Bijak Merancang yang Terhidang di Hari Raya Idul Fitri
Ilustrasi hidangan Hari Raya Idul Fitri(Dok. SHUTTERSTOCK)
19:40
28 Februari 2026

Bijak Merancang yang Terhidang di Hari Raya Idul Fitri

Tak terasa puasa sudah hampir separuh jalan. Walaupun di sana sini orang masih sibuk memikirkan menu sahur, tapi tak ada salahnya kita melangkah lebih jauh menjelang hari raya apalagi habis “berburu takjil” nan legit dan manis hampir selama bulan puasa.

Bisa jadi ini pertama kalinya Idul Fitri diisi hidangan yang lebih sehat tanpa menghilangkan nuansa hari raya.

Hidangan Sehat di Hari Raya Idul Fitri

Sajian lengkap di meja istimewa biasanya saya rancang dengan sedikitnya 1 jenis sup, 2 macam menu sayur, 2-3 menu protein dan 1-2 hidangan penutup.

“Lebaran klasik” biasanya wajib ada ketupat. Bukan masalah! Lengkapi dengan soto banjar, asinan betawi dan sayur daun ubi tumbuk bersantan, ikan bakar bumbu kuning tanpa kecap, ayam tangkap Aceh dan rujak serut atau es jeruk kelapa muda tanpa sirup.

Baca juga: Tahun Baru, Memupuk Gizi Tanpa Harapan Semu

Ketupat juga bisa “berteman” dengan sayur lodeh nangka muda, otak-otak bandeng Jawa timuran, telur petis, pecel semanggi dan dawet ireng.

Mirip dengan ketupat, buras bisa menjadi pengganti – dihidangkan dengan sop iga atau konro dan ikan palumara, tumis daun pepaya, kapurung, ditutup dengan es kacang merah.

Semua rangkaian menu di atas menggunakan bumbu rempah asli Indonesia, tanpa perlu saus botolan, apalagi mengubah cita rasa “fusion”.

Pun bisa dicicil persiapannya. Mulai dari bumbu halus yang dibekukan, kacang sangrai, pun bahan-bahan protein yang jika dibeli jauh-jauh hari harganya masih belum melambung tinggi.

Menu bersantan bisa dimasak dan disimpan tanpa dibubuhi santan terlebih dahulu. Tuang santan segar saat makanan dihangatkan, masak hingga mendidih, hidangkan dalam sekali makan habis.

Kue Tradisional Vs Kue Kering Kaya Kalori

Persiapan Lebaran bisa menjadi momen setahun sekali yang ditunggu-tunggu, terutama saat anak-anak berkumpul belajar membuat anyaman ketupat dan memahami makna dibaliknya, bertukar cerita tentang kisah masa kanak-kanak ayah ibunya, beribadah bersama di hari-hari terakhir Ramadhan, semuanya bisa menjadi ingatan terindah setiap orang.

Begitu pula kita perlu kembali membuat kue-kue tradisional yang tidak sebrutal kalori jajanan peninggalan Belanda seperti nastar, lidah kucing hingga “cake peranakan” sekelas lapis legit.

Baca juga: Gastrokolonialisme Berbalut Altruisme, Ketika Donasi Makanan Bergizi Terlalu Andalkan Produk Olahan

Gandum tidak pernah tumbuh di negri tropis. Juga 80% lebih etnik melayu intoleran laktosa. Itu sebabnya, jajanan atau kue tradisional kita tidak mengenal terigu, susu, mentega apalagi keju.

Sebaliknya tepung beras dan ketan, gula aren, santan atau kelapa dan kacang mendominasi bahan baku kue basah maupun jajanan kering.

Saya masih ingat zaman kecil dahulu bubuk sagon kelapa dalam kantung kecil-kecil menjadi rebutan dari toples. Juga lepet jagung dalam bungkusan kulit jagung muda harumnya wangi saat baru keluar dari kukusan.

Belajar membuat takir (wadah kecil dari daun pisang) untuk aneka talam sangat menyenangkan.

Sama hebohnya saat menentukan talamnya terbuat dari apa. Ubi? Talam hijau daun suji? Taburan abon ikan? Udang? Atau sesederhana dituang santan kental di atasnya.
Pernah dahulu Imlek juga berdekatan dengan Lebaran. Sehingga kue keranjang divariasikan menjadi bongko.

Kue keranjang yang legit itu dipotong-potong, “berendam” dalam santan kental dan daun pandan, masuk dalam “tum” (kemasan daun pisang) – dikukus hingga harum. Orang jaman sekarang menyebutnya sebagai “comfort food”.

Kolesterol Meningkat Bukan karena Asupan Satu Hari

Ketakutan mengonsumsi santan dengan asumsi peningkatan kolesterol sangat tidak masuk akal.

Pertama, 80% kolesterol sendiri dibuat hati manusia (disebut faktor endogen) karena kebutuhannya dan hanya 20% berasal dari asupan (sebagai faktor eksogen).

Kedua, kelapa adalah tumbuh-tumbuhan, yg tidak mampu menyusun senyawa kolesterol seperti hewan dan manusia. Masalah timbul jika santan dipanaskan berulang, sehingga menjadi lemak jenuh dan ini yang harusnya dihindari.

Ketiga, sindroma metabolik dengan salah satu tandanya adalah lonjakan kolesterol dan segala akibatnya bukanlah akibat “salah makan” dalam satu hari.

Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun kebiasaan pola makan dan gaya hidup tidak sehat berimbas pada kaku dan kerasnya dinding pembuluh darah.

Baca juga: Makan Itu tentang Pulang ke Rumah

Bukan hanya itu, perlemakan hati hingga muncul gejala dan aneka penyakit seperti kesemutan, tekanan darah tinggi, gangguan jantung serta pembuluh darah otak – kerap kali muncul tanpa harus menjadi obes lebih dahulu. Mereka yang bertubuh kurus atau kelihatan “cukup langsing” pun bisa jadi sasaran.

Nikmati menu hari raya, prinsip gizi seimbang tidak boleh tumbang!

Tag:  #bijak #merancang #yang #terhidang #hari #raya #idul #fitri

KOMENTAR