Gara-gara Perang, KTT ASEAN Lirik Energi Terbarukan hingga Nuklir
(Kiri ke kanan) Sekretaris Tetap Kementerian Luar Negeri Myanmar U Hau Khan Sum, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul, Perdana Menteri Timor Timur Xanana Gusmao, Perdana Menteri Vietnam Le Minh Hung, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong, Sultan Brunei Hassanal Bolkiah, Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, dan Perdana Menteri Laos Sonexay Siphandone berfoto bers
12:36
8 Mei 2026

Gara-gara Perang, KTT ASEAN Lirik Energi Terbarukan hingga Nuklir

- KTT ASEAN yang berlangsung di Cebu, Filipina, resmi menyoroti urgensi ketahanan energi regional dan stabilitas jalur maritim. 

Fokus ini mencuat sebagai respons terhadap krisis Timur Tengah yang telah memicu lonjakan biaya bahan bakar dan pangan di kawasan Asia Tenggara, sebagaimana dilansir AFP.

Berdasarkan draf dokumen yang diperoleh AFP pada Kamis (7/5/2026), para pemimpin negara anggota ASEAN diharapkan dapat menyerukan penguatan keamanan energi serta memastikan jalur laut yang aman dan terbuka.

Baca juga: Prabowo di KTT ASEAN: Energi Jadi Isu Mendesak Saat Timur Tengah Tak Stabil

Meskipun draf pernyataan tersebut tidak menyebutkan secara spesifik Selat Hormuz dokumen tersebut menekankan pentingnya kelancaran navigasi internasional.

Selat Hormuz, jalur bagi 20 persen minyak dan gas dunia, diblokade Teheran sejak AS-Israel memulai serangan ke Iran pada 28 Februari lalu.

ASEAN menyerukan adanya lintas transit kapal dan pesawat yang aman, tanpa hambatan, dan berkesinambungan di selat-selat yang digunakan untuk navigasi internasional.

Selain masalah jalur laut, dokumen tersebut juga memuat sejumlah proposal untuk mendorong kemandirian energi kawasan.

Di antaranya adalah perluasan jaringan listrik atau ASEAN power grid, transisi ke energi terbarukan, dan eksplorasi penggunaan energi nuklir.

Baca juga: Bahlil Dampingi Prabowo ke KTT ASEAN di Filipina, Bahas Jaringan Listrik Antarnegara

Krisis Myanmar

Di sisi lain, konflik sipil di Myanmar tetap menjadi agenda utama. 

Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn mengungkapkan adanya kemungkinan komunikasi kembali dengan pihak junta Myanmar, meskipun negara tersebut masih dikecualikan dari KTT sejak kudeta militer tahun 2021.

Pihak Filipina memberikan apresiasi atas langkah junta yang memindahkan tokoh demokrasi Aung San Suu Kyi ke tahanan rumah. 

Namun, hingga kini, ASEAN belum mencapai konsensus untuk menerima kembali Myanmar secara penuh ke dalam blok tersebut.

"Para menteri luar negeri telah bertukar pandangan, termasuk usulan untuk mengadakan pertemuan dengan menteri luar negeri Myanmar," ujar Kao Kim Hourn kepada wartawan di sela-sela KTT, Kamis.

Dia menambahkan bahwa pertemuan tersebut kemungkinan tidak dilakukan secara tatap muka langsung. 

"Akan ada sesuatu, mungkin itu akan menjadi pertemuan daring," imbuhnya.

Baca juga: Dampingi Presiden di KTT ASEAN Ke-48, Menko Airlangga Pimpin Delegasi RI pada AECC Meeting

Diplomasi Thailand dan Kamboja

KTT ini juga diwarnai dengan pertemuan mendadak antara pemimpin Thailand dan Kamboja. 

Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet bertemu guna membahas sengketa perbatasan yang sempat memicu bentrokan berdarah.

Kedua negara tersebut diketahui tengah berada dalam masa gencatan senjata yang pada akhir Desember lalu. 

Keduanya mengalami konflik perbatasan menewaskan puluhan orang dan menyebabkan satu juta warga mengungsi. 

Meski gencatan senjata telah berjalan, kedua belah pihak masih sering saling tuduh terkait pelanggaran kesepakatan.

Dalam pengarahan pers, Anutin menyatakan bahwa kedua pemimpin sepakat untuk menugaskan menteri luar negeri masing-masing guna melanjutkan pembicaraan damai yang permanen.

Baca juga: Prabowo Terbang ke Filipina pada Kamis Lusa, Hadiri KTT ASEAN

Tag:  #gara #gara #perang #asean #lirik #energi #terbarukan #hingga #nuklir

KOMENTAR