Sering Lacak Mood di Smartwatch, Ahli Ingatkan Dampaknya pada Kebahagiaan
Ilustrasi smartwatch. Perangkat wearable bisa melacak suasana hati, tetapi para ahli menemukan bahwa terlalu sering memantau kebahagiaan justru dapat berdampak sebaliknya.(Freepik/mego-studio)
14:05
10 April 2026

Sering Lacak Mood di Smartwatch, Ahli Ingatkan Dampaknya pada Kebahagiaan

Perangkat wearable kini bisa melacak suasana hati, tetapi para ahli justru mengingatkan bahwa cara ini tidak selalu membuat seseorang lebih bahagia.

Fitur pelacak mood semakin banyak digunakan di smartwatch dan aplikasi kesehatan untuk membantu memahami kondisi mental secara langsung.

Melansir GQ (8/4/2026), inovasi ini memunculkan perdebatan di kalangan ahli tentang manfaat sebenarnya bagi kesehatan mental.

Topik ini menjadi relevan karena semakin banyak orang mencari cara praktis untuk merasa lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: 6 Kebiasaan Orang Finlandia, Negara Paling Bahagia di Dunia

Cara wearable melacak kondisi tubuh dan suasana hati

Perangkat wearable membaca kondisi tubuh melalui data seperti detak jantung, suhu kulit, pola napas, dan aktivitas harian.

Data tersebut digunakan untuk memperkirakan tingkat stres atau perubahan suasana hati seseorang.

Namun, cara ini lebih akurat untuk melihat kondisi fisik dibandingkan emosi yang dirasakan secara langsung.

Peneliti Eiko Fried, PhD, menjelaskan bahwa skor stres bisa meningkat karena aktivitas fisik, meski seseorang sebenarnya tidak merasa stres secara emosional.

Baca juga: Bahagia Tak Selalu Soal Uang, Hidup Sederhana Justru Lebih Memuaskan

Potensi deteksi dini gangguan mental

Ilustrasi smartwatch. Perangkat wearable bisa melacak suasana hati, tetapi para ahli menemukan bahwa terlalu sering memantau kebahagiaan justru dapat berdampak sebaliknya.Unsplash/Solen Feyissa Ilustrasi smartwatch. Perangkat wearable bisa melacak suasana hati, tetapi para ahli menemukan bahwa terlalu sering memantau kebahagiaan justru dapat berdampak sebaliknya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa data dari wearable tetap bermanfaat jika digunakan dengan tepat.

Studi tahun 2024 dalam NPJ Digital Medicine menemukan bahwa pola tidur, detak jantung, dan aktivitas bisa membantu memprediksi gangguan mood sebelum terjadi.

Penelitian Cornell University pada 2025 yang melibatkan lebih dari 2.000 orang juga menunjukkan bahwa perubahan data tersebut dapat menjadi tanda awal depresi dan kecemasan.

Hasil ini menunjukkan bahwa wearable lebih tepat digunakan sebagai alat untuk mendeteksi gejala awal, bukan sebagai alat diagnosis.

Baca juga: Psikolog Ungkap 8 Ciri Orang Dewasa Secara Emosional, Bukan Sekadar Menahan Emosi

Pelacakan mood juga tersedia lewat aplikasi

Selain perangkat fisik, pelacakan mood juga bisa dilakukan melalui aplikasi seperti fitur Mindfulness di Apple Health.

Fitur ini memungkinkan pengguna mencatat perasaan dan melihat kaitannya dengan faktor lain seperti tidur, olahraga, dan paparan sinar matahari.

Gaurav Sharma, pengembang Feeltracker, menjelaskan bahwa teknologi ini berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran diri.

“Aplikasi ini dirancang sebagai alat pelacak dan peningkat kesadaran, bukan sebagai alat pengobatan. Nilai utamanya adalah membantu orang melihat pola dan pemicu,” ujarnya.

Terlalu fokus pada kebahagiaan bisa berdampak sebaliknya

Para ahli mengingatkan bahwa terlalu sering memantau kebahagiaan justru bisa menimbulkan tekanan.

Laurie Santos, PhD, profesor psikologi dari Yale University, mengatakan bahwa ada paradoks dalam mengejar kebahagiaan.

“Semakin seseorang terlalu mengejar kebahagiaan, justru ia bisa merasa semakin tidak bahagia,” kata Santos, mengutip penelitian UC Berkeley.

Sonja Lyubomirsky, PhD, profesor psikologi dari University of California, Riverside, juga menilai bahwa terlalu sering memantau perasaan dapat memperburuk kondisi mental.

Baca juga: 8 Tanda Manipulasi Emosional yang Sering Tidak Disadari, Picu Rasa Bersalah

Pelacakan tetap bermanfaat jika digunakan dengan bijak

Meski memiliki risiko, pelacakan mood tetap memiliki manfaat jika digunakan dengan cara yang tepat.

John Torous, MD, profesor psikiatri Harvard, mengatakan bahwa mengenali emosi adalah langkah awal untuk memperbaiki kondisi mental.

“Langkah pertama untuk memperbaiki sesuatu adalah memahami kondisi saat ini,” ujarnya.

Ia menyarankan agar pelacakan dilakukan dalam waktu terbatas dan dengan tujuan yang jelas.

Gunakan data untuk memahami pola, bukan sekadar angka

Para ahli menyarankan agar data dari wearable digunakan untuk melihat pola dalam kehidupan sehari-hari.

Perubahan suasana hati sering berkaitan dengan hal sederhana seperti kurang tidur atau jarang beraktivitas di luar ruangan.

Dengan memahami pola tersebut, seseorang bisa membentuk kebiasaan yang lebih baik untuk kesehatan mental.

Penelitian kerja sama Apple dan UCLA juga masih berlangsung untuk memahami hubungan antara data digital dan kondisi mental secara lebih dalam.

Wearable dapat membantu memahami kondisi mental, tetapi tidak selalu membuat seseorang lebih bahagia.

Penggunaan yang berlebihan justru bisa menimbulkan tekanan, sehingga penting untuk menggunakannya secara seimbang.

Baca juga: 7 Ciri Orang yang Aman Secara Emosional, Salah Satunya Tak Takut Disalahpahami

Tag:  #sering #lacak #mood #smartwatch #ahli #ingatkan #dampaknya #pada #kebahagiaan

KOMENTAR