Dilema Trump Usai Negosiasi Damai AS-Iran Gagal
Kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan pada Sabtu (11/4/2026) memunculkan dilema besar bagi Presiden AS Donald Trump.
Menurut laporan South China Morning Post, Trump dihadapkan pada pilihan sulit: melanjutkan serangan militer atau menahan diri.
Jika AS kembali meningkatkan aksi militer, langkah itu berpotensi mendapat tentangan dari dalam negeri, terutama menjelang pemilu paruh waktu. Sebaliknya, jika tidak ada tindakan militer lanjutan, maka kebuntuan dengan Iran akan terus berlanjut, khususnya terkait akses ke Selat Hormuz yang menjadi jalur vital bagi minyak global.
Baca juga: Trump Bela Israel yang Langgar Gencatan Senjata, Sebut Lebanon Tak Termasuk Kesepakatan
Situasi ini menempatkan Trump dalam posisi serba sulit antara risiko politik domestik dan tekanan strategis di kawasan.
Isu nuklir jadi batu sandungan
Citra satelit dari Vantor memperlihatkan situs nuklir Iran di Natanz dengan beberapa kerusakan yang diduga akibat serangan, ketika dipublikasi pada Senin (2/3/2026).
Perundingan selama 21 jam di Islamabad membahas dua isu utama, yakni program nuklir Iran dan akses ke Selat Hormuz. Namun, kedua pihak tidak mencapai titik temu.
Pejabat Iran menuding AS mengajukan “tuntutan berlebihan”, yang membuat masa depan gencatan senjata dua minggu menjadi tidak pasti.
Wakil Presiden AS J.D. Vance menegaskan bahwa isu nuklir menjadi hambatan utama. Ia menyebut Washington membutuhkan “komitmen tegas” dari Iran bahwa negara tersebut tidak akan mengembangkan senjata nuklir maupun kemampuan untuk membuatnya dengan cepat.
Analis menilai jarak posisi kedua negara masih sangat lebar. Profesor hubungan internasional dari Renmin University, Shi Yinhong, menyatakan, Iran kecil kemungkinan akan berkompromi soal kemampuan nuklirnya.
“Jika Iran sepenuhnya memenuhi tuntutan AS terkait Selat Hormuz dan potensi pengembangan nuklirnya, hal itu akan dipandang di dalam negeri sebagai kekalahan total,” ujarnya.
Ia juga menilai sangat sulit bagi AS untuk sepenuhnya menghilangkan kemampuan nuklir Iran.
Shi menambahkan bahwa situasi saat ini menunjukkan kombinasi antara konfrontasi dan negosiasi yang berjalan bersamaan.
“Secara keseluruhan, konflik tampaknya memasuki fase konfrontasi dan negosiasi secara bersamaan,” katanya.
“Perundingan tetap penuh kesulitan, sementara aksi militer juga tidak mungkin meningkat secara signifikan. Oleh karena itu, situasi kemungkinan akan menetap menjadi kebuntuan yang berkepanjangan,” lanjutnya.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Institute of Central Asian Studies di Lanzhou University, Yang Shu.
Ia menyebut kedua pihak masih jauh dari kesepakatan, terutama terkait isu nuklir. Menurutnya, proposal 10 poin Iran yang mencakup pengakuan hak memperkaya uranium merupakan “formulasi yang sengaja dibuat samar” dan bertolak belakang dengan tuntutan AS.
Baca juga: Trump Mau Hukum NATO Imbas Tak Dibantu Saat Perang Iran
Potensi eskalasi
Meski negosiasi buntu, konflik diperkirakan tetap berlanjut. “Amerika Serikat juga kemungkinan akan meningkatkan intensitas serangannya,” kata Yang, yang menilai target bisa mencakup fasilitas minyak Iran.
Namun, ia menekankan bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk membalas serangan, sehingga kapasitas tersebut tidak bisa diselesaikan hanya lewat negosiasi.
Hal ini juga akan menyulitkan AS untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan bahwa selat tersebut hanya terbuka bagi kapal nonmiliter yang mematuhi aturan tertentu.
Sementara itu, AS mengeklaim telah mengirim dua kapal perang untuk operasi pembersihan ranjau, meski klaim itu dibantah Teheran.
Meski demikian, Direktur South China Sea Strategic Situation Probing Initiative, Hu Bo, menilai opsi AS di Selat Hormuz terbatas.
“Meskipun memiliki angkatan laut terkuat di dunia, Amerika Serikat tetap menghadapi kendala serius dalam menghadapi strategi anti-akses/penolakan area Iran. Washington mungkin mencoba membuka paksa Selat Hormuz, tetapi langkah itu akan berbiaya tinggi dan hasilnya tidak pasti,” ujarnya.
Trump terjepit tekanan politik
Dekan School of International Relations di Universitas Nanjing, Zhu Feng, menyebut kegagalan negosiasi sebagai kemunduran bagi kedua pihak, namun bukan akhir dari jalur diplomasi. Ia menilai penyesuaian dan tawar-menawar masih mungkin terjadi.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa Trump tampak enggan berlama-lama dengan konflik ini.
“Bagi Amerika Serikat, Trump tidak ingin menghabiskan terlalu banyak waktu untuk isu Iran,” katanya.
Baca juga: Menhan AS Sebut Iran Memohon Gencatan Senjata, Klaim Teheran Takut Ancaman Trump