Siap-siap, Harga Barang Elektronik Bakal Naik Imbas Krisis Hormuz
Foto yang diambil pada 28 April 2026 ini menunjukkan para karyawan yang bekerja di jalur produksi penyedot debu di Perusahaan Teknologi Peralatan Listrik Rimoo di Foshan, Provinsi Guangdong, China. Penyedot debu dan vape bisa menjadi lebih mahal jika perang Iran berlarut-larut lebih lama.(AFP/PEDRO PARDO)
11:24
6 Mei 2026

Siap-siap, Harga Barang Elektronik Bakal Naik Imbas Krisis Hormuz

- Konflik Timur Tengah mulai berdampak nyata pada sektor manufaktur global. Para pemilik pabrik dan pedagang di China memperingatkan bahwa harga barang-barang elektronik terancam melonjak jika perang Iran terus berlanjut.

Pusat manufaktur dunia tersebut kini tertatih menghadapi melambungnya biaya produksi, sebagaimana dilansir AFP, Rabu (6/5/2026). 

Perang yang masih berkecamuk di Iran, ditambah penutupan Selat Hormuz, telah mencekik pasokan minyak Asia. 

Baca juga: Membaca Selat Hormuz, Menyadari Selat Kita

Kondisi ini menghambat produksi plastik, yang merupakan turunan minyak bumi, di seluruh kawasan.

Meskipun China relatif terlindungi dari kelangkaan bahan bakar berkat cadangan minyak dan energi terbarukan, pabrik-pabrik tidak bisa menghindar dari bengkaknya harga bahan baku yang luar biasa.

Bryant Chen, manajer pabrik penyedot debu RIMOO di Foshan, Provinsi Guangdong, mengungkapkan dampak langsung yang dirasakan perusahaannya.

"Pada dasarnya, kami merugi di semua pesanan kami," kata Chen kepada AFP.

Baca juga: Trump Tangguhkan Operasi Pengawalan Kapal Selat Hormuz, Sebut Negosiasi Lancar

Dia menjelaskan bahwa harga plastik telah melonjak sekitar 50 persen sejak perang Iran meletus pada 28 Februari yang dimulai dari serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel. 

Hal ini sangat memengaruhi biaya produksi barang-barang yang mereka buat, mulai dari plastik untuk bodi, tembaga untuk motor penyedot debu, hingga bahan baku kabel listrik.

"Biasanya saat ini kami memasuki musim puncak, tetapi dibandingkan periode yang sama sebelumnya, data pengiriman dan produksi tidak terlalu optimis," ujar pria berusia 42 tahun tersebut.

Kondisi serupa terjadi di Zhangmutou, sebuah pusat penyimpanan plastik yang berjarak dua jam dari Foshan. 

Baca juga: Iran Umumkan Mekanisme Baru Transit di Selat Hormuz, Kapal Tak Bisa Sembarang Lewat

Para pedagang di sana menyebut fluktuasi harga saat ini adalah yang terburuk dalam beberapa dekade terakhir.

"Belum pernah segila ini," tutur Li Dong (46), seorang pedagang yang telah berkecimpung di industri ini selama 20 tahun.

Menurut Li, harga pelet plastik, bahan baku untuk casing ponsel hingga baterai kendaraan listrik, melonjak liar pada Maret lalu. 

Hal ini memicu kepanikan massal di mana pabrik-pabrik berebut stok, hingga menyebabkan kemacetan total di jalan-jalan kota kecil tersebut.

Baca juga: Siap Bersih-bersih Selat Hormuz, Jerman Kirim Kapal Penyapu Ranjau Ke Mediterania

Lebih parah dari pandemi

Li menambahkan bahwa dampak perang Iran terhadap produksi plastik jauh lebih berat dibandingkan kemacetan logistik saat pandemi Covid-19. 

Meskipun harga sempat turun sekitar 10 hingga 20 persen dari titik tertingginya, dia tetap mewaspadai gangguan pasokan minyak lebih lanjut.

"Pabrik yang kami suplai akan menderita paling parah karena biaya langsung mereka akan naik," tuturnya.

Bagi para eksportir, krisis di Timur Tengah ini memperburuk luka lama akibat perang dagang. 

Baca juga: Selat Hormuz Memanas, AS Tegaskan Gencatan Senjata Masih Berlaku

Meskipun Mahkamah Agung AS membatalkan beberapa pungutan tahun lalu, tarif untuk barang-barang China yang masuk ke AS tetap bertahan di angka sekitar 20 persen.

Zhou (55), seorang pemilik pabrik garmen di pinggiran Guangzhou, mengeluhkan ketidakpastian ini. 

Dia menyebut klien luar negeri takut memberikan pesanan, sementara produsen China sulit menentukan harga karena biaya yang terus berubah.

"Akibatnya, semua orang berada dalam kondisi penurunan bersama," kata Zhou.

Baca juga: 2 Kapal Sudah Terjebak, Iran Sebut Rute Baru AS di Selat Hormuz Berbahaya 

Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman AFP/GIUSEPPE CACACE Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman

Dia mencatat harga kain untuk celana olahraga yang diekspor ke Eropa dan Amerika Utara telah naik 10 hingga 20 persen akibat perang. 

Ketika pesanan luar negeri merosot, para penjahit pun kehilangan pekerjaan selama berbulan-bulan.

Meski diliputi ketidakpastian, beberapa pelaku usaha mencoba tetap bertahan. 

Bryant Chen mengatakan RIMOO berencana melakukan ekspansi ke pasar lain di luar Timur Tengah untuk mengurangi ketergantungan.

Baca juga: Hormuz Memanas, Iran Sebut Operasi AS Ilegal

"Kami masih optimistis. Permintaan pasar itu masih ada," tegas Chen.

Namun, para analis memperingatkan bahwa efek domino dari biaya ini akan terasa selama berbulan-bulan ke depan.

"Masalahnya adalah semua biaya ini akan menyaring melalui rantai pasokan sepanjang sisa tahun ini," kata konsultan rantai pasokan, Cameron Johnson. 

"Semakin lama ini berlanjut, masalahnya akan semakin besar, terutama jika pasokan minyak secara umum tidak cukup untuk menjalankan operasional," paparnya.

Baca juga: Iran Bantah AS, Tak Ada Kapal Dagang Selamat Dikawal di Selat Hormuz

Tag:  #siap #siap #harga #barang #elektronik #bakal #naik #imbas #krisis #hormuz

KOMENTAR