Keluh Kesah Tentara AS Dinas ke Iran, Ingin Resign Saat Pulang
- Perpanjangan penugasan kapal induk USS Gerald R Ford untuk kedua kalinya oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, memicu tekanan besar bagi ribuan prajurit Angkatan Laut AS beserta keluarga mereka.
Sejumlah awak kapal mengaku mulai mempertimbangkan meninggalkan dinas setelah hampir setahun berada jauh dari rumah.
Kapal perang terbesar milik AS itu telah berlayar sejak Juni 2025.
Baca juga: AS Kosongkan Kedubes di Israel, Geber Persiapan Serang Iran
Pada Oktober 2025, Pentagon mengalihkan misi Ford dari Mediterania ke Karibia guna mendukung penyitaan kapal tanker minyak serta operasi AS untuk menangkap Presiden Venezuela saat itu, Nicolas Maduro.
Awal 2026, awak kapal kembali menerima kabar bahwa masa tugas mereka diperpanjang dan kapal akan melintasi Samudra Atlantik menuju Timur Tengah untuk mendukung potensi serangan udara Amerika terhadap Iran.
Foto satelit yang diperoleh Wall Street Journal menunjukkan Ford melintasi Selat Gibraltar pada Jumat (20/2/2026) dan bergerak ke arah timur.
Dalam kondisi masa damai, penugasan kapal induk biasanya berlangsung enam bulan dengan kemungkinan tambahan beberapa bulan jika diperlukan, kata pensiunan laksamana muda Mark Montgomery.
Baca juga: Milisi Kuat Irak Siaga Perang Panjang Iran-Amerika, Akan Ikut Tempur
Beban kerja tinggi
Kapal induk USS Gerald R Ford (CVN 78) saat tiba di St Thomas, Kepulauan Virgin, 1 Desember 2025. Ford merupakan satu dari dua kapal induk Amerika yang dikerahkan ke Timur Tengah, di tengah ketegangan dengan Iran.Montgomery menyebutkan, awak Ford sudah jauh dari rumah selama delapan bulan dan kini berpotensi menjalani penugasan hingga 11 bulan.
Durasi tersebut berpeluang memecahkan rekor penempatan berkelanjutan terlama dalam sejarah Angkatan Laut AS.
Angkatan Laut AS memiliki 11 kapal induk dengan jadwal rotasi yang telah direncanakan sejak lama.
Sebagian kapal ditempatkan di berbagai kawasan, sebagian menjalani pelatihan, dan lainnya menjalani perawatan.
Selain Ford, USS Abraham Lincoln beserta kelompok serangnya juga dikerahkan ke Timur Tengah.
Kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN 72) milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) saat mengisi bahan bakar dari kapal USNS Arctic (T-AOE 9) pada 8 Mei 2019.Dalam pernyataan resmi, pejabat Angkatan Laut mengakui adanya tantangan dalam dinas kali ini dan menegaskan pimpinan memprioritaskan dukungan bagi pelaut serta keluarga mereka.
Beban kerja tinggi juga dialami kapal lain.
Pada April dan Mei 2025, USS Harry S Truman kehilangan beberapa jet tempur saat menghadapi serangan pemberontak Houthi di Laut Merah.
Investigasi Angkatan Laut menyimpulkan, tempo operasional misi yang tinggi menjadi faktor penyebab insiden tersebut.
Seorang pelaut di atas Ford mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa banyak anggota kru marah dan kecewa.
Sebagian menyatakan keinginan meninggalkan Angkatan Laut setelah masa tugas berakhir.
Pelaut tersebut mengaku sangat mempertimbangkan untuk mengundurkan diri karena merindukan putrinya yang masih balita, dan merasa ketidakpastian waktu kepulangan menjadi beban terberat.
Perpanjangan masa tugas membuat para pelaut berpotensi melewatkan ulang tahun, pernikahan, pemakaman, hingga kelahiran anak.
Baca juga: AS Kirim Jet Tempur Siluman F-22 ke Israel, Siap Hadapi Iran
Kapten kapal ikut syok
Kapal induk Amerika Serikat USS Gerald R Ford saat dipotret di laut bersama jet tempur F/A-18E/F Super Hornets dan B-52 Stratofortress di lokasi yang tak disebutkan di laut, 13 November 2025.Kapten David Skarosi, komandan kapal Ford, menyebut perpanjangan dinas tambahan itu sebagai “bencana” dan mengaku turut terkejut.
Dalam surat tertanggal 14 Februari 2026 kepada keluarga awak kapal, ia menulis bahwa dirinya pun berharap bisa segera pulang dan memperbaiki pagar di halaman belakang rumahnya.
“Saya berbicara dengan banyak pelaut Anda yang sedang berusaha menerima kenyataan melewatkan rencana ke Disney World, pernikahan yang sudah mereka konfirmasi kehadirannya, dan perjalanan liburan musim semi ke Busch Gardens,” tulis Skarosi, dikutip pada Sabtu (21/2/2026).
Ia menambahkan, “Ketika negara kita memanggil, kita menjawab.”
