Lebanon Tak Berdaya, Usir Dubes Iran tapi Tak Digubris
Ilustrasi Lebanon.(AFP/IBRAHIM AMRO)
12:12
31 Maret 2026

Lebanon Tak Berdaya, Usir Dubes Iran tapi Tak Digubris

Pemerintah Lebanon menghadapi krisis kewibawaan setelah upayanya mengusir Duta Besar Iran tidak membuahkan hasil.

Meski telah menyatakan sang diplomat sebagai persona non grata, Beirut gagal memaksakan keputusannya.

Penolakan Iran untuk menarik duta besarnya menyoroti lemahnya posisi negara tersebut di tengah tekanan geopolitik.

Baca juga: 3 Prajurit TNI di UNIFIL Lebanon Gugur, Asal Proyektil Masih Misteri

Dubes Iran diusir, tapi tetap bertahan

Dilansir The Wall Street Journal, Senin (30/3/2026), Kementerian Luar Negeri Lebanon pekan lalu menyatakan bahwa Duta Besar Iran, Mohammad Reza Sheibani, sebagai persona non grata dan memerintahkannya meninggalkan negara itu sebelum batas waktu yang ditentukan.

Langkah ini diambil setelah kelompok bersenjata Hizbullah meluncurkan serangan ke Israel, yang kemudian memicu invasi baru Israel ke wilayah Lebanon. Serangan tersebut disebut sebagai bentuk dukungan terhadap Iran.

Namun, upaya pengusiran itu tidak berjalan efektif. Iran menegaskan bahwa kedutaannya tetap beroperasi dan duta besar mereka akan tetap menjalankan tugas di Beirut.

Pejabat Lebanon sendiri mengakui bahwa praktik diplomatik membuat mereka tidak bisa secara paksa mengeluarkan seseorang dari kompleks kedutaan.

Upaya Lebanon melemahkan Hizbullah

Anggota kelompok bersenjata di Lebanon, Hizbullah, membawa peti mati pemimpin Hashem Safieddine dalam prosesi pemakamannya di kampung halamannya di Deir Qanun Al Nahr, 24 Februari 2025.AFP/MAHMOUD ZAYYAT Anggota kelompok bersenjata di Lebanon, Hizbullah, membawa peti mati pemimpin Hashem Safieddine dalam prosesi pemakamannya di kampung halamannya di Deir Qanun Al Nahr, 24 Februari 2025.

Pengusiran duta besar Iran merupakan bagian dari langkah lebih luas pemerintah Lebanon untuk menegaskan kembali otoritasnya.

Beirut bahkan sempat mengambil langkah tidak biasa dengan melarang Hizbullah serta menuntut kelompok itu menyerahkan senjatanya setelah mulai menembakkan roket ke Israel.

Namun, langkah tersebut tidak membuahkan hasil. Hizbullah mengabaikan perintah tersebut dan tetap melanjutkan aktivitas militernya.

“Iran dan Garda Revolusi Islam (IRGC) adalah kekuatan pendudukan di Lebanon,” kata David Schenker.

“Mereka mendominasi negara ini dan tidak mengakui kedaulatan pemerintah Lebanon.”

Baca juga: Proyektil Hantam Batalion Indonesia di Lebanon, Satu Pasukan Perdamaian PBB Tewas

Lebanon kembali jadi medan konflik

Eskalasi yang dipicu oleh serangan Hizbullah berujung pada respons militer besar dari Israel, termasuk serangan udara dan invasi darat.

Konflik ini telah menewaskan ratusan orang, termasuk banyak militan, serta memaksa lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi.

Kemarahan publik terhadap Hizbullah pun meningkat, meski kelompok tersebut tetap mampu bertahan dari tekanan. Keterlibatannya dalam konflik justru menggagalkan upaya negara untuk mengontrol perbatasan dan memonopoli penggunaan kekuatan bersenjata.

“Iran mengaktifkan front Lebanon, membatalkan kemajuan yang sedang dibuat negara,” ujar Paul Salem.

Pemerintah Lebanon sebenarnya sempat lebih percaya diri setelah Israel melemahkan kepemimpinan Hizbullah dalam konflik sebelumnya.

Negara itu mencoba mengurangi pengaruh kelompok tersebut, termasuk di bandara Beirut, serta bekerja sama dengan Amerika Serikat dan Israel untuk menghancurkan posisi dan gudang senjata Hizbullah di selatan.

Namun, upaya melucuti kelompok itu sepenuhnya gagal. Hizbullah tetap menunjukkan kekuatan militernya dengan meluncurkan serangan roket besar ke Israel.

Kondisi ini membuat frustrasi pihak Amerika Serikat dan Israel. Pemerintah Lebanon dinilai tidak mampu bertindak tegas, sebagian karena lemahnya militer dan kekhawatiran memicu perang saudara seperti yang pernah terjadi pada 1970-an hingga awal 1990-an.

“Jika Lebanon tidak menjadi mitra untuk melucuti Hizbullah, maka pemerintah akan kehilangan pengaruh dan segala sesuatu akan dipaksakan kepada mereka,” kata Hanin Ghaddar.

Ancaman eskalasi berlanjut

Israel menyatakan akan tetap mempertahankan kehadiran militernya di Lebanon selatan hingga ancaman dari Hizbullah benar-benar hilang.

Sejak gencatan senjata pada November 2024, Israel dilaporkan telah melakukan lebih dari 2.000 serangan udara untuk mencegah kelompok tersebut kembali menguat.

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, bahkan menyebut Lebanon sebagai “negara virtual yang dalam praktiknya diduduki oleh Iran.”

Selama lebih dari empat dekade, Iran memang memiliki pengaruh besar di Lebanon, terutama melalui dukungan terhadap Hizbullah dan kehadiran Garda Revolusi.

“Negara Lebanon sedang mencoba mengambil posisi baru, tetapi masih lemah,” kata Salem.

Baca juga: Perang Iran Belum Selesai, Israel Malah Makin Brutal Gempur Lebanon

Tag:  #lebanon #berdaya #usir #dubes #iran #tapi #digubris

KOMENTAR