa berat khususnya untuk pembuatan pakem khas Cirebon. Teknik tembokan merawit mengharuskan pembatik menutup garis-garis ruang halus secara amat teliti tanpa boleh terputus.
Badai pandemi dan tekstil pabrik
Krisis jumlah pembatik lawas ini juga terkait dengan himpitan ekonomi yang sempat menekan industri.
Situasi sulit saat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu memaksa banyak pembatik ulung banting setir mencari kepastian finansial.
Pembatik dari Jakarta, Dave Tjoa, menyaksikan fenomena memilukan tersebut saat ia menyambangi pusat-pusat pengrajin di Pulau Jawa.
Baca juga: Menelusuri Jejak Sejarah Batik Peranakan di Pameran Metamorfosa
Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.
Ia mengungkapkan bahwa banyak tenaga terampil terpaksa meninggalkan canting demi memastikan kebutuhan makan keluarga terpenuhi.
"Banyak yang sudah jadi petani, banyak yang berdagang dan sebagainya. Batik ditinggalkan," ujar Dave.
Gempuran terhadap industri pelestarian batik masih tak kunjung usai, meski masa pandemi telah berlalu.
Keberadaan kain tekstil bermotif batik buatan pabrik atau mesin cetak, yang sering disebut sebagai batik printing menggeser selera publik.
Dominasi produk cetak pabrikan yang serba murah ini memukul roda perekonomian para pengrajin batik tulis maupun batik cap.
Baca juga: Bagaimana Cara Merawat Batik Tulis agar Awet? Jangan Disetrika
Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.
Dave menerangkan, situasi persaingan ini dapat membuat profesi membatik semakin dipandang sebelah mata oleh generasi muda.
"Jadi kalau ditanyakan kondisinya sekarang, memang tidak baik-baik saja," terang Dave.
Melalui ruang apresiasi seperti pameran "Metamorfosa", para pelaku seni berharap masyarakat luas dapat lebih berpihak pada karya seniman lokal.
Adapun pameran ini dibuka untuk umum sampai 5 Mei 2026, setiap hari pukul 10.00-17.00 WIB. Deretan pembatik yang memamerkan karya mereka di "Metamorfosa" mencakup Dave, Giok, Sulistyono (Batik Nyah Kiok), Liem Po Hien (Batik Liem Ping Wie), Purwati Katrin (Batik Katrin Bee), Renny Ong (Batik Maranatha Ong's Art), Valentina Ekawatiningsih (Batik Lumintu), dan Widianti Widjaja (Batik Oey Soe Tjoen).
Baca juga: Dedikasi Dave Tjoa Lestarikan Batik Peranakan Lewat Kain 8 Meter
Tag: #krisis #regenerasi #batik #peranakan #anak #muda #pilih #kerja #pabrik