Mengenal Demam Psikogenik, Saat Stres Bikin Suhu Tubuh Naik
Ilustrasi demam. Pemerintah India membantah laporan lima kasus virus Nipah dan memaparkan data resmi terbaru dari otoritas kesehatan.(Freepik)
22:10
30 Maret 2026

Mengenal Demam Psikogenik, Saat Stres Bikin Suhu Tubuh Naik

- Stres kronis yang tidak dikelola terbukti berdampak negatif bagi kesehatan mental, memicu kondisi seperti depresi dan kecemasan.

Namun, beban pikiran yang berat ternyata juga mengganggu kondisi fisik secara langsung, bahkan mampu meningkatkan risiko penyakit jangka panjang seperti jantung.

Lebih dari itu, stres juga bisa menyebabkan demam, meski kamu tidak sedang terinfeksi penyakit apa pun.

Baca juga: 4 Rahasia Hidup Lebih Tenang dan Bahagia Tanpa Stres, Termasuk Menerima Emosi

"Ada sebuah fenomena yang menjelaskan bahwa stres tampaknya dapat meningkatkan suhu inti tubuh, meskipun tidak ditemukan proses peradangan lain seperti infeksi atau cedera," ungkap Chief Quality and Information Executive untuk L.A. Care Health Plan, Katrina Miller Parrish, MD, mengutip Business Insider, Senin (30/3/2026).

Ketika stres menyebabkan demam

Memahami demam psikogenik

Adapun fenomena kondisi medis ini dikenal sebagai demam psikogenik (psychogenic fever). Demam psikogenik atau hipertermia akibat stres adalah kondisi naiknya suhu tubuh karena tekanan psikis.

Berdasarkan studi di jurnal Temperature pada tahun 2015, diagnosis biasanya ditegakkan saat suhu tubuh kamu melewati 37 derajat Celcius di tengah stres akut maupun kronis.

Tentu saja, pemicu umum lain seperti infeksi atau penyakit lain harus disingkirkan terlebih dahulu oleh tenaga medis.

Para pakar belum sepenuhnya memahami mekanisme pasti di balik fenomena ini. Namun, mereka meyakini bahwa otak sengaja menaikkan suhu sebagai respons terhadap tekanan atau hormon stres berinteraksi dengan sistem endokrin hingga memicu panas.

Sebagai contoh, riset di jurnal Science pada tahun 2020 menunjukkan bahwa stres sangat memengaruhi hipotalamus pada tikus, yakni area pengendali suhu tubuh. Meski begitu, penelitian lebih lanjut pada manusia masih sangat dibutuhkan.

Menyerang usia berapa saja?

Demam psikogenik bisa menyerang individu pada usia berapa pun, dan tampaknya lebih sering terjadi pada perempuan.

Sebuah studi di jurnal BioPsychoSocial Medicine pada tahun 2009 menganalisis rekam medis 2.705 pasien di Jepang. Hasilnya, 2 persen pasien berusia 11-82 tahun terdiagnosis demam ini, dengan 70 persen di antaranya adalah perempuan dan 30 persen laki-laki.

Baca juga: 6 Aktivitas Ringan untuk Meredakan Stres dalam 10 Menit

Kenapa Demam di Bagian Kepala Saja? Berikut Penjelasannya...Shutterstock/fizkes Kenapa Demam di Bagian Kepala Saja? Berikut Penjelasannya...

"Sulit untuk mengetahui prevalensi sebenarnya dari demam psikogenik, karena mungkin tidak dilaporkan sebanyak yang sebenarnya terjadi," ungkap Miller Parrish.

"Jika kita mengambil semua orang yang mengalami stres, dan mencatat sebagian dari total tersebut mengalami hipertermia akibat stres, jumlahnya akan cukup tinggi," lanjut dia.

Gejala demam psikogenik

Gejala demam psikogenik serupa dengan keluhan demam pada umumnya. Kamu akan merasakan peningkatan suhu tubuh, sensasi panas, wajah memerah, tubuh menggigil, nyeri otot, hingga kelelahan ekstrem.

Pada kasus stres mendadak, gejalanya mungkin jauh lebih mudah disadari. Namun, mendeteksinya menjadi rumit saat kamu berhadapan dengan stres kronis, seperti merawat keluarga yang sakit menahun.

Beban yang menumpuk ini bisa memunculkan demam secara perlahan. Memastikan ketiadaan penyakit fisik lain sangatlah penting. Apabila demammu disertai hidung tersumbat atau batuk, kemungkinan besar itu sekadar flu.

Jika kamu kerap merasa demam tanpa alasan fisik yang jelas, ada baiknya mulai membuat jurnal harian. Catat suhu tubuh, gejala penyerta, serta berapa lama durasinya.

"Jika itu berlanjut selama berhari-hari hingga berminggu-minggu, akan bijaksana untuk menemui dokter untuk menyingkirkan penyebab yang membutuhkan perawatan medis," tutur Miller Parrish.

Apabila deretan penyebab telah disingkirkan, atau diobati dan suhu tinggi tetap berlanjut, Miller Parrish mengaakan bahwa intervensi psikologis dan penghilang stres lainnya mungkin dapat membantu.

Langkah penanganan demam psikogenik

Fokus utama penyembuhannya adalah menurunkan tingkat stres. Mayoritas kasus hipertermia ini bersifat sementara dan bisa mereda dengan sendirinya. Intervensi non-medis seperti mindfulness maupun sesi terapi terbukti bermanfaat.

"Jika demam disebabkan oleh stres, sangat penting untuk mengurangi stres," tegas Miller Parrish.

Pertama, kamu harus mengidentifikasi pemicunya, baik itu peristiwa spesifik, kecemasan, depresi, atau kelelahan bekerja. Setelah akar masalah ditemukan, strategi penyelesaiannya akan menjadi lebih jelas.

"Tergantung pada penyebabnya, penawarnya bisa berupa terapi perilaku kognitif atau terapi psikologis lainnya, meditasi, yoga dan praktik yang berfokus pada pengurangan keadaan stres, atau bahkan mungkin pengobatan untuk mengatasi masalah tersebut," pungkas dia.

Baca juga: Tanda Stres pada Penampilan, Muncul Jerawat hingga Mata Sembab

Tag:  #mengenal #demam #psikogenik #saat #stres #bikin #suhu #tubuh #naik

KOMENTAR