Cerita di Balik Batik ''Jaga Rawat Bhinneka'' Karya Dave Tjoa
- Bagi masyarakat Indonesia, kain tradisional seperti batik tidak sekadar berfungsi sebagai penutup tubuh atau pemanis penampilan busana.
Jauh di antara goresan lilin malam dan motifnya yang rumit, salah satu wastra Nusantara ini kerap menjadi medium bagi seniman untuk menyuarakan kegelisahan sosialnya.
Kekuatan kritik dan pesan toleransi di balik selembar kain ini terekam jelas dalam mahakarya bertajuk "Jaga Rawat Bhinneka" ciptaan seniman Dave Tjoa. Kondisi intoleransi melatarbelakangi karya tersebut.
Baca juga: Pameran Metamorfosa Tampilkan Indahnya Batik Peranakan
"Kalau 'Jaga Rawat Bhinneka' ya karena kita satu bangsa kok begitu ya. Mau izin gereja setengah mati (dipersulit). Belum lagi yang menjelek-jelekkan satu dan lain seperti itu," ungkap Dave kepada Kompas.com di pameran batik akulturasi "Metamorfosa" di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Menyuarakan kegelisahan lewat wastra
Refleksi sosial dan semangat toleransi
Karya "Jaga Rawat Bhinneka" merupakan batik tulis berukuran 160 x 500 sentimeter yang diciptakan pada rentang tahun 2025 hingga 2026. Batik tersebut membawa pesan filosofis yang sangat tajam.
Berdasarkan keterangan tertulis di samping kain batik, karya ini hadir untuk mengingatkan publik agar kembali menghargai seni budaya Indonesia sebagai permata luhur, di tengah gempuran budaya luar yang kian menggerus.
Untuk meredam isu gesekan sosial yang meresahkannya, Dave dengan cerdik menggunakan elemen tarian tradisional di dalam corak batiknya sebagai simbol pemersatu bangsa yang "cair" dan bebas dari sentimen kubu.
"Nah saya buatlah 'Jaga Rawat Bhinneka', tapi saya mengambilnya dari tarian karena prinsipnya, kalau sudah dalam hiburan, kayaknya semua jadi satu dan baik-baik saja. Enggak ada unsur apa-apa," jelas dia.
Dave menilai bahwa masyarakat Indonesia sejatinya mudah hidup berdampingan saat merayakan budaya bersama.
"Tapi begitu masuk di ranah politik atau ranah yang lain, nah mulailah itu sesuatu yang aneh-aneh," sambung dia.
Baca juga: Menelusuri Jejak Sejarah Batik Peranakan di Pameran Metamorfosa
Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.
Tantangan menaklukkan kain mori blacu
Menyuarakan pesan yang berbobot tentu membutuhkan medium pengerjaan yang tidak biasa. Untuk karya ini, Dave sengaja tidak menggunakan kain katun primisima halus pada umumnya, melainkan material kain mori blacu yang jauh lebih tebal dan menantang.
Dikerjakan seorang diri selama lima bulan, proses persiapan kainnya pun terbilang sangat menyita ketahanan fisik. Ia harus memproses mori blacu cukup lama hanya untuk melunakkan serat kainnya sebelum mulai dibatik.
"Itu bahannya dari blacu, dan itu sangat-sangat susah sebenarnya. Jadi untuk perendamannya saja itu satu minggu," tutur dia.
"Cuci, airnya dibuang, cuci, airnya dibuang, seperti itu sampai akhirnya kain agak lemas, baru saya bisa mulai ngelengrek. Istilahnya membubuhkan (lilin) malam," jelas Dave.
Baca juga: 15 Model Dress Batik Kombinasi Brokat yang Elegan dan Modern
Menggugah regenerasi seniman batik
Kata Dave, karya sarat cerita yang memakan proses melelahkan ini pada akhirnya menjadi ironi tersendiri di tengah krisis regenerasi perajin batik masa kini.
Dave menyadari bahwa ketekunan tingkat tinggi yang dibutuhkan dalam membuat karya handmade seperti batik tulis, kerap membuat generasi muda enggan melanjutkannya.
Gaya hidup modern dinilai menjadi salah satu faktor mengapa banyak generasi penerus lebih memilih pekerjaan dengan hasil yang instan, dibandingkan dengan meneruskan warisan membatik.
"Pekerjaan membatik itu kan harus duduk, diam, membatik, dan itu sangat melelahkan sebenarnya. Kalau sekarang kan maunya masuk jam 08.00, pulang jam 17.00, terima gaji, bisa main handphone," ucap Dave.
Jika ingin menikmati karya ini, kamu bisa berkunjung ke pameran "Metamorfosa" yang digelar di Lantai 8 Menara Kompas, Jakarta, setiap pukul 10.00-17.00 WIB.
Ada juga bazaar di Bentara Budaya Jakarta, di mana pengunjung bisa mendukung industri batik dengan berbelanja.
Baca juga: Tips Mix and Match Batik ala Rania Yamin, Perhatikan Warna dan Bahan
Tag: #cerita #balik #batik #jaga #rawat #bhinneka #karya #dave #tjoa