Iran dan Lebanon: Dua Front yang Tak Bisa Dipisahkan
Tangkapan layar dari video militer Israel memperlihatkan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menghancurkan infrastruktur Hizbullah di Lebanon pada 27 April 2026, di tengah masa gencatan senjata kedua kubu.(MILITER ISRAEL via AFP)
09:12
10 Juni 2026

Iran dan Lebanon: Dua Front yang Tak Bisa Dipisahkan

– Upaya Amerika Serikat (AS) untuk memisahkan jalur perundingan damai Iran dan Lebanon terus menemui jalan buntu. 

Washington bersikeras kedua konflik harus ditangani secara terpisah, namun Teheran justru menegaskan keduanya saling terkait dan tidak bisa dilepaskan satu sama lain.

Situasi ini semakin rumit mengingat asal muasal konflik yang memang terjalin erat. 

Baca juga: Trump Klaim Kesepakatan AS-Iran di Tahap Akhir, Tuntas 2-3 Hari Lagi

Perang dengan Iran bermula dari serangan bersama AS-Israel pada 28 Februari.

Di sisi lain, kelompok milisi Lebanon, Hizbullah, ikut menembakkan roket ke Israel tak lama setelahnya. 

Serangan Hizbullah tersebut langsung memantik respons militer Israel yang mematikan, sebagaimana dilansir AFP, Selasa (9/6/2026).

Sina Toossi dari Center for International Policy menyebut pendekatan Washington terlalu menyederhanakan persoalan.

"Strategi Trump adalah memisah-misahkan konflik ini satu per satu. Masalahnya, Iran tidak pernah menerima pemisahan itu," kata Toossi.

Baca juga: Jelang Piala Dunia, AS Tiba-tiba Cabut Alokasi Tiket Suporter Iran

Presiden AS Donald Trump disebut tengah mengejar beberapa tujuan sekaligus.

Di antaranya adalah bernegosiasi dengan Iran, mencegah perang kawasan yang lebih luas, menstabilkan pasar energi, dan mengendalikan krisis di Selat Hormuz.

Semua itu sambil tetap memberi ruang bagi Israel untuk melancarkan kampanye militernya di Lebanon.

Teheran sendiri menuntut agar Lebanon diikutsertakan dalam setiap perjanjian pengakhiran perang dengan Israel dan AS.

Akhir pekan lalu, Iran dan Israel kembali saling serang untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata rapuh berlaku pada 8 April. 

Baca juga: Warga Iran Marah, Sebenarnya Masih Perang atau Damai?

Iran menyatakan serangan itu merupakan balasan atas gempuran Israel ke wilayah selatan Beirut, kantong kekuatan Hizbullah.

Trump sempat meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menahan diri.

Dia khawatir eskalasi akan menggagalkan upaya perdamaian yang disebutnya sudah hampir membuahkan hasil. 

Lebanon terseret sejal awal

Lebanon masuk ke dalam pusaran perang Iran pada 2 Maret, ketika Hizbullah menembakkan roket ke Israel sebagai respons atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Sejak saat itu, Israel melancarkan serangkaian serangan besar-besaran yang telah menewaskan lebih dari 3.600 orang di Lebanon, sekaligus menduduki sebagian besar wilayah selatan negara itu.

Baca juga: Helikopter Apache AS Jatuh Dekat Selat Hormuz, Pertama sejak Perang Iran

Elisa Ewers dari Council on Foreign Relations menilai upaya Trump untuk memisahkan isu Lebanon dari Iran tidak banyak membuahkan hasil.

"Iran sedang menguji keteguhan Presiden Trump dengan terus menuntut agar Lebanon menjadi bagian dari negosiasi awal," ujar Ewers. 

Dia juga menyebut Iran tengah menguji apakah Trump akan terus mendukung serangan Israel.

"Iran berusaha mempertahankan kapabilitas Hizbullah semaksimal mungkin," papar Ewers.

Baca juga: Trump Klaim Iran-Israel Kini Sepakat untuk Saling Diam Seminggu

Hubungan Trump-Netanyahu kian renggang

Di sisi lain, hubungan antara Trump dan Netanyahu dilaporkan semakin menegang. 

AS bahkan telah menggelar empat putaran pembicaraan Israel-Lebanon di Washington.

Itu merupakan negosiasi langsung pertama antara kedua negara dalam beberapa dekade, mengingat keduanya tidak memiliki hubungan diplomatik.

Meski demikian, pembicaraan itu belum mampu menghentikan kekerasan. 

Sejumlah pengumuman gencatan senjata telah ditolak Hizbullah dan diabaikan Israel.

Baca juga: Bukan Sekadar Balas Dendam, Serangan Rudal Iran ke Israel Ungkap Ambisi Teheran

Menurut Toossi, Teheran ingin membuktikan bahwa stabilitas kawasan tidak bisa dipisahkan dari kepentingan keamanan Iran atau kepentingan sekutu-sekutunya.

"Ketegangan nyatanya adalah ini: tindakan Israel di Lebanon berulang kali berisiko merusak tujuan besar Trump untuk menstabilkan kawasan dan mencapai kesepakatan kerangka 'akhir perang' yang lebih luas dengan Iran, yang bisa membuka kembali jalur transit melalui Selat Hormuz," kata Toossi.

Ironi di balik perang

Warga mengibarkan bendera Iran dalam kampanye mendukung Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei di Teheran, 29 April 2026.AFP Warga mengibarkan bendera Iran dalam kampanye mendukung Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei di Teheran, 29 April 2026.

Richard Haas, mantan presiden Council on Foreign Relations, melihat ada semacam "ironi" dalam situasi ini, mengingat Trump justru memulai perang melawan Iran atas dorongan Netanyahu.

"'Perdamaian' ini hampir pasti akan mengganjal hubungan kedua pemimpin dan kedua negara, karena kemungkinan besar tidak akan menyentuh banyak isu yang paling dipedulikan Israel," tulis Haas dalam buletin mingguannya.

Baca juga: Trump Sesumbar Menang Lawan Iran, Harga Minyak Diklaim Bakal Anjlok

Sementara itu, Mona Yacoubian dari Center for Strategic and International Studies berpendapat konflik Lebanon dan Iran pada akhirnya akan berjalan di jalurnya masing-masing.

"Meski saling terhubung, masing-masing konflik digerakkan oleh dinamikanya sendiri yang berkaitan dengan kondisi di lapangan," kata Yacouibian.

Yacoubian memperingatkan, persilangan antara dua konflik ini justru lebih sering memicu eskalasi yang tak terduga, bukan de-eskalasi yang saling memperkuat.

"Sayangnya, persinggungan ini lebih sering menghasilkan eskalasi konflik yang tidak bisa diprediksi, yang merambat dari satu arena ke arena lain, alih-alih deeskalasi yang saling memperkuat," pungkasnya.

Baca juga: Isi Telepon Terungkap, Trump Kesulitan Kendalikan Netanyahu dalam Perang Iran

Tag:  #iran #lebanon #front #yang #bisa #dipisahkan

KOMENTAR