Trump Minta AS Siap-siap Hadapi Blokade Iran Berkepanjangan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menghadiri diskusi kebijakan tip tanpa pajak di AC Hotel Las Vegas Symphony Park, Las Vegas, Negara Bagian Nevada, 16 April 2026. Trump Tanggapi Proposal Iran untuk Buka Selat Hormuz dan Akhiri Perang(AFP/JIM WATSON)
11:06
29 April 2026

Trump Minta AS Siap-siap Hadapi Blokade Iran Berkepanjangan

- Presiden Amerika Serikat Donald Trump menginstruksikan jajarannya untuk bersiap menghadapi blokade berkepanjangan terhadap Iran. 

Langkah ini diambil sebagai strategi untuk menguras cadangan devisa Teheran hingga mereka bersedia menyerahkan uranium yang diperkaya dan menghentikan total program nuklirnya.

Dikutip dari The Wall Street Journal, Selasa (28/4/2026), dalam pertemuan baru-baru ini, Trump memilih untuk terus menekan ekonomi Iran dengan mencegah pengiriman logistik dari dan menuju pelabuhan-pelabuhan utama negara tersebut. 

Ia menilai, strategi blokade memiliki risiko yang lebih kecil dibandingkan opsi militer lainnya.

Baca juga: UEA Keluar OPEC, Tanda Keretakan Negara-negara Teluk

Harga mahal blokade Iran

Meski dinilai aman dari segi militer, blokade tanpa batas waktu ini membawa konsekuensi ekonomi yang berat. 

Kebijakan ini memicu kenaikan harga gas global dan menyebabkan volume transit di Selat Hormuz mencapai titik terendah sejak perang dimulai.

Meski dinilai aman dari segi militer, blokade tanpa batas waktu ini membawa konsekuensi ekonomi yang berat. 

Baca juga: UEA Hengkang dari OPEC di Tengah Perang AS-Iran, Arab Saudi Hadapi Beban Lebih Besar

Kebijakan ini memicu kenaikan harga gas global dan menyebabkan volume transit di Selat Hormuz mencapai titik terendah sejak perang dimulai.

Sejak mengakhiri kampanye pengeboman besar-besaran dalam gencatan senjata 8 April, Trump berulang kali menarik kembali niatnya untuk meningkatkan konflik, membuka ruang bagi diplomasi setelah sebelumnya mengancam akan menghancurkan seluruh peradaban Iran.

Namun, ia masih ingin memperketat cengkeramannya pada rezim tersebut hingga mereka menyerah pada tuntutan utamanya, yakni membongkar semua program nuklir Iran. 

Baca juga: Gagal Dibendung, Trump Punya Lampu Hijau untuk Aksi Militer di Kuba

Dilema militer dan ekonomi

Seorang pejabat senior AS mengeklaim, blokade tersebut terbukti menghancurkan ekonomi Teheran dan memicu upaya pendekatan baru dari pihak Iran ke Washington. 

Namun, para ahli memperingatkan adanya risiko besar di balik ketenangan ini," jelas pejabat itu.

“Iran memperhitungkan bahwa kemampuan mereka untuk bertahan melampaui kepentingan AS dalam mencegah krisis energi dan resesi global,” ujar Suzanne Maloney, pakar Iran dari Brookings Institution.

Baca juga: Donald Trump Taruh Wajah dan Tanda Tangan Emasnya di Paspor AS

Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan bahwa AS telah mencapai tujuan militernya.

Saat ini, Washington merasa memiliki pengaruh maksimal dalam negosiasi nuklir berkat keberhasilan penutupan akses pelabuhan Iran tersebut.

Beberapa pejabat dan sekutu di luar pemerintahan, seperti Senator Lindsey Graham secara terbuka mendesak Gedung Putih untuk terus menekan Teheran. 

Yang lain, termasuk para pemimpin bisnis yang dekat dengan presiden, khawatir bahwa penutupan Selat Hormuz atau perang yang lebih lanjut hanya akan merugikan perekonomian dan berpotensi menjadi pukulan telak secara politik menjelang pemilihan paruh waktu November.

Baca juga: Warga AS Ramai Pindah ke Selandia Baru, Tak Puas dengan Politik Trump

Trump ngotot tak mau cabut tuntutan Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat turun dari pesawat kepresidenan Air Force One, ketika tiba di Bandara Internasional Harry Reid, Las Vegas, Negara Bagian Nevada, 16 April 2026.AFP/JIM WATSON Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat turun dari pesawat kepresidenan Air Force One, ketika tiba di Bandara Internasional Harry Reid, Las Vegas, Negara Bagian Nevada, 16 April 2026.

Para pejabat mengatakan, saat ini Trump belum bersedia mencabut tuntutannya agar Iran berjanji untuk menangguhkan pengayaan nuklirnya selama 20 tahun dan menerima pembatasan setelah itu.

“Saya tidak heran dia belum menerima kesepakatan itu karena kesepakatan itu sama sekali tidak membahas masalah nuklir,” kata Eric Brewer, mantan analis senior untuk Iran di komunitas intelijen AS. 

“Mengapa Anda menerima kesepakatan Iran sementara Anda masih menunggu untuk melihat apakah Anda dapat menyebabkan masalah ekonomi serius bagi Iran melalui taruhan blokade ini?” lanjutnya.

Pada Senin (28/4/2026), Iran mengatakan kepada para mediator bahwa mereka membutuhkan beberapa hari untuk berkonsultasi dengan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei sebelum mengajukan proposal yang dimodifikasi dan dapat memajukan pembicaraan perdamaian dengan AS.

Namun, para mediator regional tetap skeptis bahwa tawaran terbaru Iran akan memicu terobosan. 

Baca juga: Trump Sudah Ancang-ancang Lawan China, Bidik dengan Golden Dome

Keengganan Iran

Para pejabat Iran terus mengatakan bahwa Washington harus mencabut tuntutan maksimalis sambil tetap mempertahankan blokade mereka sendiri di Selat Hormuz.

“Kedua belah pihak tampaknya percaya, mereka telah memperhitungkan hal ini dengan benar dan bahwa waktu berpihak kepada mereka,” kata Nico Lange, direktur Institut Analisis Risiko dan Keamanan Internasional Jerman dan mantan kepala staf di kementerian pertahanan Jerman.

Para pejabat pemerintahan Trump menyadari bahwa Teheran dapat mencoba mengganggu upaya untuk mempertahankan situasi tanpa kesepakatan dan tanpa perang saat ini dalam jangka waktu yang lama.

Saat blokade semakin ketat, Iran mungkin akan berusaha memaksa Washington memilih antara meningkatkan konflik atau mundur dan mencapai kesepakatan. 

Teheran dapat melanjutkan serangannya terhadap produksi energi regional atau menargetkan aset angkatan laut AS yang menegakkan blokade.

Tag:  #trump #minta #siap #siap #hadapi #blokade #iran #berkepanjangan

KOMENTAR