AS dan Iran Capai Kesepakatan Awal soal Selat Hormuz, Pasar Energi Belum Tenang
Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.(NASA EARTH OBSERVATORY via AFP)
11:36
25 Mei 2026

AS dan Iran Capai Kesepakatan Awal soal Selat Hormuz, Pasar Energi Belum Tenang

- Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan prinsip untuk pembukaan kembali Selat Hormuz, menurut seorang pejabat AS pada Minggu (24/5/2026). 

Namun, pengumuman tersebut menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab, mulai dari seberapa cepat pengiriman normal melalui selat tersebut dapat dilanjutkan dan kapan harga minyak akan mulai turun.

"Jawaban singkatnya adalah tidak ada yang tahu," Kepala Ekonom High Frequency Economics, kata Carl Weinberg, dikutip dari New York Times, Minggu.

"Satu hal yang pasti, harga tidak akan turun dengan cepat,” sambungnya.

Baca juga: AS Serang Duluan, Kini Salahkan Iran jika Kesepakatan Gagal

Penuh ketidakpastian

Sebelum dimulainya konflik pada 28 Februari, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam dunia melewati Selat Hormuz

Karena rincian kesepakatan masih perlu dirumuskan, belum jelas kendali apa yang akan terus dilakukan Iran atas selat tersebut, termasuk pungutan biaya untuk pelayaran.

Ketidakpastian semakin bertambah pada Minggu (24/5/2026) ketika seorang penasihat militer pemimpin tertinggi Iran mengatakan, negaranya memiliki "hak hukum" untuk mengelola Selat Hormuz.

Pernyataan itu menyiratkan bahwa Iran akan menggunakan pengaruh barunya atas selat tersebut untuk mengumpulkan dana yang sangat dibutuhkan.

Baca juga: Iran Merasa di Atas Angin dalam Kesepakatan Potensial dengan AS

Sekitar 1.500 hingga 2.000 kapal telah terjebak di Teluk Persia akibat konflik dimulai dengan serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran. 

Bahkan, jika selat tersebut secara resmi dibuka kembali dalam waktu dekat, masih banyak variabel yang perlu dipertimbangkan untuk mengembalikan aktivitas pelayaran. 

Hal yang masih menjadi tanda tanya adalah apakah para pengirim barang akan menyimpulkan bahwa perjanjian perdamaian tersebut bersifat permanen dan aman untuk mengirimkan kapal tanker melalui jalur air yang sempit tersebut.

Ketidakpastian juga menyelimuti waktu pembersihan ranjau laut yang ada di Selat Hormuz.

Amerika Serikat dan kekuatan angkatan laut lainnya akan membutuhkan beberapa minggu hanya untuk memobilisasi kapal dan peralatan penyapu ranjau di daerah tersebut, kata Badan Energi Internasional (IEA) dalam sebuah laporan bulan ini. 

Baca juga: Berubah Sikap, Trump Minta AS Tak Buru-buru Capai Kesepakatan dengan Iran

Perusahaan tak mau ambil risiko

Hingga selat tersebut bebas dari bahan peledak, perusahaan asuransi kemungkinan akan menuntut agar kapal dikawal dan mengambil langkah-langkah keselamatan lainnya yang akan menyebabkan penundaan dan menambah biaya perusahaan pelayaran.

“Diperkirakan dibutuhkan minimal dua hingga tiga bulan untuk memulihkan operasi ekspor yang stabil,” kata lembaga tersebut.

Sekalipun kapal berhasil melewati selat tersebut, dibutuhkan waktu beberapa minggu bagi mereka untuk mencapai pelabuhan di Asia dan Eropa. 

Ekonomi global telah melambat sebagai respons terhadap kenaikan harga energi, tetapi efek jangka panjangnya baru akan terlihat jelas dalam beberapa bulan mendatang. 

Baca juga: Trump Redam Kecemasan Netanyahu, Janji Tak Abaikan Nuklir Iran

Akan ada efek samping yang tak terduga. Krisis ini telah mengingatkan pemerintah, perusahaan, dan konsumen betapa rentannya mereka terhadap gangguan pasokan minyak. 

Hal itu dapat menyebabkan perubahan kebijakan, misalnya mendorong pemerintah untuk mempromosikan energi surya dan kendaraan listrik untuk mengurangi ketergantungan mereka pada minyak.

“Bahkan dalam skenario terbaik sekali pun, tidak akan ada pemulihan yang rapi dan bersih seperti semula,” bunyi laporan Dana Moneter Internasional (IMF) bulan lalu.

Tag:  #iran #capai #kesepakatan #awal #soal #selat #hormuz #pasar #energi #belum #tenang

KOMENTAR