Menlu Iran Murka Usai Diserang AS, Ancam Kerahkan Kekuatan Militer
Peluncuran gelombang ke-41 serangan rudal Iran oleh Garda Revolusi (IRGC) pada Kamis (12/3/2026), menargetkan aset-aset Israel dan Amerika Serikat di Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait.(GARDA REVOLUSI IRAN via AFP)
08:24
10 Juni 2026

Menlu Iran Murka Usai Diserang AS, Ancam Kerahkan Kekuatan Militer

Iran langsung melayangkan ancaman balasan setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap sejumlah sistem pertahanan udara dan radar di sekitar Selat Hormuz, Rabu (10/6/2026) waktu Teheran atau Selasa (9/6/2026) waktu AS. 

Serangan AS itu sendiri merupakan respons atas jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat AS yang jatuh sehari sebelumnya.

Melalui platform media sosial X, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam.

Baca juga: Konflik Pecah Lagi, AS Gempur Iran Usai Helikopter Apache Jatuh

"Meski mengalami kekalahan di medan perang, AS memilih menguji tekad kami. Angkatan Bersenjata kami yang tangguh tidak akan membiarkan satu pun serangan atau ancaman berlalu tanpa jawaban. Tinggalkan kawasan kami jika ingin selamat," tulis Araghchi.

Araghchi juga mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh pasukan asing yang masih beroperasi di sekitar Selat Hormuz, sebagaimana dilansir AFP.

"Selat Hormuz bukan perairan internasional, melainkan wilayah bersama antara Iran dan Oman," tegasnya. 

"Pasukan asing di dekat wilayah kami berada dalam risiko terus-menerus akibat kesalahan manusia mereka sendiri, kecelakaan biasa, atau kemungkinan terseret dalam baku tembak," lanjutnya.

Baca juga: Trump Klaim Kesepakatan AS-Iran di Tahap Akhir, Tuntas 2-3 Hari Lagi

Dia menambahkan, solusi terbaik bagi pasukan asing adalah segera meninggalkan kawasan tersebut. 

"Kami lebih suka bahasa diplomasi, tetapi kami juga fasih berbicara dalam bahasa lain," kata Araghchi.

Serangan AS

Komando Pusat AS atau Central Command (Centcom) menyatakan bahwa serangan dilancarkan atas perintah "Panglima Tertinggi".

Centcom menyebut operasi itu sebagai respons proporsional terhadap agresi Iran yang tidak dapat dibenarkan.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan AS merespons dengan cara yang kuat atas insiden helikopter tersebut.

Baca juga: Jelang Piala Dunia, AS Tiba-tiba Cabut Alokasi Tiket Suporter Iran

"Saya percaya responsnya harus sangat kuat, sangat dahsyat, dan itulah yang terjadi sekarang," kata Trump dalam wawancara telepon dengan ABC News.

Media Axios melaporkan serangan menyasar sistem pertahanan udara dan radar Iran di sekitar Selat Hormuz. 

Media Iran menyebut situasi kini dilaporkan tenang pascaserangan.

Awak helikopter selamat

Helikopter Apache yang jatuh merupakan pesawat berawak kedua yang dikonfirmasi AS ditembak jatuh selama perang berlangsung.

Sebelumnya, sebuah pesawat tempur F-15 juga hilang pada April lalu.

Baca juga: Warga Iran Marah, Sebenarnya Masih Perang atau Damai?

Centcom mengonfirmasi kedua awak helikopter berhasil diselamatkan dalam kondisi stabil setelah pesawat jatuh di dekat pantai Oman. 

Sebuah drone permukaan angkatan laut turut membantu proses evakuasi. Insiden ini memperburuk situasi yang sudah sangat rentan. 

Gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 8 April lalu kembali diuji setelah Iran dan Israel saling serang pada akhir pekan, sebelum keduanya mengumumkan penghentian serangan.

Namun serangan Israel di Lebanon terus berlanjut. Sebanyak 11 orang dilaporkan tewas dalam serangan udara di kota bersejarah Tyre pada Selasa. 

Militer Israel mengeluarkan peringatan agar seluruh warga kota segera mengungsi.

Baca juga: Helikopter Apache AS Jatuh Dekat Selat Hormuz, Pertama sejak Perang Iran

Tag:  #menlu #iran #murka #usai #diserang #ancam #kerahkan #kekuatan #militer

KOMENTAR