Kisah Guru Banting Setir ke Bidang Kematian, Raup Rp 101 Miliar
Ilustrasi peti mati.(SHUTTERSTOCK)
15:06
28 Februari 2026

Kisah Guru Banting Setir ke Bidang Kematian, Raup Rp 101 Miliar

– Industri pemakaman di China kini tengah bertransformasi menjadi bisnis global yang menjanjikan. 

Salah satu sosok yang berhasil menangkap peluang tersebut adalah Lisa Liu (29), seorang mantan guru asal Kota Heze, Provinsi Shandong, yang alih profesi menjadi sales peti mati ekspor.

Dilansir dari SCMP, Senin (16/2/2026), Liu berhasil mencatatkan nilai penjualan tahunan mencapai 6 juta dollar AS atau sekitar Rp 101 miliar. 

Produk unggulannya adalah peti mati yang menyasar pasar Eropa, khususnya Italia.

Baca juga: Bodycam Masih Nyala, Polisi AS Ketahuan Selingkuh dengan Guru

Banting setir dari dunia pendidikan

Keputusan Liu untuk terjun ke industri ini diambil pada Juli 2023. Sebelumnya, dia adalah seorang guru yang merasa kelelahan dan sering kehilangan suara akibat tekanan pekerjaan.

Awalnya, Liu sempat merasa ragu dan takut karena stigma negatif yang melekat pada kematian dalam budaya China

Namun, persepsinya berubah setelah melihat langsung proses produksi di pabrik, mulai dari pemotongan kayu hingga pengukiran.

Baginya dan para pekerja di Heze, peti mati dipandang secara fungsional sebagai produk kayu. 

Bahkan, pemandangan pekerja menggunakan guci abu kosong sebagai wadah penyimpanan di rumah sudah menjadi hal biasa.

Baca juga: Bisikkan Jawaban ke Murid Saat Ujian, Guru Langsung Disanksi

Kota Heze sendiri memang dikenal sebagai pusat produksi kayu paulownia.

Kayu jenis ini menjadi kunci kesuksesan ekspor ke Italia karena karakteristiknya yang ringan, memiliki titik nyala rendah, serta serat yang indah.

Karakteristik tersebut sangat sesuai dengan kebutuhan pasar Italia, di mana peti mati dan jenazah biasanya dikremasi bersamaan. 

Secara tampilan, berbeda dari peti mati tradisional China yang berat dan gelap, produk ekspor ini cenderung ringan dengan hiasan ukiran religius.

Faktor harga juga menjadi daya tarik utama. Berdasarkan data Jimu News, peti mati asal Heze dibanderol seharga 90 dollar AS hingga 150 dollar AS (Rp 1,5 juta-Rp 2,5 juta). 

Baca juga: Kenapa Pidato Prabowo Urutan 3 di Sidang Umum PBB? Begini Dugaan Guru Besar UI

Harga ini jauh lebih murah dibandingkan produk buatan Eropa yang mencapai 1.100 dollar AS hingga 2.100 dollar AS (Rp 18,5 juta-Rp 35 juta).

Pabrik tempat Liu bekerja kini mampu mengekspor sekitar 40.000 peti mati per tahun dengan pendapatan mendekati 40 juta yuan. 

Meski harus menghadapi fluktuasi kebijakan Uni Eropa dan kenaikan biaya pengiriman, Liu tetap percaya diri dengan masa depan bisnis ini.

"Orang meninggal setiap hari, dan setiap orang pada akhirnya akan membutuhkan peti mati," ujarnya.

Baca juga: Vietnam Naikkan Tunjangan Guru 70 Persen

Heze sendiri hanyalah salah satu bagian dari raksasa industri pemakaman China. 

Di Provinsi Hebei, terdapat Desa Mibeizhuang yang memproduksi berbagai perlengkapan seperti pakaian jenazah hingga karangan bunga. 

China News Weekly mencatat nilai produksi desa ini melampaui 1 miliar yuan pada 2020.

Sementara itu, Kota Huian di tenggara China sukses menguasai pasar batu nisan di Jepang dengan nilai ekspor mencapai hampir 2 miliar yuan per tahun berkat kualitas granitnya.

Baca juga: Sekolah di AS Tawarkan Bantuan Rp 80 Juta untuk Guru, Syaratnya Jangan Gemuk

Pergeseran pandangan generasi muda

Kesuksesan bisnis ini juga didorong oleh mulai lunturnya tabu kematian di kalangan generasi muda China. 

Fenomena "demitologisasi" kematian kini mulai terlihat dalam berbagai aksi unik.

Misalnya, agen peti mati Yang Tianzhen yang melakukan simulasi pemakamannya sendiri saat ulang tahun, atau kreator konten @Xiaogang yang merancang peti mati berbentuk pesawat luar angkasa. 

Di Shanghai, muncul pula "Pusat Pengalaman Kematian" dan Ferryman Cafe, tempat orang bisa berdiskusi tentang hidup dan mati secara terbuka.

Profesor dari Universitas Sains dan Teknologi Huazhong, Yang Lei, menilai keterbukaan ini sebagai bentuk rasionalitas baru.

"Kematian bertindak sebagai cermin, memaksa kita untuk menghadapi apa yang sebenarnya penting dalam hidup," tutur Yang.

Baca juga: Guru di AS Tak Boleh Gemuk jika Ingin Dapat Rp 80 Juta

Tag:  #kisah #guru #banting #setir #bidang #kematian #raup #miliar

KOMENTAR