Mengapa Kita Lebih Produktif Saat Bekerja Mepet Tenggat Waktu?
Ilustrasi deadline(shutterstock)
07:05
23 Maret 2026

Mengapa Kita Lebih Produktif Saat Bekerja Mepet Tenggat Waktu?

- Sebagian orang merasa lebih nyaman jika segala sesuatu sudah dirancang diawal, pekerjaan dicicil secara bertahap sampai akhirnya semua tuntas.

Namun, ada juga tipe orang yang malah lebih produktif dan bekerja lebih baik di ujung waktu. Tengat waktu justru membuat mereka bisa lebih fokus dan bekerja efisien, sehingga pekerja selesai sesuai target.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan: mengapa perasaan terdesak justru memotivasi untuk bekerja maksimal dibandingkan menyicilnya sejak jauh hari ketika ritme lebih santai?

"Banyak orang menunda bukan karena malas, tetapi karena mereka kewalahan," ujar pendiri dan CEO Mind Brain Emotion, Jenny Woo, PhD, mengutip Real Simple, Minggu (22/3/226).

Baca juga: Alasan Orang Suka Menunda Pekerjaan Menurut Psikolog, Takut Gagal

Dalam situasi tertentu, tekanan waktu rupanya membantu menekan sifat perfeksionis. Tak jarang seseorang menunda pekerjaan karena takut melakukan kesalahan atau mengecewakan pihak lain, yang berujung pada penghindaran.

“Namun, saat deadline semakin dekat, rasa takut akan kegagalan akhirnya mengalahkan rasa takut akan ketidaksempurnaan. Di titik itulah seseorang terdorong untuk bertindak,” sambung Woo.

Hal senada disampaikan psikolog klinis Sabrina Romanoff yang menilai sebuah tekanan mampu menyingkirkan krisis motivasi pada sebagian orang.

"Pada akhirnya, tenggat waktu dapat membantu karena memberi kita struktur yang jelas untuk dipenuhi, sekaligus konsekuensi jika kita gagal melakukannya. Keduanya sangat memotivasi," jelas dia.

Baca juga: 5 Zodiak yang Suka Menunda Pekerjaan, Ada Pisces

Perspektif otak dan hormon stres

Bagi sebagian orang, tenggat waktu yang masih panjang sering kali terasa abstrak sehingga otak tidak menganggap tugas tersebut mendesak.

Pakar kesehatan mental Daryl Appleton menuturkan bahwa kondisi ini adalah kecenderungan alami otak untuk meremehkan imbalan atau konsekuensi yang letaknya jauh di masa depan.

"Saat tenggat waktu masih jauh, otak kekurangan stimulasi untuk memprioritaskan tugas," jelas Appleton.

Baca juga: Micromanagement di Dunia Kerja, Kapan Atasan Perlu Melakukan dan Kapan Harus Berhenti?

Ilustrasi pekerja.Dok. Freepik/Lifestylememory Ilustrasi pekerja.

Menurut prinsip psikologis Yerkes-Dodson Law, kinerja meningkat seiring bertambahnya tekanan mental hingga titik tertentu. Saat mendekati tenggat, urgensi membantu mencapai tingkat stimulasi optimal.

Otak menganggap ini sebagai ancaman, lalu mengaktifkan respons lawan atau lari (fight or flight), dan membanjiri tubuh dengan hormon kortisol serta adrenalin.

"Hormon-hormon ini menajamkan fokus kita dan mempersempit perhatian kita," ucap Romanoff.

Baca juga: 15 Pekerjaan yang Paling Cocok untuk Introvert, Tidak Butuh Banyak Interaksi

Perbedaan dorongan dopamin

Orang yang terbiasa membuat perencanaan biasanya merasa puas saat menyelesaikan tugas lebih awal karena otak melepaskan dopamin setiap kali mereka mencoret daftar tugas.

Sebaliknya, pekerja menit akhir tidak merasakan kepuasan dari progres bertahap karena membutuhkan lonjakan dopamin besar-besaran yang muncul saat berhasil mengalahkan waktu.

Seseorang yang terbiasa membuat rencana biasanya bertindak lebih awal demi meredam rasa cemas serta menghindari konsekuensi negatif.

"Jadi, ini bukan soal seberapa disiplin seseorang, melainkan bagaimana mereka mengelola diri sendiri," tutur Romanoff.

Baca juga: Duduk Seharian Saat WFH? Ini Cara Melindungi Punggung dari Risiko Low Back Pain

Mengelola produktivitas dan dampaknya

Sistem kebut semalam bisa memberikan hasil positif, asalkan disesuaikan dengan tingkat kesulitan pekerjaan.

“Untuk tugas jangka pendek dan kompleksitas rendah, strategi yang berorientasi pada tenggat waktu dapat sangat membantu dan efisien,” kata Romanoff.

Sebaliknya, cara ini berdampak buruk untuk tugas rumit yang menuntut kreativitas tinggi atau kerja kolaborasi karena stres tinggi menciptakan pandangan terowongan (tunnel vision).

Jika performa mulai menurun akibat kurang tidur atau pola makan berantakan, hal tersebut menjadi indikasi kuat bahwa sistem kerja tersebut harus segera dievaluasi.

“Jika kamu hampir tidak mampu bertahan karena telah begadang beberapa malam, mengabaikan hubunganmu, dan tidak makan dengan baik, pekerjaan akan terganggu,” katanya.

Baca juga: Ketahui 4 Sikap yang Harus Dimiliki Atasan, Termasuk Menerima Masukan

Kegagalan dalam memenuhi target juga dapat menjadi indikasi kelelahan kronis atau beban kerja yang sudah melampaui kapasitas.

“Alih-alih mengandalkan kepanikan untuk memotivasi, buatlah tenggat waktu mini yang terstruktur atau titik pemeriksaan kualitas, sehingga kamu dapat menghasilkan momentum tanpa menunggu stres meningkat,” imbau Woo.

Salah satu cara yang Woo sarankan adalah teknik body doubling, yaitu bekerja bersama rekan secara berdampingan dalam diam untuk menciptakan tanggung jawab.

Ia juga menganjurkan untuk meninjau kembali daftar pekerjaan dan memilah tugas mana saja yang bisa dialihkan atau didelegasikan agar tetap sejalan dengan tujuan utamamu.

Baca juga: Bos Mengontak di Luar Jam Kerja? Simak Cara Mengatasinya

Tag:  #mengapa #kita #lebih #produktif #saat #bekerja #mepet #tenggat #waktu

KOMENTAR