Kapal-kapal Tanker Iran Macet di Selat Hormuz, Blokade AS Sukses?
Antrean panjang kapal tanker minyak Iran di sekitar pusat ekspor utama negara itu memunculkan tanda-tanda kuat bahwa blokade laut Amerika Serikat mulai berdampak nyata.
Citra satelit terbaru menunjukkan aktivitas ekspor masih berjalan, tetapi tersendat oleh tekanan operasional yang meningkat.
Di tengah ketegangan kawasan, Washington tetap mempertahankan blokade meski ada gencatan senjata sementara dengan Teheran.
Baca juga: Trump Jual Mahal, Suruh Iran Telepon Duluan jika Mau Akhiri Perang
Antrean tanker mengular di Pulau Kharg
Pulau Kharg memiliki nilai strategis yang sangat tinggi bagi Teheran karena menjadi titik keberangkatan bagi sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran.
Citra satelit bertanggal 26 April yang dirilis perusahaan intelijen maritim Windward, seperti dilansir Newsweek, memperlihatkan dua kapal tanker besar dengan kapasitas gabungan 3 juta barrel sedang memuat minyak di dermaga timur dan barat Pulau Kharg, pusat ekspor utama Iran yang menangani lebih dari 90 persen pengiriman minyak tahun lalu.
Namun, di balik aktivitas tersebut, terlihat antrean setidaknya delapan kapal tanker besar yang menunggu giliran muat. Windward menyebut kondisi ini sebagai tekanan operasional yang terlihat jelas.
“Penumpukan ini menunjukkan tekanan yang meningkat pada kapasitas ekspor, dengan kapal-kapal menumpuk di area jangkar sambil menunggu slot pemuatan,” tulis Windward.
“Kombinasi pemuatan aktif dan antrean yang terus bertambah menunjukkan aktivitas ekspor masih berlangsung, tetapi terhambat oleh ritme operasional, keterbatasan infrastruktur, atau dinamika penegakan eksternal.”
Blokade AS tetap jalan
Pemerintahan Donald Trump tetap mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan Iran meski telah menyepakati gencatan senjata dua minggu sejak 7 April, yang kemudian diperpanjang.
Gedung Putih mengungkapkan bahwa Trump dan tim keamanan nasionalnya telah membahas proposal Iran terkait Selat Hormuz.
Sekretaris pers Karoline Leavitt mengatakan, proposal tersebut masih ditinjau, tanpa merinci isi pembahasan. Ia menambahkan, Trump akan menyampaikan sikapnya kemudian.
Lalu lintas kapal anjlok drastis
Ketegangan meningkat setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menutup Selat Hormuz untuk lalu lintas sipil menyusul serangan bom AS dan Israel ke Teheran pada 28 Februari.
IRGC terus menghalangi kapal komersial dengan ranjau laut, drone, dan serangan rudal.
Akibatnya, lalu lintas kapal merosot tajam. Pusat Informasi Maritim Gabungan yang dikelola AS mencatat hanya empat kapal yang melintas pada Minggu, jauh di bawah rata-rata sebelum perang yang mencapai 138 kapal per hari.
Baca juga: Selat Hormuz Jadi Taruhan, Iran Minta Isu Nuklir Tak Dibahas Dulu
Strategi tekan ekonomi Iran
Blokade yang ditegakkan oleh United States Central Command bersama Armada ke-5 sejak 13 April bertujuan membatasi keluar-masuk barang ke pelabuhan Iran, termasuk energi dan senjata.
Namun, pejabat AS seperti Menteri Keuangan Scott Bessent secara lebih gamblang menyebut tujuan utamanya, yaitu memaksa Iran menyimpan minyak alih-alih mengekspor, sehingga produksi turun dan pendapatan negara tergerus.
Analis Kpler, Homayoun Falakshahi, mengatakan, dampaknya mulai terasa.
“Blokade AS mulai secara nyata mengganggu aliran minyak Iran, dengan aktivitas pemuatan yang anjlok dan kapasitas penyimpanan yang cepat penuh,” ujarnya.
Ia memperkirakan produksi minyak Iran bisa turun dari 2,75 juta barrel per hari menjadi hanya 1,2–1,3 juta barrel per hari pada pertengahan Mei jika blokade terus berlanjut.
Jaringan “shadow fleet” ikut diburu
Lebih dari 90 persen minyak Iran yang terkena sanksi dijual ke kilang kecil di China melalui jalur langsung atau transfer ilegal di laut lepas, termasuk di perairan Malaysia.
Untuk memperketat tekanan, Kantor Pengawasan Aset Asing AS (OFAC) menjatuhkan sanksi terhadap sekitar 40 perusahaan dan kapal yang terlibat dalam jaringan “shadow fleet”.
Salah satu kapal yang disasar adalah tanker gas berbendera Panama, Sevan, yang dicegat Angkatan Laut AS di Laut Arab tak lama setelah meninggalkan Teluk Persia.
Kapal tersebut diketahui kerap mengirim muatan ke Bangladesh dan kelompok Houthi di Yaman.
Angkatan Laut AS menyatakan telah memutar balik 38 kapal hingga hari ke-14 operasi.
Baca juga: Sekutu Sebut AS Dipermalukan Iran di Meja Perundingan, Puji Kemampuan Teheran
Tag: #kapal #kapal #tanker #iran #macet #selat #hormuz #blokade #sukses