Alasan Kecemasan Terasa Lebih Berat bagi Wanita Usia 30-an
Ilustrasi kecemasan, merasa cemas. (FREEPIK/JCOMP)
08:35
8 April 2026

Alasan Kecemasan Terasa Lebih Berat bagi Wanita Usia 30-an

- Usia 30-an dan 40-an sering dianggap sebagai fase paling stabil dalam hidup. Individu di masa ini diasumsikan sudah berhenti mencari jati diri dan belum masuk kategori tua menurut standar masyarakat.

Namun kenyataannya, masa yang seharusnya mapan ini justru sering dihantui oleh rasa cemas dan keraguan diri yang sangat mendalam.

"Ada ekspektasi dari masyarakat bahwa pada usia ini kamu sudah memiliki jalur karier dan berkeluarga," kata pemilik Cathartic Space Counseling di Chicago, Amerika Serikat (AS), Kristen Jacobsen, LCPC, mengutip Self Magazine, Selasa (7/4/2026).

Baca juga: 8 Tanda Manipulasi Emosional yang Sering Tidak Disadari, Picu Rasa Bersalah

Tekanan mental di usia kepala tiga

Jika kamu menginjak umur 40 tahun dan masih mempertanyakan identitas diri, perasaan tertinggal sangat wajar muncul.

Jacobsen menuturkan bahwa wanita yang sudah memenuhi ekspektasi sosial pun tetap bisa merasakan beban mental.

Pada fase kehidupan ini, setiap keputusan hidup seolah memiliki risiko fatal dan bersifat permanen, sehingga ruang untuk bereksperimen, gagal, atau mengubah arah, terasa semakin menyempit.

Walaupun standar kedewasaan modern sudah jauh lebih fleksibel, seperti menunda pernikahan, berganti profesi, atau merumuskan ulang definisi kemapanan, tekanan itu tidak lenyap begitu saja.

Jacobsen menilai bahwa beban tersebut justru terinternalisasi, sehingga membuat kita jauh lebih sensitif terhadap penilaian orang di sekitar.

Baca juga: Takut Gagal Jadi Orangtua, Psikolog Sebut Standar Parenting Kini Terlalu Tinggi

Kritik terasa semakin menyakitkan

Sama seperti depresi, kecemasan juga bisa membuat seseorang merasa sudah tidur cukup tapi masih ngantuk dan lelah.FREEPIK Sama seperti depresi, kecemasan juga bisa membuat seseorang merasa sudah tidur cukup tapi masih ngantuk dan lelah.

Dahulu kita mungkin mengira saat memasuki umur 30-an atau 40-an akan menjadi sosok yang lebih cuek terhadap cibiran sepele. Namun, realitas kerap menunjukkan situasi yang bertolak belakang.

"Saya bekerja dengan banyak klien dalam rentang usia ini. Dan jika mereka belum mencapai ‘tonggak penting’ tertentu, mereka akan panik, bahkan karena pertanyaan-pertanyaan kecil seperti, ‘Apakah kamu sedang berkencan?’, 'Apakah kamu berencana memiliki anak dalam waktu dekat?’," tutur Jacobsen.

Baca juga: Psikolog Imbau Hindari Bandingkan Hubungan dengan Standar Media Sosial

Sensitivitas ini dipicu oleh kondisi batin. Apabila seseornag merasa belum mapan, komentar bernada positif soal pekerjaan maupun keluarga, bisa dianggap sebagai konfirmasi kegagalan memenuhi standar.

Kepekaan serupa, tetapi lebih intens. juga dirasakan oleh wanita berusia 30-an dan 40-an yang baru menjadi seorang ibu.

Jacobsen menjelaskan, orang-orang tersebut mengalami sesuatu yang disebut dengan matrescense, yakni pergeseran identitas yang mendalam mirip dengan apa yang mereka alami selama pubertas di masa remaja.

"Ketika seseorang menjadi ibu untuk pertama kalinya, mereka tidak lagi memiliki fondasi yang kokoh tentang siapa diri mereka," jelas dia.

Hal ini membuat opini luar terasa lebih berat, sehingga saran kasual tentang cara mendidik anak rentan disalahartikan sebagai serangan personal.

Baca juga: Dukungan Suami Jadi Penopang Mental dan Spiritual Ibu Menyusui

Pengaruh lingkungan eksternal

Di samping dinamika internal, tekanan masyarakat turut menumbuhkan ketakutan akan penolakan.

"Kita semua memiliki garis waktu kita sendiri, tetapi media sosial adalah faktor lain yang membuat sulit untuk mengakui hal ini," ucap Jacobsen.

Paparan atas momen terbaik orang lain di dunia maya menciptakan ilusi bahwa jalan hidup individu lain sangat mulus, sekaligus mengingatkan atas kekurangan diri sendiri.

Cara mengendalikan rasa cemas

Sangat mustahil untuk melenyapkan pikiran negatif secara total. Tujuannya adalah meminimalkan tekanan tersebut melalui beberapa penyesuaian sederhana. Pertama, bedakan antara keinginan pribadi dengan gengsi sosial.

"Banyak orang terikat pada garis waktu kapan mereka pikir sesuatu seharusnya terjadi, Sedangkan saya mendorong mereka untuk melihat ke dalam diri mereka sendiri tentang apa yang memuaskan dan bermakna bagi mereka," tutur Jacobsen.

Kedua, catat setiap perkembangan. Kecemasan membuat kita lupa menghargai seberapa jauh telah bertumbuh. Banggalah pada langkah apapun yang kamu ambil, seperti berani meninggalkan hubungan toksik atau merintis karier baru.

Ketiga, batasi paparan yang memicu perasaan rendah diri. Lakukan detoksifikasi media sosial dengan menyingkirkan akun pemicu panik, atau hindari obrolan tentang kehidupan asmara dengan kerabat yang usil.

Terakhir, terimalah fakta bahwa kamu mungkin tidak akan pernah mencapai kepuasan sepenuhnya. Melepaskan kendali atas ketidakpastian hidup, dapa membantu melemahkan kecemasan di usia 30-an.

Baca juga: Psikolog Ungkap Dampak Media Sosial pada Remaja, dari Kecemasan hingga Cyberbullying

Tag:  #alasan #kecemasan #terasa #lebih #berat #bagi #wanita #usia

KOMENTAR