Jenderal AS Ketar-ketir Lihat Rencana Trump Serang Iran
- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendapat peringatan risiko besar di balik rencana serangan militer jangka panjang terhadap Iran.
Hal tersebut disampaikan oleh para pejabat senior Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon, sebagaimana dilansir Kyiv Post, Selasa (24/2/2026).
Peringatan tersebut mencakup potensi jatuhnya korban jiwa dari pihak AS dan sekutu, menipisnya stok pertahanan udara, hingga kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Baca juga: Paradoks Board of Peace: Ultimatum Damai untuk Iran
Wall Street Journal melaporkan pada Senin (23/2/2026), peringatan ini dipimpin oleh Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, dalam berbagai diskusi internal di Pentagon dan pertemuan Dewan Keamanan Nasional.
Para perencana militer dilaporkan tengah meninjau berbagai opsi, mulai dari serangan terbatas hingga kampanye udara jangka panjang yang bertujuan untuk melemahkan atau menggulingkan kepemimpinan di Teheran.
Namun, Pentagon menyoroti bahwa operasi berkelanjutan akan memberikan tekanan signifikan pada pasukan AS dan cadangan sistem pencegat rudal.
Stok sistem pertahanan seperti Patriot, THAAD, dan SM-3 dilaporkan mulai terbatas, sebagaimana dilansir Kyiv Post.
Baca juga: Yakin Menangkan Perang, Trump Bantah Jenderal Top AS Ragu Serang Iran
Pejabat terkait memperingatkan bahwa penggunaan besar-besaran munisi pertahanan udara di Timur Tengah dapat mengganggu kesiapan AS menghadapi potensi konflik di masa depan dengan China.
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah mengancam akan membalas setiap serangan.
Dia memperingatkan bahwa pasukan Iran mampu menargetkan kapal perang Amerika.
AS memprediksi Iran akan mengerahkan rudal-rudal dari gudang dan kelompok proksinya di seluruh kawasan sebagai respons.
Baca juga: Trump Tunggu Aba-aba dari 2 Orang Ini Sebelum Serang Iran, Bukan Netanyahu
Pengerahan militer terbesar sejak Perang Irak
Saat ini, AS telah mengerahkan salah satu kekuatan udara dan laut terbesar di Timur Tengah sejak Perang Irak 2003.
Kekuatan ini mencakup dua gugus tempur kapal induk, dengan kapal induk kedua yang beroperasi di Laut Mediterania.
Situasi keamanan yang memanas juga membuat Kementerian Luar Negeri AS mengevakuasi personel non-darurat dan anggota keluarga dari Kedutaan Besar AS di Lebanon pada Senin.
Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menyatakan bahwa peran Jenderal Caine adalah untuk memberikan penilaian militer yang tidak memihak kepada presiden.
Menanggapi hal tersebut, Trump menyebutkan bahwa meski Caine lebih memilih untuk menghindari perang, dia meyakini bahwa AS akan menang mudah melawan Iran.
Baca juga: Netanyahu Disebut Sangsi pada Sikap AS soal Iran: Apakah Trump Masih Bersama Kita?
Diplomasi di tengah ketegangan
Meski ancaman militer menguat, upaya diplomasi masih berjalan.
Washington terus bernegosiasi dengan Teheran untuk membatasi program nuklir, kemampuan rudal balistik, dan dukungan Iran terhadap kelompok proksi.
Putaran perundingan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada Kamis (26/2/2026) mendatang di Jenewa.
Dalam pertemuan tersebut, Iran diharapkan memaparkan posisinya kepada utusan Trump, Steve Witkoff.
Sebelumnya, perundingan juga telah dilakukan di Oman yang bertindak sebagai perantara.
Hingga saat ini, Trump dilaporkan belum mengambil keputusan final mengenai perintah tindakan militer.
Baca juga: 4 Skenario Kapan AS Serang Iran
Tag: #jenderal #ketar #ketir #lihat #rencana #trump #serang #iran