Fase Baru Perang Iran di Hormuz Bisa Lebih Bahaya, Ulang Perang Tanker 1980
Kapal Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) saat diduga hendak menyiya kapal kontainer yang menerobos Selat Hormuz pada 21 April 2026. Foto ini diperoleh AFP dari kantor berita Iran, Tasnim. Media AS Sebut Dua Kapal Perang Melintasi Selat Hormuz di Bawah Serangan Iran(TASNIM/MEYSAM MIRZADEH via AFP)
15:54
5 Mei 2026

Fase Baru Perang Iran di Hormuz Bisa Lebih Bahaya, Ulang Perang Tanker 1980

- Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki babak baru yang berbahaya setelah pertempuran pecah di Selat Hormuz pada Senin (4/5/2026). 

Kedua negara kini menggunakan kekuatan militer secara terbuka untuk memecah kebuntuan di jalur pelayaran strategis tersebut.

Konflik yang kembali memanas ini menandai berakhirnya masa tenang selama sebulan terakhir. 

Baca juga: Bukan Milik IRGC, Iran Sebut Serangan AS di Selat Hormuz Targetkan Kapal Sipil

Angkatan Laut AS berupaya membuka kembali Selat Hormuz, sementara Iran meluncurkan serangan ke kapal-kapal komersial agar jalur tersebut tetap tertutup.

Pihak AS melaporkan telah mengerahkan helikopter Apache untuk menenggelamkan sejumlah kapal cepat Iran yang dianggap mengganggu lalu lintas di selat.

Di sisi lain, Iran membalas dengan menyerang pelabuhan minyak krusial di Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA), serta beberapa kapal di sekitar wilayah tersebut.

Kepala Komando Pusat AS atau Central Command (Centcom) Laksamana Brad Cooper mengonfirmasi, pasukannya merespons gangguan Iran dengan serangan balik yang menghancurkan setidaknya enam kapal cepat Iran.

Baca juga: Memanas, Iran Tuduh AS Tembaki 2 Kapal Sipil dan Tewaskan 5 Warga di Hormuz

"Presiden telah menyatakan bahwa jika proses ini diganggu, kami akan bereaksi keras. Dan dalam 12 jam terakhir, Iran telah melakukan gangguan," ujar Cooper.

Bahkan, Cooper menyebut Iran sempat menembakkan rudal jelajah ke arah kapal perang AS, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Selasa (5/5/2026). 

Menanggapi hal itu, Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras. 

Trump mengancam akan menyapu Iran dari muka bumi jika mereka berani menargetkan kapal-kapal AS.

Baca juga: Kapal Kargonya Diserang di Selat Hormuz, Korsel Pertimbangkan Gabung Operasi AS

Ancaman "perang tanker"

Penutupan Selat Hormuz dan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran telah memutus pasokan jutaan barrel minyak ke pasar global. 

Kondisi ini memicu lonjakan harga bahan bakar dan menekan ekonomi dunia. 

Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak hingga mencapai kisaran 111 dollar AS per barel.

Bryan Clark, mantan pejabat senior Angkatan Laut AS yang kini menjadi peneliti di Hudson Institute, menilai fase baru konflik ini mulai menyerupai "Perang Tanker" yang pernah terjadi antara Iran dan Irak pada medio 1980-an.

"Mereka (AS) pada dasarnya mencoba menekan Iran agar menyerah dan memulihkan akses jalur laut. Karena hal itu tidak terjadi, mereka kini terpaksa mencoba mengawal kapal-kapal," kata Clark.

Perang Tanker  adalah kampanye serangan terhadap kapal tanker minyak komersial yang terjadi selama perang Irak-Iran, terutama berpusat di Teluk Persia.

Baca juga: AS Serang 7 Kapal Iran, Project Freedom Trump di Selat Hormuz Dimulai

Pengawalan kapal

AS sendiri juga meluncurkan inisiatif "Project Freedom" untuk mengawal kapal-kapal komersial keluar dari Teluk Persia.

Di sisi lain, Iran menegaskan tidak akan mundur. 

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan bahwa setiap pergerakan kapal tanpa izin mereka akan menghadapi risiko serius.

"Tidak ada perubahan dalam pengelolaan Selat Hormuz. Pergerakan maritim yang bertentangan dengan prinsip yang diumumkan Angkatan Laut IRGC akan menghadapi risiko serius," kata juru bicara IRGC Sardar Mohebbi,  dikutip dari kantor berita Tasnim.

Baca juga: Makin Memanas, AS Klaim Serang 7 Kapal Iran di Selat Hormuz

Para pemilik kapal internasional masih ragu untuk melintasi Selat Hormuz meskipun ada tawaran pengawalan dari AS. 

Keamanan yang belum terjamin menjadi alasan utama para operator besar untuk tetap menahan kapal mereka.

"Beberapa perusahaan pelayaran mungkin mempertimbangkan usulan AS dan mengambil risiko. Namun bagi operator besar, itu tidak realistis. Mereka butuh jaminan keamanan yang saat ini memang tidak ada," ungkap Lars Jensen, CEO Vespucci Maritime yang berbasis di Denmark.

Baca juga: Remehkan Serangan Iran di Selat Hormuz, Trump Sebut Hanya Perang Mini

Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman AFP/GIUSEPPE CACACE Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman

Kondisi di lapangan saat ini digambarkan jauh dari kata damai. 

Sekitar seperlima pasokan minyak dunia masih tertahan di jalur tersebut sejak AS melakukan serangan awal pada 28 Februari.

Yoruk Isik, analis pelacakan kapal dan kepala firma konsultan maritim Bosphorus Observer, menegaskan bahwa situasi di lapangan sangat mencekam. 

"Hari ini, kondisinya adalah kondisi perang. Tidak ada gencatan senjata," paparnya.

Baca juga: AS Klaim Tenggelamkan 6 Kapal Iran di Selat Hormuz, Teheran Bantah

Tag:  #fase #baru #perang #iran #hormuz #bisa #lebih #bahaya #ulang #perang #tanker #1980

KOMENTAR