Iran Ancam Perluas Perang jika AS-Israel Serang Lagi
Tentara Iran berdiri di depan potret Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei dalam kampanye untuk menggalang solidaritas dan dukungan untuknya, di Teheran pada 29 April 2026.(AFP)
16:54
20 Mei 2026

Iran Ancam Perluas Perang jika AS-Israel Serang Lagi

- Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan, perang Timur Tengah akan meluas ke luar kawasan jika Amerika Serikat dan Israel melanjutkan serangan.

"Jika agresi terhadap Iran diulangi, perang regional yang dijanjikan kali ini akan menyebar jauh melampaui kawasan ini dan pukulan dahsyat kami akan menghancurkan kalian," kata IRGC dalam sebuah pernyataan, dikutip dari AFP, Rabu (20/5/2026).

Peringatan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington dapat menyerang Iran lagi jika tidak ada kesepakatan tercapai dalam beberapa hari mendatang.

Kedua pihak telah meningkatkan ancaman sambil bertukar proposal untuk mengakhiri peran.

"Musuh AS-Zionis harus tahu bahwa meskipun serangan dilancarkan terhadap kita menggunakan kemampuan penuh dari dua tentara termahal di dunia, kita belum mengerahkan kekuatan penuh," tegas IRGC.

Baca juga: Kapal Minyak Korsel Berhasil Lewat Selat Hormuz, Iran Mulai Lunak?

Trump tunda serangan ke Iran

Perang yang berlangsung hampir 40 hari itu membunuh para pemimpin tinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. 

Pada Selasa (19/5/2026), Trump memberikan tenggat waktu beberapa hari untuk melanjutkan serangan jika kesepakatan tidak tercapai. 

Sehari sebelumnya, ia mengatakan bahwa para pemimpin negara-negara Teluk Arab memintanya untuk menunda serangan pada saat-saat terakhir.

"Saya bilang dua atau tiga hari, mungkin Jumat, Sabtu, Minggu, atau sesuatu, mungkin awal minggu depan, jangka waktu terbatas," katanya.

Baca juga: Senat AS Sahkan Resolusi untuk Batasi Kewenangan Trump dalam Perang Iran

Warga Iran latihan menembak

Di tengah bayang-bayang perang, sejumlah warga Iran belajar menggunakan senapan serbu AK-47, sebagai persiapan jika mereka harus membela negara dari serangan Amerika Serikat.

Selama hampir setengah jam, prajurit Garda Revolusi Iran (IRGC) mendemonstrasikan berbagai jenis amunisi, cara merakit, dan membongkar senapan Kalashnikov menggunakan papan bergambar di Lapangan Haft-e Tir. 

Dalam beberapa hari terakhir, pihak berwenang telah mendirikan pos-pos pelatihan militer di seluruh Teheran untuk mengajarkan dasar-dasar penggunaan senjata kepada masyarakat.

Ini merupakan upaya mempersiapkan masyarakat Iran menghadapi kemungkinan kembalinya pertempuran.

Baca juga: Trump Klaim Perang Iran Segera Berakhir, Sebut Teheran Kelelahan

"Respons dari masyarakat, baik perempuan maupun laki-laki, sungguh luar biasa. Ini sepenuhnya sukarela," kata prajurit IRGC, Nasser Sadeghi di stan Haft-e Tir, dikutip dari AFP, Selasa (19/5/2026). 

Menurutnya, sesi-sesi yang dimulai lebih dari dua minggu lalu tersebut mempersiapkan warga sipil dari semua lapisan masyarakat untuk kembali berperang. 

"Tujuannya adalah untuk mempromosikan budaya mati syahid dan membalaskan dendam atas darah pemimpin," jelas dia merujuk pada mendiang pemimpin tertinggi Ali Khamenei yang terbunuh dalam serangan mendadak AS-Israel pada 28 Februari. 

Sejauh ini, pelatihan hanya mencakup penggunaan senapan serbu. Namun, senjata lain juga akan dibawa pelatihan dalam beberapa hari mendatang,

"Tergantung pada apa yang dianggap tepat oleh otoritas yang lebih tinggi," ujarnya.

Baca juga: Harapan Damai Muncul, JD Vance Ungkap Kemajuan Perundingan AS-Iran

Warga ingin balas dendam yang setimpal

Seorang pria berdiri membawa bendera Iran di persimpangan Valiasr Square di Teheran, Senin (6/4/2026). Amerika Serikat dan Iran pada Rabu (8/4/2026) mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu. Respons Negara-negara soal Gencatan Senjata Iran-AS: Sambut Positif dan Desak Perdamaian AbadiAFP/ATTA KENARE Seorang pria berdiri membawa bendera Iran di persimpangan Valiasr Square di Teheran, Senin (6/4/2026). Amerika Serikat dan Iran pada Rabu (8/4/2026) mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu. Respons Negara-negara soal Gencatan Senjata Iran-AS: Sambut Positif dan Desak Perdamaian Abadi

Selama gencatan senjata, Iran dan AS hanya mengadakan satu putaran pembicaraan langsung, yang gagal menghasilkan kesepakatan perdamaian.

Sejak itu, kedua pihak telah bertukar proposal tentang penyelesaian permanen tanpa terobosan.

Pada Senin (18/5/2026), Presiden AS Donald Trump mengatakan, ia berencana melancarkan serangan besar baru terhadap Iran untuk hari berikutnya, tetapi menundanya atas permintaan sekutu-sekutu Teluk yang mendesak agar negosiasi dilanjutkan.

Di Teheran, persiapan untuk kembali berperang terus berlanjut. 

"Kita akan dapat menggunakannya melawan agresi musuh jika suatu hari mereka memiliki niat buruk terhadap negeri ini," kata Fardin Abbasi, seorang pegawai pemerintah (40), setelah mengikuti sesi singkat tentang penggunaan Kalashnikov. 

Baca juga: Saat Ancaman Trump ke Iran Berubah Jadi Ajakan Negosiasi dalam Sehari...

Fatemeh Hossein-Kalantar, seorang ibu rumah tangga (40) mengaku menghadiri pelatihan tersebut karena ingin membalas dendam atas kematian Khamenei. 

"Kami membawa anak-anak dan remaja kami agar mereka dapat melihat pelatihan militer, dan setiap kali pemimpin kami, yang lebih kami sayangi daripada hidup kami, memberi perintah, kami semua akan datang ke medan perang," tuturnya. 

"Pertempuran harus berlanjut sampai kita membalas dendam yang semestinya atas darah pemimpin kita tercinta," lanjutnya. 

Di dekat bilik pelatihan, pos-pos lain menawarkan teh, layanan konseling psikologis, dan dukungan medis, sementara pengeras suara menyiarkan pidato, nyanyian, dan eulogi untuk para komandan militer yang gugur. 

Tag:  #iran #ancam #perluas #perang #jika #israel #serang #lagi

KOMENTAR