Mengapa Opor Ayam Selalu Ada saat Lebaran? Ini Sejarah dan Makna Simbolisnya
Semangkuk opor ayam hangat dengan kuah santan kental, disajikan bersama ketupat dan taburan bawang goreng. [Gemini AI]
12:44
21 Maret 2026

Mengapa Opor Ayam Selalu Ada saat Lebaran? Ini Sejarah dan Makna Simbolisnya

Hari Raya Idulfitri atau Lebaran di Indonesia identik dengan harumnya aroma opor ayam dan ketupat.

Tanpa adanya duet maut antara opor ayam dan ketupat, Lebaran biasanya terasa kurang lengkap.

Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa harus dua menu ini yang selalu muncul di meja makan saat Lebaran?

Ternyata di balik kelezatannya, ada sejarah panjang dan makna filosofis yang sangat mendalam.

1. Rahasia di Balik Santan: "Santen" Adalah "Pangapunten"

Dalam budaya Jawa, opor ayam bukan sekadar masakan berbumbu rempah. 

Ilustrasi opor ayam (royco.co.id)Ilustrasi opor ayam (royco.co.id)

Nama "santen" atau santan dalam bahasa Jawa memiliki bunyi yang mirip dengan kata "pangapunten" yang berarti permintaan maaf.

Penyajian opor ayam di hari kemenangan menjadi simbol permohonan maaf yang tulus atas segala kesalahan. 

Warna kuahnya yang putih atau kuning keemasan juga melambangkan kesucian hati setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan. 

Jadi, saat Anda menyajikan opor, secara simbolis Anda sedang mengajak tamu untuk saling memaafkan.

2. Filosofi Ketupat: Ngaku Lepat dan Laku Papat

Sama halnya dengan opor ayam, ketupat juga punya makna yang tak kalah keren. 

Istilah "Kupat" dalam tradisi Jawa merupakan kependekan dari "Ngaku Lepat" atau mengakui kesalahan dan "Laku Papat" atau empat tindakan.

Apa saja empat tindakan itu?

  • Lebaran: Pintu ampunan telah dibuka lebar.
  • Luberan: Melimpahnya rezeki dan semangat berbagi melalui zakat fitrah.
  • Leburan: Meleburnya dosa-dosa di antara sesama manusia.
  • Laburan: Berasal dari kata kapur, yang artinya memutihkan atau menjernihkan kembali hati yang kotor.

Bahkan, anyaman ketupat yang rumit pun ada artinya, yaitu melambangkan lika-liku perjalanan hidup manusia yang penuh masalah, tapi tetap bisa diatasi dengan kesabaran hingga membentuk sesuatu yang indah.

3. Peran Sunan Kalijaga dalam Menyebarkan Tradisi

Tradisi makan ketupat dan opor ini tidak lepas dari peran salah satu anggota Walisongo, yakni Sunan Kalijaga. 

Beliau menggunakan kuliner sebagai sarana dakwah yang cerdas.

Sunan Kalijaga memperkenalkan dua kali Lebaran, yaitu Lebaran Idulfitri pada 1 Syawal dan Lebaran Kupat yang dirayakan seminggu kemudian. 

Melalui tradisi Bakda Kupat ini, masyarakat diajak untuk merayakan kemenangan dengan cara yang santun dan penuh kebersamaan.

4. Akulturasi Budaya yang Kaya

Ternyata, opor ayam adalah hasil perkawinan budaya yang luar biasa. 

Konon, nama opor berasal dari bahasa India "Oporajito" yang berarti makanan berkuah.

Adaptasi ini menggabungkan teknik memasak kurma dari India dan bumbu rempah dari Timur Tengah seperti kapulaga dan jintan, tapi disesuaikan dengan lidah lokal menggunakan santan kelapa khas Nusantara. 

Hasilnya, hidangan istimewa yang dulunya hanya dinikmati keluarga kerajaan, kini bisa dinikmati siapa saja.

Kenapa Opor Jadi Menu Wajib?

Selain karena maknanya, ada alasan praktis mengapa opor selalu jadi primadona:

  • Cocok untuk Semua Lidah: Rasanya yang gurih dan tidak terlalu pedas membuatnya disukai semua usia, dari anak-anak sampai kakek-nenek.
  • Tahan Lama: Opor ayam justru makin enak setelah dipanaskan berulang kali, cocok untuk menjamu tamu yang datang silih berganti seharian.
  • Mudah Dimasak Masal: Opor sangat praktis dimasak dalam porsi besar untuk keluarga besar yang sedang berkumpul.

Setiap daerah pun punya gaya opornya sendiri. 

Di Jawa Tengah biasanya kuahnya kuning pekat, di Jawa Barat lebih suka opor putih yang ringan, sementara di Sumatera cenderung lebih pedas.

Editor: Nur Khotimah

Tag:  #mengapa #opor #ayam #selalu #saat #lebaran #sejarah #makna #simbolisnya

KOMENTAR