Baca juga: Bagi Pejabat Iran, Menerima Tuntutan AS Lebih Bahaya daripada Perang
Kenyataan tersebut tidak diterima dengan mudah oleh seluruh awak kapal yang berjumlah sekitar 5.000 orang.
Mayoritas pelaut berusia awal 20-an dan merindukan orangtua serta masakan rumahan.
Sebagian lainnya telah berkeluarga dan memiliki anak.
Kapal perang Amerika Serikat USS Gerald R Ford, yang merupakan kapal induk terbesar di dunia, saat melintasi Laut Utara dalam latihan NATO Neptune Strike 2025 pada 24 September.Komunikasi dengan keluarga kerap tidak menentu akibat kerahasiaan pergerakan kapal induk, sehingga panggilan telepon dan pesan WhatsApp hanya dapat dilakukan secara sporadis.
Seorang pelaut lain menyatakan bahwa masa tugas panjang merupakan bagian dari profesi mereka.
Ia mengatakan, meski sulit dan melelahkan, seluruh pelaut memahami komitmen yang telah mereka ambil.
“Misi kami adalah untuk memastikan pertempuran tidak pernah mencapai garis depan,” ujarnya.
Laksamana Daryl Caudle, kepala operasi angkatan laut, pada Januari menyampaikan penyesalan atas perpanjangan tersebut.
Ia menyoroti dampak finansial bagi Angkatan Laut serta beban terhadap awak dan keluarga.
Baca juga: Jarang Terjadi, 2 Kapal Induk AS Akan Duet Serang Iran
Kapal turut terbebani
Kapal induk Amerika Serikat USS Gerald R Ford saat berlabuh di Teluk Palma, Palma de Mallorca, Spanyol, 3 Oktober 2025. Kapal induk terbesar di dunia ini adalah salah satu yang dikerahkan AS ke Timur Tengah untuk mengancam Iran.Montgomery juga menilai, penugasan panjang berdampak pada kondisi kapal karena peralatan mulai mengalami kerusakan setelah delapan bulan di laut dan jadwal pemeliharaan harus ditunda.
Penundaan itu mengganggu siklus pemeliharaan serta pelatihan kapal lain.
Di daratan, keluarga para pelaut menghadapi tekanan tersendiri.
Jami Prosser dari Pennsylvania mengatakan, ia kerap tidak menerima kabar dari putranya selama dua hingga tiga pekan ketika kapal berada dalam “mode hantu”.
Telepon baru berdering pada dini hari saat kapal singgah di pelabuhan.
Putranya yang memiliki dua anak melewatkan pemakaman kakek buyutnya, perceraian saudara perempuannya, serta masalah kesehatan saudara laki-lakinya selama penugasan ini.
Ia juga belum sempat melakukan perbaikan rumah seperti mengecat lis luar.
Prosser menyebut putranya sempat menyinggung persoalan toilet di kapal tanpa menjelaskan detail.
NPR sebelumnya melaporkan pada Januari bahwa sejumlah toilet di Ford tidak berfungsi.
Pejabat Angkatan Laut menyatakan, sistem pembuangan limbah berbasis teknologi vakum yang melayani sekitar 650 toilet mengalami gangguan dengan rata-rata satu panggilan perawatan per hari.
Kondisi disebut telah membaik dan tidak memengaruhi kemampuan kapal menjalankan misi.
Baca juga: 4 Prediksi Waktu AS Serang Iran, Terdekat Besok Saat Perjanjian Nuklir Gagal Lagi
Apa kata keluarga pelaut AS?
Kapal induk Amerika Serikat USS Gerald R Ford saat beranjak meninggalkan Teluk Souda di Pulau Kreta, Yunani, 26 Februari 2026 untuk menuju Timur Tengah.Rosarin McGhee yang tinggal sendirian di Virginia Beach selama delapan bulan terakhir rutin mengirim surat tulisan tangan dan paket perawatan untuk suaminya di kapal.
Dia telah mengirim 17 kotak berisi makanan dan hadiah kecil.
“Saya harus tinggal di sini sendirian, entah betapa kesepian atau beratnya perasaan ini,” katanya.
Ia menyebut kabar perpanjangan masa tugas itu menyayat hati.
Charlene Poston dari Mississippi semula bersiap menjemput putranya pada 2 Februari di Virginia Beach.
Ia sudah memesan penginapan dan mobil sewaan, tetapi pada 22 Januari putranya mengirim pesan untuk membatalkan rencana tersebut setelah menerima kabar perpanjangan terbaru.
Poston pun menangis tersedu-sedu. “Saya sangat siap untuk kepulangannya. Mereka masih sangat muda, dan bagi kami mereka masih bayi,” katanya.
Scott Tomlin dari Virginia menuturkan, putranya yang bertugas mengawasi persediaan kerap mengeluhkan makanan di kapal.
Putranya meminta dikirimi makaroni dan keju, spam, serta saus pedas.
Tomlin menyebut masalah saluran pembuangan telah terkendali, meski pernah terjadi insiden seseorang membuang sampah ke toilet di dek paling bawah kapal induk tersebut.
Baca juga: Pejabat AS Usul Israel Serang Iran Dulu, Agar Washington Punya Alasan Perang
Tag: #keluh #kesah #tentara #dinas #iran #ingin #resign #saat #pulang