Pentagon Masih Bungkam soal Serangan AS-Israel di Sekolah Iran, Tuai Sorotan
Sebuah sekolah dasar putri di Minab, Iran yang kena rudal saat serangan militer AS dan Israel, menewaskan 165 orang dan 96 orang terluka.()
15:36
29 April 2026

Pentagon Masih Bungkam soal Serangan AS-Israel di Sekolah Iran, Tuai Sorotan

- Pentagon kini berada di bawah sorotan tajam setelah bungkam selama dua bulan terkait serangan Amerika Serikat-Israel di sebuah sekolah dasar di Minab, Iran. 

Kritik pedas datang dari lima mantan pejabat tinggi AS, termasuk mantan pengacara militer senior, yang menilai sikap Pentagon tidak lazim karena enggan merilis detail dasar serangan yang menewaskan 168 orang, termasuk 110 anak-anak tersebut.

Tragedi ini terjadi pada 28 Februari 2026, bertepatan dengan serangan pembuka dalam eskalasi perang AS-Israel di wilayah Iran

Dua bulan sejak itu, Pentagon hingga kini hanya memberikan jawaban normatif bahwa insiden tersebut masih dalam proses penyelidikan. 

Baca juga: Pergeseran Takhta Iran, Dominasi IRGC di Balik Melemahnya Kekuasaan Ulama

Temuan awal ungkap keterlibatan AS

Pada awal Maret, dikutip daro BBC, Rabu (29/4/2026), penyelidik militer AS meyakini pasukannya kemungkinan bertanggung jawab atas serangan sekolah tersebut secara tidak sengaja, tetapi belum mencapai kesimpulan akhir.

Seorang pejabat Pentagon mengatakan, insiden ini sedang diselidiki. Menurutnya, rincian lebih lanjut akan diberikan ketika tersedia.

BBC telah meninjau tiga kasus bersejarah di mana warga sipil tewas selama operasi militer AS dan dalam setiap kasus, informasi yang dirilis oleh Pentagon jauh lebih banyak dalam waktu kurang dari sebulan.

"Posisi AS saat ini sangat menyimpang dari respons standar," kata Letnan Kolonel Rachel E VanLandingham, seorang pensiunan Jaksa Agung di Angkatan Udara AS dan mantan penasihat hukum senior di Komando Pusat AS selama perang di Irak dan Afghanistan.

"Pemerintahan di masa lalu setidaknya telah menunjukkan kesetiaan, komitmen terhadap hukum perang," sambungnya.

Menurutnya, hal yang hilang dari pemerintah adalah komitmen terhadap akuntabilitas dan memastikan hal ini tidak terjadi lagi.

Baca juga: Analis China Temukan Titik Lemah Militer AS akibat Perang Iran

Trump malah tuduh Iran

Pada 7 Maret, Presiden Donald Trump menilai, Iran bertanggung jawab atas serangan Minab, tanpa memberikan bukti. 

Beberapa hari kemudian, ketika ditanya tentang video yang menunjukkan rudal Tomahawk AS menghantam pangkalan militer di sebelah sekolah, dia mengaku belum melihatnya.

Trump justru menuding Iran memiliki rudal Tomahawk, sekali lagi tanpa menunjukkan bukti.

Pada 11 Maret, ketika ditanya tentang laporan bahwa penyelidikan militer awal menemukan bahwa AS menyerang sekolah tersebut, Trump mengatakan belum mengetahuinya.

Baca juga: Ancaman Kehilangan Pekerjaan Menghantui Jutaan Warga Iran akibat Perang

Sementara, Menteri Pertahanan Pete Hegseth hanya menjawab proses penyelidikan masih berlangsung. 

"Yang bisa saya katakan adalah bahwa kami sedang menyelidiki hal itu. Tentu saja, kami tidak pernah menargetkan sasaran sipil," jelas dia.

Departemen Pertahanan AS menolak menjawab berbagai pertanyaan tentang serangan tersebut. 

Mereka berulang kali menolak menjawab apakah pangkalan militer Iran di sebelah sekolah itu merupakan salah satu target yang telah direncanakan sebelumnya pada tanggal 28 Februari.

Baca juga: Krisis Selat Hormuz: Babak Baru AS-China Rebutan Energi Masa Depan

Laporan ungkap rudal AS hantam sekolah

Sejumlah perempuan menangis saat pemakaman anak-anak yang tewas dalam serangan di sebuah sekolah dasar di provinsi Hormozgan, Iran, di Minab pada 3 Maret 2026.ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP Sejumlah perempuan menangis saat pemakaman anak-anak yang tewas dalam serangan di sebuah sekolah dasar di provinsi Hormozgan, Iran, di Minab pada 3 Maret 2026.

Bulan lalu, BBC secara independen mengkonfirmasi video yang menunjukkan rudal Tomahawk AS menghantam pangkalan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) di sebelah sekolah tersebut. 

Laporan media AS mengutip pejabat militer yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan penyelidikan awal telah menentukan bahwa rudal AS menghantam sekolah tersebut. 

Ini disebabkan oleh koordinat target sudah usang yang diberikan oleh badan intelijen AS. Pentagon belum berkomentar tentang laporan tersebut.

Mantan penasihat senior Pusat Keunggulan Perlindungan Sipil Pentagon, Wes Bryant mengatakan, penyelidikan pendahuluan militer akan secara rutin dilakukan untuk menetapkan dua hal, yakni apakah kerugian sipil benar-benar terjadi dan apakah AS beroperasi di daerah tersebut pada saat itu dan dapat menyebabkannya.

Baca juga: Menhan AS Diinterogasi Kongres Terkait Perang Iran, Negosiasi Kandas Dipertanyakan

"Ketika Anda memenuhi kedua kriteria tersebut, barulah investigasi secara resmi dimulai," katanya.

"Dari sudut pandang proses, itu semakin menunjukkan bahwa mereka sudah tahu bahwa AS yang menyebabkan ini, jika tidak, mereka tidak akan melakukan investigasi ini dan mereka hanya tidak ingin mengakuinya atau membicarakannya," sambungnya.

Menurutnya, tidak bisa memberikan komentar sama sekali merupakan hal yang sangat tidak dapat diterima.

Seorang mantan pejabat pertahanan lainnya mengatakan bahwa investigasi terhadap beberapa kasus korban sipil memang biasanya memakan waktu lama, tergantung pada kompleksitas situasinya. 

"Namun, kasus ini sangat tidak jelas, karena dari situasinya saya dapat mengatakan bahwa sebenarnya tidak terlalu rumit," kata mantan pejabat tersebut.

"Biasanya Pentagon akan langsung atau relatif cepat mengambil tanggung jawab dan kemudian mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk memberikan semua detailnya, jadi menurut saya ini bermasalah," tambah mantan pejabat itu.

Tag:  #pentagon #masih #bungkam #soal #serangan #israel #sekolah #iran #tuai #sorotan

KOMENTAR