Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan
- Satu bulan setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari lalu, wajah Teheran berubah drastis.
Bagi Fatemeh (27), asisten dokter gigi di Teheran, segelas kopi di kafe adalah satu-satunya cara untuk meyakinkan diri bahwa kiamat belum tiba.
"Ketika saya berhasil duduk di meja kafe, bahkan hanya beberapa menit, saya hampir bisa percaya bahwa dunia belum berakhir," kata dia, dikutip dari AFP, Rabu (1/4/2026).
Menurutnya, kunjungan singkat ke kafe adalah upaya untuk "keluar dari perang" dan membayangkan kembali kehidupan normal yang kini terasa sangat mewah.
Jika jeda dalam pengeboman memungkinkan tidur malam yang lebih nyenyak, Fatemeh akan berdandan dan berpakaian rapi untuk membuat kunjungannya ke kafe menjadi lebih istimewa.
Baca juga: AS Sebut Akhir Perang Iran Sudah Terlihat, Sinyal Damai Sebentar Lagi?
Kehidupan jauh dari normal
Warga Teheran menggambarkan kotanya masih menjalani rutinitas, dengan kafe dan restoran yang buka, tidak ada kekurangan yang dilaporkan di supermarket atau SPBU, dan orang-orang berusaha mempertahankan sebagian kehidupan sosial mereka.
Akan tetapi, mereka tahu bahwa kehidupan jauh dari normal karena AS dan Israel terus menerus melakukan pengeboman terhadap sejak 28 Februari.
Terdapat pos pemeriksaan keamanan di jalan-jalan yang dulunya tenang dan internet telah diblokir atau diperlambat secara drastis untuk semua hal kecuali layanan domestik.
Jendela-jendela rumah juga ditutup dengan lakban untuk mencegahnya pecah jika terjadi serangan.
Baca juga: Sumber Keamanan PBB Sebut Israel Pelaku Serangan Batalion Indonesia di Lebanon
Kekhawatiran akan masa depan pasca-perang
Selain rasa takut terbunuh atau kehilangan orang tercinta, warga juga diliputi kecemasan tentang masa depan, tentang negara seperti apa yang akan mereka tinggali, dan bagaimana mereka akan memenuhi kebutuhan hidup di tengah perekonomian yang runtuh.
Warga yang setuju untuk berbagi pesan dengan AFP hanya memberikan nama depan mereka karena takut akan konsekuensi jika identitas mereka diketahui oleh pihak berwenang.
"Akhir-akhir ini, saya lebih banyak tinggal di rumah dan hanya keluar jika benar-benar terpaksa. Satu-satunya hal yang tersisa dari rutinitas hidup saya sebelum perang yang membantu saya tetap bersemangat adalah memasak," ungkap Shahrzad (39).
"Terkadang saya mendapati diri saya menangis di tengah-tengahnya. Saya merindukan hari-hari biasa, kehidupan di mana saya tidak perlu terus-menerus memikirkan ledakan, kematian, atau kehilangan orang-orang yang saya cintai," lanjutnya.
Kendati demikian, ia berusaha tetap kuat demi putrinya.
"Tapi ketika aku memikirkan masa depan, aku tidak bisa membentuk gambaran yang jelas dalam pikiranku yang bisa kupegang dengan harapan," ujarnya.
Baca juga: Presiden Iran Nyatakan Siap Akhiri Perang, Asalkan...
Perayaan Nowruz yang muram
Warga Iran mengibarkan bendera negara saat menghadiri pemakaman para komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang tewas dalam serangan Amerika Serikat-Israel, di Lapangan Enghelab, Teheran, 11 Maret 2026.
Selama seminggu terakhir, warga Teheran telah berusaha sebaik mungkin untuk merayakan hari raya tradisional Persia, Nowruz.
Ini merupakan sebuah festival yang biasanya membuat orang meninggalkan kota atau merayakannya di rumah bersama keluarga.
"Tidak ada kelaparan, semuanya tersedia. Kafe buka, dan kami masih pergi ke kafe. Ada bensin, air, dan listrik," kata Shayan (40), seorang fotografer.
"Namun, ada rasa ketidakberdayaan dalam diri kita semua. Kita tidak tahu harus berbuat apa dan sebenarnya tidak ada yang bisa kita lakukan. Tidak ada suasana Nowruz yang sesungguhnya sama sekali, tetapi kami mencoba memaksakan diri," tambahnya.
Baca juga: Trump Umumkan Perang Lawan Iran Berakhir 3 Minggu Lagi, AS Segera Tarik Pasukan
Meskipun toko dan restoran buka hingga pukul 21.00, banyak orang tidak keluar rumah setelah siang hari.
Sebagai kelanjutan dari tren yang dimulai beberapa bulan sebelum perang, semakin banyak perempuan yang secara terbuka tidak mengenakan jilbab.
Televisi pemerintah bahkan mewawancarai perempuan yang tidak mengenakan penutup kepala di berbagai demonstrasi, asalkan mereka menyatakan sentimen pro-pemerintah.
Baca juga: Krisis Energi akibat Perang Iran, Asia Berisiko Kena Dampak Terparah
Rindu tidur malam dengan tenang
Elnaz (32), seorang pelukis yang tinggal di Teheran, mengaku teringat betapa dia merindukan hidup sederhana.
"Kami merindukan hal-hal sederhana, seperti pergi keluar malam atau sekadar bisa pergi ke bagian lain kota," jelas dia.
"Aku merindukan hal sesederhana berbelanja di tempat lain selain toko kelontong kecil atau toko roti di jalan tempatku tinggal. Aku rindu membaca di kafe, pergi ke taman, semua hal yang sangat, sangat sederhana itu," lanjutnya.
Namun, hal yang paling dirindukannya adalah tidur malam dengan tenang.
Baca juga: Eskalasi Memanas, AS Terbangkan Bomber B-52 Langsung di Atas Daratan Iran
Menurutnya, pada beberapa malam, serangan begitu hebat sehingga terasa seperti seluruh Teheran bergetar.
"Semuanya kembali pada satu hal, bertahan hidup. Hanya memikirkan bagaimana tetap hidup bersama semua orang yang saya cintai. Teman-teman saya, keluarga saya, dan orang-orang di kota saya, yang terlihat lebih baik dari sebelumnya di masa sulit ini," katanya.
Suasana muram, menurut warga, diperparah oleh cuaca hujan yang tidak biasa dan kontras dengan sinar matahari musim semi yang biasa dinikmati orang-orang saat Nowruz.
Potret anak-anak yang tewas dalam serangan dipajang di alun-alun, sementara bendera raksasa Iran menutupi bangunan-bangunan yang telah hancur menjadi reruntuhan.
"Pada akhirnya, bagi banyak orang, kekhawatiran terpenting adalah masa depan Iran dan rakyatnya, sertaa apa yang sebenarnya dapat memperbaiki situasi," tutur warga bernama Kaveh (38).
Tag: #potret #warga #iran #saat #perang #kafe #jadi #pelarian #risaukan #masa #depan