Maskapai AS Kena Dampak Perang Iran, Mengemis ke Trump Miliaran Dollar
- Sebuah organisasi untuk maskapai penerbangan berbiaya murah di Amerika Serikat (AS) meminta pemerintahan Trump untuk memberikan dana sebesar 2,5 miliar dollar AS (Rp 43 triliun).
Jumlah tersebut digunakan untuk mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar jet dan menjaga harga tiket pesawat tetap terjangkau, menurut laporan CBS News, Rabu (29/4/2026).
The Association of Value Airlines mengatakan, maskapai penerbangan kecil adalah yang paling terpukul oleh kenaikan harga bahan bakar.
Mereka mengatakan bahwa dukungan pemerintah untuk sementara akan membantu melestarikan persaingan industri yang vital secara sehat.
Adapun kelompok ini mewakili perusahaan maskapai penerbangan Frontier, Allegiant, Avelo, dan Sun Country.
Baca juga: Dampak UEA Keluar dari OPEC: Perang Harga Minyak Dunia Mengintai
Anggota lainnya, Spirit Airlines, secara terpisah dikabarkan sedang bernegosiasi dengan pemerintah AS mengenai potensi kesepakatan pembiayaan.
Tujuannya untuk menjaga maskapai yang sedang kesulitan tersebut tetap beroperasi di tengah guncangan harga bahan bakar selama kebangkrutan keduanya sejak tahun 2024.
Sementara itu, Pemerintahan Trump juga sedang menjajaki penggunaan Undang-Undang Produksi Pertahanan dalam strateginya untuk menyelamatkan Spirit Airlines, menurut para pejabat AS yang mengetahui diskusi tersebut kepada CBS News pekan lalu.
Undang-Undang itu adalah kewenangan darurat yang biasanya digunakan untuk memaksa perusahaan sektor swasta memprioritaskan kontrak pemerintah dan meningkatkan pasokan barang-barang penting.
Baca juga: Khawatir Krisis Perang Iran, Trump Adakan Rapat dengan Bos-bos Minyak
Bahan bakar pesawat naik akibat perang Iran
Menurut laporan Reuters, Senin (27/4/2026), lonjakan harga bahan bakar jet akibat perang Iran telah mengacaukan industri penerbangan global, termasuk AS.
Kondisi ini memaksa maskapai penerbangan untuk menaikkan tarif dan merevisi prospek keuangan mereka.
Harga bahan bakar jet telah melonjak dari 85-90 dollar AS (Rp 1,4-1,5 juta) per barel menjadi 150-200 dollar AS (Rp 2,6-3,4 juta) per barel dalam beberapa minggu terakhir.
Ini menjadi sebuah pukulan finansial bagi industri penerbangan yang mana bahan bakar menyumbang hingga seperempat dari biaya operasional.
Baca juga: Krisis Selat Hormuz: Babak Baru AS-China Rebutan Energi Masa Depan
Ekonomi AS terdampak penutupan Selat Hormuz
Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak akhir Februari memberikan dampak pada perekonomian AS karena adanya kekurangan minyak.
Dikutip dari Al Jazeera, Rabu (29/4/2026), Presiden Trump bersikeras bahwa Washington tidak membutuhkan minyak yang masuk melalui Selat Hormuz karena AS adalah pengekspor minyak.
Meski demikian, tetap ada efek domino, salah satunya adalah harga bahan bakar di AS telah meningkat secara signifikan.
Baca juga: Manuver China Saat Krisis Selat Hormuz, antara Diplomasi dan Ambisi
Harga solar naik, harga barang kebutuhan pokok naik, dan masyarakat merasakan peningkatan biaya hidup, sesuatu yang menurut Trump tidak akan terjadi selama masa jabatannya.
Namun faktanya, itu sedang terjadi sekarang dan dirasakan oleh masyarakat AS termasuk maskapai penerbangan.
Tag: #maskapai #kena #dampak #perang #iran #mengemis #trump #miliaran #dollar