Saat Kedubes Iran Ramai-ramai Balas Ancaman Trump Secara 'Selow'
Kedutaan Besar Iran di berbagai negara menjadi media sosial sebagai ''perang urat saraf'' terhadap ancaman-ancaman yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump. [Suara.com]
13:08
6 April 2026

Saat Kedubes Iran Ramai-ramai Balas Ancaman Trump Secara 'Selow'

Dunia maya mendadak berubah menjadi medan pertempuran diplomatik yang tidak biasa, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan beragam ancaman keras untuk menghancurkan Iran sehingga 'kembali ke zaman batu'.

Sejak Perang Iran versus AS dan Israel berlangsung pada 28 Februari 2026, Trump kerapkali melontarkan ancaman secara verbal, baik dalam pidato maupun unggahan-unggahannya di media sosial Truth Social.

Ancaman-ancaman Trump itu seringkali disertai caci-maki maupun bahasa yang kasar. Namun, pihak Teheran justru menanggapi hal itu secara santai alias selow.

Alih-alih hanya mengeluarkan pernyataan militer yang kaku, kedutaan besar dan konsulat Iran di seluruh dunia justru menggunakan media sosial X (dahulu Twitter) untuk mengejek Trump dengan campuran humor, meme, dan kritik tajam.

Terbaru, hal itu terjadi ketika Trump mengunggah peringatan penuh umpatan di platform Truth Social.

Ia mengancam akan menjadikan hari Selasa (7/4) besok, sebagai waktu penghancuran bagi jembatan dan pembangkit listrik di Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka.

“Hari Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya dirangkum menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat itu sialan, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka – LIHAT SAJA! Puji Allah,” tulis Trump dalam unggahan yang memicu kemarahan sekaligus ejekan tersebut.

'Perang Meme dan Satire'

Respons terkoordinasi dari korps diplomatik Iran muncul hampir seketika. Kedutaan Besar Iran di Bulgaria, misalnya, mengunggah tangkapan layar pernyataan Trump dengan pesan singkat yang meremehkan.

“Tenang saja, macan. Tetaplah tenang.” tulis Kedutaan Iran di Bulgaria melalui akun resminya.

Tak mau ketinggalan, Konsulat Iran di Hyderabad, India, mengunggah sebuah video meme dengan takarir yang menyindir kebiasaan Trump mengubah-ubah tenggat waktu.

Sementara itu, Kedutaan Besar Iran di Thailand melontarkan kritik yang lebih filosofis sekaligus pedas mengenai standar kepemimpinan seorang presiden.

“Kami tahu bahwa beberapa orang Amerika mengumpat, tetapi apakah ini yang terbaik dan terhalus dari Anda sebagai Presiden AS? Apakah ini cara Anda ingin direpresentasikan di dunia? Jaga bahasamu!” tulis pihak kedutaan.

Dalam unggahan lanjutannya, Kedutaan Iran di Thailand bahkan menyamakan gaya komunikasi Trump dengan perilaku remaja yang tidak dewasa.

“Menilai dari cara Presiden AS mengumpat seperti remaja, tampaknya AS telah mencapai Zaman Batu lebih cepat dari yang diperkirakan.” tambah mereka, merujuk pada ancaman Menteri Pertahanan AS sebelumnya yang ingin mengirim Iran kembali ke Zaman Batu.

Sebelumnya, Kedubes Iran di Arab Saudi juga membuat meme yang mengejek Trump terkait pergantian rezim, dan viral seantero dunia.

Lalu, Kedubes Iran di Zimbabwe juga tak ketinggalan. Mereka mengunggah satu kalimat pendek, "Trump, tolong bicara, kami bosan."

Peringatan Serius: AS Akan Menuju Neraka yang Nyata

Di balik ejekan dan meme tersebut, para pejabat tinggi Iran tetap memberikan peringatan keras mengenai dampak nyata dari kebijakan agresif Trump.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa langkah sembrono Washington dapat membakar seluruh kawasan Timur Tengah.

“Langkah sembrono Anda menyeret Amerika Serikat ke dalam NERAKA yang nyata bagi setiap keluarga, dan seluruh wilayah kita akan terbakar karena Anda bersikeras mengikuti perintah Netanyahu... Jangan salah: Anda tidak akan mendapatkan apa pun melalui kejahatan perang.” tegas Ghalibaf melalui akun X miliknya.

Bahkan akun resmi mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei—yang dilaporkan gugur dalam serangan udara gabungan AS-Israel di hari pertama perang—masih mengunggah pesan yang berbunyi, “Tamparan demi tamparan…” sebagai bentuk perlawanan simbolis yang terus berlanjut.

Serangan Balik Statistik: Siapa yang Sebenarnya 'Bastard'?

Salah satu bagian yang paling viral dalam perang urat syaraf ini adalah cara akun True Promise milik Garda Revolusi Iran (IRGC) menanggapi hinaan Trump yang menyebut orang Iran sebagai "bastards" (anak haram/orang bejat).

Alih-alih membalas dengan umpatan serupa, mereka justru menyajikan data statistik kelahiran di Amerika Serikat sebagai bentuk sindiran balik.

“Kira-kira 40% anak-anak di AS lahir dari ibu yang tidak menikah, dengan angka mencapai puncaknya sekitar 40,7% pada tahun 2012... Keberanian yang luar biasa untuk memanggil orang lain ‘Bastards’,” tulis akun tersebut sambil menyertakan emoji tertawa.

Di sisi lain, Misi Tetap Iran untuk PBB mendesak dunia internasional agar tidak menutup mata terhadap ancaman serangan infrastruktur sipil yang jelas-jelas melanggar hukum perang.

“Jika hati nurani Perserikatan Bangsa-Bangsa masih hidup, ia tidak akan tinggal diam menghadapi ancaman terang-terangan dan tidak tahu malu dari Presiden Amerika Serikat yang haus perang untuk menargetkan infrastruktur sipil. Trump berupaya menyeret kawasan ini ke dalam perang tanpa akhir.” tulis pernyataan resmi mereka.

Editor: Bernadette Sariyem

Tag:  #saat #kedubes #iran #ramai #ramai #balas #ancaman #trump #secara #selow

KOMENTAR