Selat Hormuz Masih Sepi Usai Gencatan Senjata, Hanya 10 Kapal yang Lewat
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih jauh dari normal meski gencatan senjata dalam perang antara Amerika Serikat dan Iran telah diberlakukan.
Data pelacakan maritim, sebagaimana dilansir AFP, menunjukkan hanya segelintir kapal yang melintasi jalur strategis tersebut sejak kesepakatan damai diumumkan.
Situasi ini dipengaruhi kekhawatiran keamanan yang masih membayangi kawasan, sehingga beberapa kapal masih ragu-ragu untuk melintas.
Baca juga: Trump Geram Iran Pungut Tarif Tol di Selat Hormuz, Sebut Tak Sesuai Kesepakatan
Lalu lintas kapal masih minim
Ilustrasi Selat Hormuz.
Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Selasa (7/4/2026) malam waktu AS, hanya sepuluh kapal yang tercatat melintasi Selat Hormuz, terdiri dari empat kapal tanker dan enam kapal kargo curah. Dari jumlah tersebut, hanya satu kapal tanker yang bukan berasal dari Iran.
Kapal berbendera Gabon bernama "MSG" diketahui melintas dengan membawa sekitar 7.000 ton bahan bakar minyak dari Uni Emirat Arab menuju India.
Sementara itu, sekitar selusin kapal lain diperkirakan akan melintas, namun mayoritas masih terkait dengan Iran atau negara yang tidak bermusuhan dengan Teheran.
Pemimpin redaksi Lloyd’s List, Richard Meade, mengatakan, "Selat ini tetap terbuka atau tertutup seperti sebelumnya" sebelum rencana gencatan senjata diumumkan.
Analis Lloyd’s List Intelligence, Bridget Diakun, menambahkan, "Lalu lintas dalam sepekan terakhir berada 90 persen di bawah level normal dan hampir sepenuhnya didorong oleh perdagangan Iran."
Menurut analis Kpler, Ana Subasic, jumlah pelayaran diperkirakan hanya mencapai 10 hingga 15 kapal per hari, "jika gencatan senjata bertahan."
Rute alternatif yang dikendalikan Iran
Iran mengumumkan rute alternatif pelayaran di Selat Hormuz dengan alasan adanya risiko ranjau laut di jalur utama. Garda Revolusi Iran (IRGC) menetapkan rute yang melintasi dekat Pulau Larak.
Baca juga: Sekutu AS Buka Lagi Kedutaan di Iran, Jadi Negara Barat Pertama yang Kembali ke Teheran
IRGC juga menyatakan bahwa kapal hanya dapat melintasi selat dengan koordinasi bersama angkatan laut Iran. Beberapa laporan bahkan menyebutkan kapal harus membayar biaya tertentu untuk melintas.
Financial Times melaporkan Iran kemungkinan akan mengenakan biaya satu dollar AS (Rp 17.080) per barel minyak yang melewati selat, yang dibayarkan dalam bentuk mata uang kripto.
Selain itu, muncul rumor bahwa kapal harus masuk dalam daftar yang disetujui atau bahwa negara asal kapal akan diperingkat, dengan perlakuan lebih baik bagi negara yang bersahabat dengan Iran.
Ratusan kapal masih terjebak
Ketidakpastian keamanan membuat banyak pemilik kapal ragu untuk kembali beroperasi di jalur tersebut. Jakob Larsen dari asosiasi pelayaran internasional BIMCO menyatakan, "Meninggalkan Teluk saat ini tidak disarankan" tanpa koordinasi dengan Amerika Serikat dan Iran.
Sekitar 800 kapal dilaporkan masih terjebak di kawasan Teluk sejak perang dimulai pada 28 Februari. Perusahaan pelayaran Jerman, Hapag-Lloyd, bahkan menyatakan belum akan melanjutkan operasinya di rute tersebut.
Data Kpler juga menunjukkan sekitar 172 juta barel minyak mentah dan produk olahan berada di laut di kawasan tersebut, tersebar di 187 kapal tanker.
Serangan berkurang
Sejak gencatan senjata dimulai, belum ada laporan serangan baru terhadap kapal. Namun, IRGC mengklaim telah melakukan tiga serangan antara Sabtu hingga Selasa, dengan satu insiden dikonfirmasi oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Sejak awal Maret, total 30 kapal komersial, termasuk 13 kapal tanker, dilaporkan menjadi sasaran atau mengalami insiden di kawasan tersebut.
Baca juga: Mayoritas Warga AS Ingin Trump Dimakzulkan, Perang Iran Jadi Pemicu
Tag: #selat #hormuz #masih #sepi #usai #gencatan #senjata #hanya #kapal #yang #lewat