AS-Israel Serang 30 Universitas Iran, Fasilitas Sipil Tak Lagi Aman Saat Perang?
- Serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran semakin banyak menyasar infrastruktur sipil, termasuk lembaga pendidikan dan pusat penelitian medis.
Salah satu serangan terbaru terjadi pada Jumat (3/5/2026) yang menghantam Institut Penelitian Laser dan Plasma di Universitas Shahid Beheshti, utara Teheran.
Tidak ada korban jiwa dalam serangan itu, mengingat sebagian besar kampus kosong setelah semua kelas di seluruh negeri dipindahkan ke daring oleh pemerintah hingga pemberitahuan lebih lanjut.
AS dan Israel tidak secara resmi mengungkapkan alasan di balik serangan itu.
“Tindakan permusuhan ini tidak hanya menargetkan keamanan akademisi dan lingkungan ilmiah negara, tetapi juga merupakan serangan nyata terhadap akal sehat, penelitian, dan kebebasan berpikir,” kata universitas tersebut dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Al Jazeera.
Baca juga: AS Temukan Pilot F-15E yang Jatuh di Iran dalam Kondisi Selamat
AS dianggap kembali ke Zaman Batu
Menteri Ilmu Pengetahuan, Penelitian, dan Teknologi, Hossein Simaei Saraf mengatakan, setidaknya 30 universitas telah terkena dampak serangan AS dan Israel sejak awal perang pada 28 Februari.
Menurutnya, para ilmuwan Iran telah menjadi sasaran selama beberapa dekade dan menunjukkan bahwa beberapa profesor Universitas Shahid Beheshti lainnya dibunuh oleh Israel selama perang tahun lalu.
“Menyerang universitas dan pusat penelitian berarti kembali ke Zaman Batu,” kata Hossein, merujuk pada ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengebom Iran agar kembali ke Zaman Batu.
Universitas besar lainnya yang diserang selama perang yang sedang berlangsung adalah Universitas Sains dan Teknologi Teheran, yang salah satu pusat penelitiannya hancur lebur dan departemen lainnya rusak seminggu yang lalu.
Fasilitas tersebut mengerjakan pengembangan satelit buatan dalam negeri.
Baca juga: Melihat Proses Pelontaran Darurat Pilot Jet Tempur, antara Hidup dan Mati
Fasilitas medis dan produksi vaksin lumpuh
AS dan Israel juga menyerang Institut Pasteur di pusat kota Teheran, yang didirikan lebih dari 100 tahun yang lalu bekerja sama dengan Institut Pasteur yang terkenal secara internasional di Paris, tetapi sekarang beroperasi secara independen.
Lembaga ini bergerak di bidang penyakit menular, memproduksi vaksin dan produk biologis, serta menyediakan diagnostik canggih.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang bekerja sama dengan dua departemen institut tersebut sebagai pusat kolaborasi, mengkonfirmasi bahwa institut tersebut mengalami kerusakan signifikan dan tidak dapat lagi melanjutkan pemberian layanan kesehatan.
Baca juga: Apa yang Terjadi jika Iran Lebih Dulu Temukan Pilot F-15E AS?
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menuturkan, lebih dari 20 serangan telah menargetkan fasilitas perawatan kesehatan di Iran sejak awal Maret.
Sebuah perusahaan farmasi besar diserang di dekat Teheran pekan ini.
Pemerintah Iran menyatakan, serangan itu bertujuan untuk mengganggu jalur pasokan obat-obatan, sementara Israel mengeklaim perusahaan tersebut terkait dengan produksi senjata kimia.
Serangan AS dan Israel juga berdampak pada sekolah, rumah, dan bisnis di seluruh negeri, menewaskan lebih dari 2.000 orang, menurut pihak berwenang Iran.
Jet tempur terbang rendah di atas Teheran pada Jumat malam, melancarkan serangan yang menerangi daerah pegunungan di utara ibu kota.
Baca juga: Iran Balas Ultimatum 48 Jam Trump: Pintu Neraka Akan Terbuka Untukmu
Pabrik petrokimia dan baja hancur
Jet tempur A-10 Thunderbolt, atau yang lebih dikenal dengan julukan Warthog, milik Angkatan Udara Amerika Serikat (AS).
AS dan Israel juga semakin memfokuskan serangan udara mereka pada target ekonomi yang dapat memiliki dampak luas bagi warga sipil Iran.
Pengeboman besar-besaran pada Sabtu (4/4/2026) menargetkan zona ekonomi di kota Mahshahr yang kaya minyak, salah satu pusat industri terpenting Iran dan sumber utama pendapatan ekspor.
Sejumlah kilang minyak mengalami kerusakan parah, dan seorang pejabat setempat mengatakan setidaknya lima orang terluka.
Hal ini terjadi sehari setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sesumbar bahwa militernya telah menghancurkan 70 persen kapasitas produksi baja Iran.
Baca juga: Di Balik Misi Selamatkan Pilot F-15E di Iran, Nyawa Unit Elite AS Jadi Taruhan
Pada hari yang sama, dua gelombang serangan udara besar-besaran merusak jembatan B1 di dekat Teheran secara signifikan.
Setidaknya delapan orang tewas dan lebih dari 90 orang terluka. Serangan itu terjadi ketika sejumlah besar keluarga sipil sedang merayakan Sizdah Bedar, atau Hari Alam, bersama-sama di daerah tersebut.
Jembatan gantung setinggi 136 meter yang baru saja selesai dibangun ini akan secara signifikan mengurangi lalu lintas antara Teheran dan Karaj di dekatnya.
Jembatan ini dibangun oleh para insinyur Iran selama beberapa tahun.
Trump langsung merayakan penargetan tersebut dengan merilis video bagian-bagian jembatan yang runtuh dan memperingatkan bahwa akan ada lebih banyak lagi yang menyusul.
Tag: #israel #serang #universitas #iran #fasilitas #sipil #lagi #aman #saat #perang