Risiko Tinggi Wapres AS: Tolak Perang Iran, Kini Disuruh Mengakhiri
- Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance berada dalam posisi berisiko tinggi untuk perundingan AS-Iran di Pakistan akhir pekan ini.
Vance tidak pernah menginginkan pertempuran ini pecah, tetapi justru diutus oleh Presiden AS Donald Trump ke Islamabad.
Peristiwa ini menempatkan Vance, yang selama konflik Timur Tengah relatif tidak menonjol, pada salah satu momen paling menentukan dalam karier politiknya.
Baca juga: Islamabad Lockdown, Ini 5 Hal tentang Negosiasi AS-Iran di Pakistan
Aaron Wolf Mannes, dosen Kebijakan Publik Universitas Maryland, menilai peran yang diemban Vance sangat tidak biasa bagi seorang wakil presiden.
"Saya tidak dapat membayangkan kasus ketika wakil presiden memimpin negosiasi formal seperti ini," kata Mannes kepada AFP, dikutip pada Jumat (10/4/2026).
"Ini berisiko tinggi, imbalannya juga tinggi," tambahnya.
Penunjukan ini juga menarik perhatian karena latar belakang Vance sebagai politisi yang dikenal anti-intervensi militer.
Ia membangun citra politiknya dengan menentang keterlibatan Amerika dalam perang luar negeri, termasuk berdasarkan pengalamannya sebagai mantan Marinir AS di Irak.
Situasi menjadi kompleks setelah Trump melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Menurut laporan New York Times, dalam diskusi tertutup sebelum perang, Vance justru menentang aksi militer tersebut karena berpotensi memicu kekacauan regional dan memecah koalisi politik Trump.
Meski demikian, Vance tetap mendukung keputusan bosnya secara terbuka, tetapi memilih menjaga jarak dari sorotan publik selama pertempuran berlangsung.
Baca juga: Pembicaraan AS-Iran Tak Jelas, Belum Ada Delegasi Hadir di Pakistan
Peran penting di balik layar
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance saat berpidato di pertemuan tahunan National Catholic Prayer Breakfast di Washington DC, Jumat (28/2/2025).Saat gencatan senjata diumumkan, wapres berusia 41 tahun ini berada di Hongaria untuk mendukung kampanye Perdana Menteri Viktor Orban.
Kini, perannya berubah drastis menjadi penengah utama dalam upaya diplomasi Washington.
"Peran kunci saya adalah, saya banyak berbicara di telepon," kata Vance kepada wartawan saat meninggalkan Hongaria.
"Saya menjawab banyak telepon. Saya banyak menelepon, dan sekali lagi, saya senang dengan posisi kita saat ini," imbuhnya.
Gedung Putih juga menegaskan bahwa Vance memainkan peran penting sejak awal proses negosiasi.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyebutkan, Vance memiliki peran sangat signifikan dan kunci dalam hal ini sejak awal.
Utusan khusus Amerika Serikat untuk perang Rusia-Ukraina, Steve Witkoff (kanan), dan menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner (kiri), bersama utusan perekonomian Kremlin Kirill Dmitriev (belakang), menjelang pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskwa, 2 Desember 2025.Dalam kunjungannya ke Pakistan, Vance akan didampingi oleh utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Kunjungan ini menjadikannya wakil presiden AS pertama yang datang ke Pakistan sejak Joe Biden pada 2011.
Gedung Putih juga menyatakan, Vance berkoordinasi erat dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Witkoff, dan Kushner dalam isu ini.
"Presiden optimistis bahwa kesepakatan dapat dicapai yang dapat mengarah pada perdamaian abadi di Timur Tengah," kata Wakil Sekretaris Pers Utama Anna Kelly.
Sejumlah pihak menilai Iran mungkin melihat Vance sebagai mitra negosiasi yang lebih dapat diterima, mengingat sikap sebelumnya yang menentang perang dan keraguannya terhadap intervensi militer AS.
Hal itu juga tercermin saat Vance merespons ketegangan terkait serangan Israel ke Lebanon, dengan menyebut adanya kemungkinan kesalahpahaman yang logis dari pihak Iran.
Baca juga: Netanyahu Akan Diadili Pekan Ini, Sempat Tertunda Imbas Perang Iran
Modal pilpres 2028
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua DPR AS Mike Johnson saat pidato kenegaraan pertama Trump di House Chamber, Gedung Capitol, Washington DC, Selasa (4/3/2025).Meski demikian, gaya komunikasi Vance tidak selalu diplomatis.
Ia sempat memicu ketegangan antara Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Februari 2025, terkait sikapnya terhadap dukungan AS untuk Ukraina.
Peran diplomatik ini juga berlangsung di tengah dinamika politik domestik AS.
Vance disebut sebagai kandidat kuat dalam pemilihan presiden 2028 dari Partai Republik, tetapi harus bersaing dengan nama lain seperti Marco Rubio.
Menurut Mannes, hasil dari negosiasi ini dapat berdampak langsung pada masa depan politik Vance.
"Jika dia bisa mendapatkan sesuatu yang menutupi masalah tanpa harus berurusan dengan isu-isu nyata, itu mungkin sudah cukup," ujarnya.
"Tetapi jika tak ada hasil baik dari ini, itu menimbulkan pertanyaan tentang kompetensinya, yang tidak akan membantunya secara elektoral. Dan tentu saja Rubio ada di sana sebagai saingan potensial untuk 2028," pungkasnya.
Baca juga: Mayoritas Warga AS Ingin Trump Dimakzulkan, Perang Iran Jadi Pemicu
Tag: #risiko #tinggi #wapres #tolak #perang #iran #kini #disuruh #mengakhiri