Di Papua, Perempuan Mengelola Laut Lewat Tradisi Sasi agar Tetap Lestari
Sasi Kapatcol. (Dok. Awaludinnoer)
15:59
10 April 2026

Di Papua, Perempuan Mengelola Laut Lewat Tradisi Sasi agar Tetap Lestari

Di banyak pesisir Indonesia Timur, laut tidak selalu bisa diambil kapan saja. Ada waktu untuk memanen, ada masa untuk berhenti.

Di antara keduanya, ada jeda yang dijaga dan disepakati bersama, meski tak pernah tertulis, ia ditaati seperti hukum yang hidup.

Di Misool, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, jeda itu disebut sasi.

Sasi Bukan Sekadar Tradisi

Sasi bukan sekadar kebiasaan turun-temurun. Ia adalah sistem pengelolaan sumber daya laut yang mengatur ritme: kapan mengambil, kapan menahan diri, dan berapa banyak yang boleh dibawa pulang.

Dalam praktiknya, wilayah laut ditutup untuk periode tertentu agar ekosistem pulih, lalu dibuka kembali melalui kesepakatan bersama.

Namun, sistem ini lama berjalan di atas relasi yang timpang. Selama bertahun-tahun, pengelolaan sasi didominasi laki-laki. Perempuan berada di sana, namun di pinggiran. Mereka mengolah hasil laut, menjaga rumah tangga, menopang ekonomi keluarga, tetapi jarang terlibat dalam pengambilan keputusan.

Perubahan dari Pinggiran

Mama cek lobster. (Dok. Awaludinnoer)Mama cek lobster. (Dok. Awaludinnoer)

Perubahan di Misool tidak datang dari pusat kekuasaan kampung. Ia tumbuh perlahan, dari pengamatan sehari-hari.

Pada 2008, sekelompok perempuan di Kampung Kapatcol mulai memperhatikan bagaimana sasi dijalankan. Mereka belajar dari jarak dekat, lalu mengajukan pertanyaan yang sederhana sekaligus mengguncang kebiasaan lama: mengapa bukan mereka?

“Pada 2008, kami melihat bagaimana laki-laki mengelola sasi. Kami ingin bisa melakukan hal yang sama,” kata Mama Almina Kacili, Ketua Kelompok Sasi Perempuan Waifuna.

Dari sana, Kelompok Waifuna terbentuk dan diberi ruang mengelola wilayah sasi seluas 32 hektare. Ini bukan sekadar pembagian tugas, tetapi pergeseran peran—kecil di awal, namun berdampak dalam jangka panjang.

Membuktikan Lewat Praktik

Langkah itu tidak langsung diterima. Perempuan harus membuktikan bahwa mereka mampu mengelola, bukan hanya mengikuti.

Mereka menjawabnya lewat praktik yang konsisten. Wilayah laut ditutup sesuai kesepakatan, waktu panen ditentukan dengan hati-hati, dan aturan dijaga bersama. Perlahan, hasilnya terlihat.

Teripang kembali muncul. Lola dan lobster lebih stabil. Hasil tangkapan tidak lagi habis dalam sekali panen. Laut pulih, dan kepercayaan ikut tumbuh.

Pada 2019, wilayah kelola Waifuna diperluas menjadi 213 hektare. Angka itu bukan sekadar luasan, tetapi penanda pengakuan: perempuan mampu memimpin.

Dari Lokal ke Pola Bersama

Apa yang dimulai di satu kampung tidak berhenti di sana. Praktik serupa muncul di Kampung Aduwei dan Salafen. Pada 2022, kelompok perempuan pengelola sasi—Joom Jak dan Zakan Day—dibentuk.

Di Aduwei, dampaknya terasa langsung di kehidupan sehari-hari.

“Biasanya sebelum buka sasi, kami berdiskusi hasil sasi akan digunakan untuk apa. Bisa untuk keperluan gereja, sampai untuk kebutuhan pendidikan maupun kesehatan masyarakat,” kata Mama Ribka.

Sasi kini menjadi cara komunitas mengambil keputusan dan mengelola hasil bersama. Perempuan yang sebelumnya jarang hadir dalam forum kampung mulai duduk di ruang-ruang itu. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga berbicara dan menentukan arah.

Menurut Manajer Program Kelautan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Hilda Lionata, perubahan ini menunjukkan bahwa sasi terus berkembang.

“Mereka tidak lagi malu atau takut menyampaikan pendapat maupun terlibat dalam pengambilan keputusan di kampung,” ujarnya.

Lebih dari Sekadar Sistem

Pendampingan yang dimulai sejak 2008 mencakup banyak hal, pemahaman siklus hidup biota laut seperti teripang, lola, dan lobster, hingga keterampilan teknis seperti pemantauan dan menyelam. Namun, perubahan paling mendasar tidak selalu terlihat di laporan.

Ia tumbuh dalam cara perempuan memandang diri mereka sendiri—sebagai pihak yang punya pengetahuan, pengalaman, dan hak untuk menentukan.

Pertemuan tiga kelompok perempuan dari Misool, Waifuna, Joom Jak, dan Zakan Day, di Gianyar, Bali, pada April 2026 menjadi ruang untuk merawat proses itu. Mereka berbagi cerita, menyusun ulang pengalaman, dan menguatkan satu sama lain.

Di sana, sasi tidak lagi dibicarakan hanya sebagai tradisi. Ia menjadi jalan untuk mengubah relasi kuasa, tanpa harus meninggalkan akar yang sudah ada.

Dari Misool, pelajarannya sederhana: perubahan tidak selalu datang dengan mengganti sistem, tetapi dengan menggeser siapa yang memegang kendali di dalamnya.

Editor: Bimo Aria Fundrika

Tag:  #papua #perempuan #mengelola #laut #lewat #tradisi #sasi #agar #tetap #lestari

KOMENTAR