Mengapa Kita Mengidam Cokelat Saat Stres?
- Sebagian besar orang hanya mengonsumsi cokelat untuk merayakan momen yang menyenangkan, sebagai camilan penambah semangat, atau sekadar menikmati rasanya yang lezat.
Namun, ada sebagian yang mencari cokelat ketika mereka stres dan mengidam makanan manis tersebut. Lantas, apa alasan di balik mengidam cokelat saat stres?
Dalam kondisi tertekan, cokelat sering menjadi makanan pertama yang terlintas di pikiran. Menurut para dokter, hal ini berkaitan dengan sistem fight or flight, yaitu respons biologis tubuh saat menghadapi ancaman.
Hormon utama yang berperan saat manusia sedang adalah kortisol. Ini adalah hormon stres yang akan meningkat ketika tubuh berada dalam tekanan.
Ahli endokrinologi sekaligus dosen klinis kehormatan bidang kedokteran di University College London, Dr. Nicky Keay, menerangkan, saat kortisol dilepaskan, energi tubuh dialihkan dari sistem kekebalan, sehingga memicu keinginan kuat untuk mengonsumsi makanan manis.
“Mengidam cokelat merupakan respons terhadap situasi penuh stres sebagai kebutuhan akan energi,” kata Keay, dikutip dari Daily Mail, Minggu (18/1/2026)
“Stres meningkatkan hormon kortisol yang menguras cadangan energi tubuh, sehingga kita merasa perlu mengonsumsi sesuatu yang manis untuk meningkatkan energi," sambung dia.
Cokelat dan kadar gula darah
Mengonsumsi makanan manis seperti cokelat dapat membantu meningkatkan energi ketika stres. Di sisi lain, makanan manis ironisnya dapat menyebabkan kadar gula darah melonjak, yang kemudian menurun drastis, sehingga memicu siklus stres dan keinginan makan yang berulang.
Ahli gizi Dr. Sarah Brewer menjelaskan, ketika kadar gula darah turun terlalu rendah, tubuh memicu respons stres untuk meningkatkan kadar glukosa dan asam lemak sebagai bahan bakar penting bagi otot dan otak.
“Respons stres ini memicu rasa lapar agar kamu makan kembali untuk mengisi ulang energi, dan sering kali menimbulkan keinginan terhadap makanan manis dan tinggi karbohidrat, yang dapat dengan cepat menaikkan kadar gula darah," kata dia.
Peningkatan kadar glukosa memicu produksi insulin yang dapat menyebabkan kadar gula darah turun lebih rendah dari biasanya, sehingga menciptakan siklus yang sulit dihentikan.
Namun, Brewer menambahkan bahwa peningkatan kortisol tidak hanya terjadi saat seseorang berada dalam tekanan emosional.
“Kadar kortisol berada pada titik tertinggi di pagi hari akibat ‘stres’ fisik yang terjadi selama 'puasa' semalaman,” jelas dia.
Mengapa cokelat?
Brewer mengungkakan bahwa ada alasan khusus mengapa cokelat sering menjadi pilihan utama saat stres melanda.
“Cokelat memiliki efek pada otak yang membantu merasa rileks dan bahagia dengan meningkatkan kadar beberapa zat kimia di otak, termasuk PEA (phenylethylamine) yang berkaitan dengan amfetamin), yang memberikan sensasi ringan dan meningkatkan rasa percaya diri,” jelas dia.
Selain itu, cokelat mengandung triptofan, yaitu senyawa yang diubah menjadi serotonin di otak, untuk memperbaiki suasana hati dan meningkatkan perasaan euforia. Cokelat juga mengandung teobromin, yaitu stimulan yang memberi efek menyegarkan.
Jika kamu sedang mengidam cokelat, Brewer menyarankan untuk memilih jenis yang kaya antioksidan dengan kandungan kakao setidaknya 70 persen, dibandingkan cokelat susu atau cokelat putih.
Mengidam cokelat saat marah
Stres bukan satu-satunya yang dapat memicu keinginan akan cokelat karena emosi seperti amarah pun demikian.
Istilahnya adalah "hangry", gabungan dari kata "hungry" (lapar) dan "angry" (marah), yang berarti perasaan lapar dan marah yang muncul dalam waktu yang bersamaan.
Ketika tubuh kekurangan asupan, otak kekurangan glukosa. Kondisi ini memengaruhi kemampuan mengendalikan diri, sehingga seseorang lebih mudah menunjukkan perilaku agresif atau mudah tersulut emosi.
“Selain itu, ketika kadar glukosa rendah, otak melepaskan hormon stres yang semakin memperburuk suasana hati," jelas Brewer.
Untuk mencegah kondisi hangry, konsumsi porsi kecil makanan padat nutrisi secara teratur agar tubuh tetap tercukupi.
Cokelat sebagai makanan penghibur
Alasan lain adalah karena cokelat membuat perasaan menjadi lebih baik.
“Beberapa studi pada hewan menunjukkan bahwa tekanan fisik atau emosional meningkatkan konsumsi makanan tinggi lemak dan gula," kata ahli gizi olahraga Rob Hobson.
Hobson menduga, peningkatan kadar kortisol yang dikombinasikan dengan insulin, memiliki peran dalam hal tersebut.
“Setelah dikonsumsi, makanan tinggi lemak dan gula tampaknya memiliki efek umpan balik yang menekan respons dan emosi terkait stres. Makanan tersebut memang benar-benar berfungsi sebagai ‘comfort food’," pungkas dia.