3 Tips Hadapi Anak Tantrum Menurut Para Menteri Saat Akses Medsos Dibatasi Pemerintah
– Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan bahwa anak yang terbiasa menggunakan ponsel berpotensi mengalami reaksi emosional ketika akses media sosial dibatasi.
“Namanya anak-anak, pasti kan ada yang adiksi banget sama HP-nya. Nah, saya mau kasih 3 tips ke ibu-ibu saat menghadapi anak-anaknya yang lagi pada ngamuk sekarang,” ujarnya, disadur dari video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, @bgsadikin.
Ia menyampaikan hal tersebut seiring kebijakan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun yang mulai berlaku.
Baca juga: Cara Mengatasi Anak Tantrum karena Gadget Menurut Psikolog, Jangan Langsung Dimarahi
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan bahwa mulai 28 Maret 2026, akun anak pada platform berisiko tinggi dinonaktifkan.
Kondisi ini dinilai dapat memicu ketidaknyamanan pada anak, terutama bagi mereka yang terbiasa menggunakan media sosial dalam aktivitas sehari-hari.
Maka dari itu, penting bagi orangtua memahami langkah yang dapat dilakukan dalam menghadapi kondisi tersebut.
Baca juga: Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Komdigi, Mengapa?
Tips Menghadapi Anak Tantrum
1. Validasi emosi anak
Budi menekankan bahwa orangtua tidak disarankan untuk langsung memarahi anak saat mereka menunjukkan reaksi emosi.
“Kalau anak ibu tantrum, validasi dulu emosi mereka. Jangan dimarahi balik, Bu. Jelaskan secara bertahap,” ujarnya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Meutya yang menilai pendekatan empati penting dalam menghadapi anak.
“Mama tahu kamu kesal karena tidak bisa lagi bermain media sosial. Tapi, daripada terus merasa kesal, ikut mama saja yuk masak atau berkebun,” ucapnya dalam kesempatan yang sama.
Orangtua dapat menyampaikan kalimat serupa untuk menunjukkan empati sekaligus mengalihkan emosi anak secara perlahan.
Cara ini dapat membantu meredakan emosi anak sekaligus menciptakan komunikasi yang lebih sehat.
Baca juga: Anak Tantrum karena Konten Meme Anomali Dibatasi, Ini Cara Menghadapinya
2. Ajak anak beraktivitas dan perbanyak komunikasi
Selain memvalidasi emosi, orangtua juga dapat membantu anak beradaptasi dengan mengalihkan perhatian ke aktivitas lain.
Budi menyarankan orangtua untuk mengajak anak melakukan kegiatan di luar rumah.
“Ajak anak-anak main di luar rumah. Bisa ikut kelas olahraga dengan teman-temannya, atau piknik di taman. Setidaknya bisa mengantar ibu jalan kaki ke pasar,” tutur Budi.
Menurutnya, aktivitas fisik dan interaksi sosial dapat membantu anak mengurangi ketergantungan pada gawai sekaligus menyalurkan energi secara positif.
Di sisi lain, Meutya juga menekankan pentingnya komunikasi antara orangtua dan anak.
“Ngobrol yang banyak sama anak-anak. Turunkan ego sedikit, dengarkan cerita mereka, jadi sahabat bagi mereka,” ujarnya.
Dengan komunikasi yang terbuka, anak akan merasa lebih didengar, lebih mudah menerima perubahan yang terjadi, serta memperkuat hubungan emosional antara orangtua dan anak.
Baca juga: Anak Tantrum Saat Lepas dari Gadget? Coba Metode Reset Week
3. Manfaatkan layanan kesehatan jiwa
Jika orangtua merasa kewalahan dalam menghadapi perubahan perilaku anak, Budi merekomendasikan untuk mencari bantuan profesional.
“Kalau sudah mulai kewalahan menghadapi anak, bisa konsultasi di puskesmas terdekat,” sarannya.
Ia menyebut bahwa saat ini terdapat hampir 6.000 puskesmas milik pemerintah yang telah menyediakan layanan kesehatan jiwa.
Layanan ini dapat dimanfaatkan untuk membantu orangtua memahami kondisi anak sekaligus mendapatkan pendampingan dalam menghadapi tantrum atau perubahan perilaku.
Baca juga: 3 Tips Mengatasi Anak Tantrum dari Psikolog, Apa Saja?
PP Tunas Mulai Berlaku 28 Maret 2026
Sebagai informasi, pemerintah resmi memberlakukan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Pelindungan Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas) mulai 28 Maret 2026.
Kebijakan ini mengatur perlindungan anak di ruang digital, termasuk pembatasan akses pada platform berisiko tinggi bagi pengguna di bawah usia tertentu.
Pemerintah menilai langkah ini penting untuk menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi anak, sekaligus mendorong platform digital untuk meningkatkan sistem perlindungan terhadap pengguna usia muda.
Tag: #tips #hadapi #anak #tantrum #menurut #para #menteri #saat #akses #medsos #dibatasi #pemerintah