Mengapa Orang yang Punya Privilage Suka Mengaku Pernah Hidup Susah?
Ilustrasi orang kaya.(Google Gemini AI)
20:40
23 Februari 2026

Mengapa Orang yang Punya Privilage Suka Mengaku Pernah Hidup Susah?

- Ruang publik semakin diwarnai dengan kisah-kisah inspiratif tentang perjalanan hidup “berangkat dari nol”.

Namun, tidak sedikit cerita tersebut datang dari individu yang sejatinya tumbuh dalam kondisi serba cukup. Narasi masa kecil yang serba kekurangan, rumah sempit, hingga perjuangan ekonomi, kerap disampaikan untuk membingkai kesuksesan hari ini.

Dalam sejumlah kasus, latar belakang rupanya sekadar narasi palsu. Namun, mengapa beberapa orang dengan privilese mengubah kisah hidupnya menjadi susah atau miskin sejak kecil?

Baca juga: Si Kaya vs Si Miskin, 5 Perbedaan Kebiasaan dan Pola Pikirnya

“Tujuannya sering kali untuk memperoleh kredibilitas, kedekatan emosional, atau legitimasi kepemimpinan,” ujar Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Syaifudin, M.Kesos, saat diwawancarai pada Senin (23/2/2026).

Menurut dosen Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNJ itu, fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari cara masyarakat memandang keberhasilan.

Dalam budaya populer, kisah sukses yang dramatis dinilai lebih menyentuh, sekaligus lebih mudah diterima publik.

Narasi dramatis dan strategi manajemen kesan

Kisah hidup yang dibingkai sebagai perjalanan penuh rintangan, dapat dikatakan memiliki “daya jual” yang lebih tinggi.

Ilustrasi orang sukses.Google Gemini AI Ilustrasi orang sukses.

Cerita perjuangan dianggap menghadirkan autentisitas, sekaligus kedekatan emosional dengan audiens.

Secara sosiologis, Syaifudin menerangkan bahwa praktik tersebut berkaitan dengan apa yang disebut sebagai strategi manajemen kesan (impression management).

“Individu sadar bahwa masyarakat menghargai mobilitas vertikal yang ‘heroik’,” ucap dia.

Mobilitas vertikal merujuk pada perpindahan status sosial dari kondisi bawah menuju posisi yang lebih tinggi. Perjalanan semacam ini dipandang sebagai simbol kerja keras dan ketangguhan pribadi.

“Dengan mengklaim pernah miskin, seseorang memperoleh status moral sebagai pejuang,” lanjut Syaifudin.

Status moral tersebut menjadi modal penting di ruang publik, terutama ketika seseorang ingin membangun kepemimpinan, pengaruh, atau kepercayaan.

Kisah penderitaan masa lalu berfungsi untuk memperkuat persepsi bahwa keberhasilan yang diraih bukan hasil kemudahan karena datang dari latar belakang yang mampu, melainkan perjuangan.

Budaya anti-elitisme dan stigma privilese

Ilustrasi orang kaya.Google Gemini AI Ilustrasi orang kaya.

Syaifudin juga menyoroti adanya tekanan budaya anti-elitisme. Privilese sering diasosiasikan dengan kemanjaan, ketidaklayakan, atau keberhasilan yang tidak sepenuhnya hasil usaha pribadi.

Baca juga: Temani dari Nol Tapi Dikhianati? Ini 5 Cara Hadapi From Zero to Hero Syndrome

Dalam situasi tersebut, menyembunyikan latar belakang ekonomi yang kuat menjadi cara untuk menghindari stigma sosial.

“Menyembunyikan privilese menjadi cara untuk menghindari stigma ‘anak orang kaya yang dimudahkan’,” kata dia.

“Ini menunjukkan bahwa identitas sosial tidak hanya soal fakta objektif, tetapi juga narasi yang dinegosiasikan untuk mendapatkan penerimaan,” sambung dia.

Standar moral “berangkat dari nol”

Fenomena ini berkaitan dengan kuatnya standar moral “berangkat dari nol” dalam masyarakat masa kini. Narasi tersebut tidak lagi sekadar cerita biografis, melainkan berubah menjadi tolok ukur legitimasi.

“Narasi ‘berangkat dari nol’ telah berubah dari sekadar kisah biografis menjadi standar moral dalam masyarakat meritokratis. Dalam logika kapitalisme modern, kerja keras dan penderitaan dianggap bukti keaslian moral,” ucap Syaifudin.

Dalam kerangka meritokrasi, pencapaian dianggap sah jika diraih melalui kerja keras individu. Kesuksesan yang tidak disertai cerita penderitaan kerap dicurigai kurang otentik atau terlalu mudah diperoleh.

Baca juga: 5 Life Skills yang Harus Dikuasai untuk Mencapai Kesuksesan

Ilustrasi orang miskin.Google Gemini AI Ilustrasi orang miskin.

“Secara sosiologis, ini berkaitan dengan mitos meritokrasi berupa keyakinan bahwa semua orang memulai dari titik yang sama," jelas Syaifudin.

Padahal, tidak semua orang berangkat dari posisi yang setara. Faktor kelas sosial, modal ekonomi, jaringan relasi, hingga akses pendidikan, memengaruhi peluang hidup seseorang secara signifikan.

“Ketika struktur ketimpangan, seperti kelas, modal sosial, dan akses pendidikan, diabaikan, narasi ‘nol’ menjadi simbol legitimasi,” lanjut dia.

Dalam konteks ini, individu yang lahir dengan privilese bisa merasa posisinya “kurang sah” secara moral. Mereka dianggap memiliki keuntungan awal yang tidak dimiliki orang lain. Akibatnya, sebagian memilih menutupi latar belakang mapan tersebut.

“Beberapa orang lalu memalsukan latar belakang sulit demi memperoleh legitimasi moral dan simpati publik,” ungkap Syaifudin.

Syaifudin menilai bahwa kebohongan-kebohongan ini bukan sekadar urusan pribadi, melainkan sebuah cara individu bertahan hidup di tengah norma yang sangat menuntut narasi penderitaan.

Baca juga: Kemiskinan Bikin Anak Skeptis terhadap Dunia, Kok Bisa? 

“Ini bukan sekadar kebohongan personal, melainkan respons terhadap norma sosial yang mengagungkan penderitaan sebagai sumber otoritas. Pada konteks ini, penderitaan menjadi ‘modal simbolik’ yang dapat dikonversi menjadi pengakuan sosial,” ucap dia.

Tag:  #mengapa #orang #yang #punya #privilage #suka #mengaku #pernah #hidup #susah

KOMENTAR