Lebih Parah dari Era Mahsa Amini, Korban Tewas Akibat Protes Iran Tembus 2.571 Jiwa
Warga Iran menghadiri demonstrasi anti-pemerintah di Teheran, Iran pada 9 Januari 2026 (AP-Yonhap)
16:45
15 Januari 2026

Lebih Parah dari Era Mahsa Amini, Korban Tewas Akibat Protes Iran Tembus 2.571 Jiwa

- Gelombang protes nasional yang mengguncang Iran dilaporkan telah memakan korban jiwa dalam skala yang sangat besar. Menurut laporan terbaru dari Human Rights Activists News Agency (HRANA), kelompok aktivis yang berbasis di Amerika Serikat, jumlah korban tewas hingga Rabu pagi (14/1) telah mencapai setidaknya 2.571 orang.

Angka ini jauh melampaui catatan korban kerusuhan mana pun di Iran dalam beberapa dekade terakhir, bahkan membangkitkan ingatan kelam akan kekacauan Revolusi 1979.

Dari total korban, aktivis merinci bahwa 2.403 korban adalah demonstran, sementara 147 lainnya berasal dari pihak pemerintah. Tragisnya, 12 anak-anak dan sembilan warga sipil yang tidak ikut protes turut menjadi korban tewas. Selain itu, lebih dari 18.100 orang kini mendekam di tahanan.

Skylar Thompson dari HRANA mengungkapkan keterkejutannya kepada Associated Press (AP) atas lonjakan angka ini. Menurutnya, jumlah korban tewas kali ini mencapai empat kali lipat dari korban protes Mahsa Amini tahun 2022, padahal protes baru berjalan selama dua minggu.

Adapun setelah sempat memutus total akses komunikasi, otoritas Iran mulai mengizinkan panggilan telepon ke luar negeri pada Selasa (13/1). Melalui sambungan telepon, para saksi mata di Teheran menceritakan suasana kota yang mencekam dengan penjagaan aparat yang luar biasa ketat.

Di pusat kota, gedung-gedung pemerintah tampak hangus terbakar dan mesin ATM hancur. Polisi anti-huru hara mengenakan helm, perisai, hingga senapan berjaga di persimpangan jalan, didampingi petugas berpakaian preman. Meski toko-toko mulai buka, suasana tetap sepi karena warga khawatir akan kemungkinan serangan dari Amerika Serikat.

"Pengiriman pesan teks masih terputus, dan akses internet hanya terbatas pada situs-situs lokal yang disetujui pemerintah," ujar seorang saksi yang meminta anonim karena alasan keamanan.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut memberikan pernyataan keras melalui platform Truth Social miliknya.

"Para Patriot Iran, TERUSLAH PROTES - KUASAI INSTITUSI KALIAN!!!"

"Saya telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran, sampai pembunuhan demonstran yang tidak masuk akal ini BERHENTI. BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN."

Namun, beberapa jam setelah unggahannya, Trump tampak sedikit melunak saat berbicara kepada wartawan. Ia menyatakan masih menunggu laporan akurat sebelum bertindak.

"Menurut saya mereka telah berperilaku buruk, tetapi itu belum dikonfirmasi," ungkap Trump mengenai pasukan keamanan Iran.

Pihak Iran langsung bereaksi keras terhadap pernyataan Trump. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menuding balik AS dan Israel sebagai dalang kekacauan.

"Kami menyatakan nama-nama pembunuh utama rakyat Iran: 1. Trump 2. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu."

Di tengah penindakan keras, televisi pemerintah Iran secara resmi mengakui adanya kematian massal dengan menyebutkan bahwa negara memiliki "banyak martir." Di sisi lain, pemerintah juga mengumumkan layanan kamar mayat gratis, sebuah langkah yang dicurigai aktivis sebagai upaya merespons laporan adanya biaya tinggi bagi keluarga yang ingin mengambil jenazah korban.

Pemerintah juga mulai memburu terminal internet satelit Starlink. Warga di Teheran utara melaporkan adanya penggerebekan ke apartemen-apartemen yang memiliki antena satelit. Meski begitu, para aktivis memastikan bahwa layanan Starlink tetap diupayakan masuk untuk membantu komunikasi warga.

"Kami dapat mengkonfirmasi bahwa langganan gratis untuk terminal Starlink berfungsi sepenuhnya. Kami mengujinya menggunakan terminal Starlink yang baru diaktifkan di Iran," tegas Mehdi Yahyanejad, aktivis di Los Angeles, kepada Associated Press.

Protes yang pecah sejak akhir Desember ini awalnya dipicu oleh kemerosotan ekonomi, namun dengan cepat berubah menjadi gerakan politik yang menargetkan rezim teokrasi dan Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei.

Editor: Candra Mega Sari

Tag:  #lebih #parah #dari #mahsa #amini #korban #tewas #akibat #protes #iran #tembus #2571 #jiwa

KOMENTAR