Tiongkok Kembangkan Padi Hibrida yang Mampu Memperbanyak Benih Sendiri dan Berpotensi Gandakan Produksi Beras Dunia
Riset tim Wang Kejian di Tiongkok membuka peluang padi hibrida yang mampu mempertahankan sifat unggul tanpa kebutuhan pembelian benih baru setiap musim tanam. (Foto: SCMP)
17:27
8 Januari 2026

Tiongkok Kembangkan Padi Hibrida yang Mampu Memperbanyak Benih Sendiri dan Berpotensi Gandakan Produksi Beras Dunia

 

— Para peneliti Tiongkok mencatatkan terobosan besar dalam pertanian global dengan mengembangkan padi hibrida yang dapat memperbanyak benihnya sendiri melalui biji identik, sehingga sifat unggul hasil panen tetap terjaga dari satu generasi ke generasi berikutnya. 

Inovasi ini dinilai berpotensi menggandakan produksi beras dunia sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap benih hibrida berbiaya tinggi. Terobosan ini dikembangkan oleh tim peneliti yang dipimpin Wang Kejian dari China National Rice Research Institute, bagian dari Chinese Academy of Agricultural Science. 

Menurut laporan media setempat, varietas baru ini menggunakan proses apomiksis, yaitu biji yang dapat berkembang tanpa pembuahan, dan telah diuji selama beberapa generasi di provinsi Hainan dan Zhejiang.

Dilansir dari South China Morning Post, Kamis (8/1/2026), tim peneliti menegaskan bahwa padi hibrida baru ini berpotensi mengatasi salah satu hambatan utama dalam pengembangan padi hibrida konvensional, yakni kewajiban petani membeli benih baru pada setiap musim tanam. 

Dengan kemampuan memperbanyak diri tanpa kehilangan sifat unggul, varietas ini dinilai dapat mengubah pola produksi beras secara struktural. “Jika semua petani padi dapat menanam varietas hibrida baru ini, produksi beras dunia berpotensi meningkat hingga dua kali lipat,” tulis laporan tersebut.

Selama ini, padi hibrida memang dikenal mampu menghasilkan panen jauh lebih tinggi dibanding varietas biasa. Di beberapa wilayah Afrika, misalnya, produktivitasnya bahkan dilaporkan hampir empat kali lipat. Namun, keunggulan tersebut diimbangi biaya yang sangat tinggi. 

Harga benih padi hibrida konvensional dapat mencapai 200 yuan per kilogram, atau sekitar Rp 478.000 dengan kurs Rp 2.395 per yuan. Selain mahal, benih tersebut juga kehilangan sifat unggulnya pada generasi berikutnya, sehingga petani terpaksa membeli benih baru setiap tahun.

Dalam wawancara dengan China Science Daily, Wang menyebut pencapaian tersebut sebagai “pengenalan pertama sifat apomiksis ke dalam padi hibrida, sebuah terobosan dari ‘0 ke 1.’” Menurutnya, jika teknologi ini berhasil dikomersialkan, biaya benih hibrida dapat ditekan secara signifikan, dari kisaran 20 hingga 100 yuan per jin menjadi sekitar 2 hingga 5 yuan per jin, atau setara dengan harga benih padi konvensional di pasar.

Di kalangan ilmuwan pertanian, apomiksis kerap disebut sebagai “holy grail,”istilah yang merujuk pada tujuan paling ideal dalam riset tanaman karena memungkinkan sifat unggul padi hibrida dipertahankan secara berkelanjutan tanpa biaya benih yang tinggi

Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan pelopor riset padi hibrida, Yuan Longping. Tokoh yang dijuluki “Bapak Padi Hibrida” itu pernah menegaskan bahwa keberhasilan apomiksis menunjukkan “kelayakan apomiksis dalam padi hibrida, menandai terobosan signifikan … Saya berharap melihat aplikasi padi hibrida satu garis dalam produksi.”

Sejalan dengan itu, perkembangan terbaru yang dicapai tim Wang berhasil mengatasi tantangan awal dalam riset apomiksis, seperti rendahnya tingkat pembentukan biji dan efisiensi kloning. Melalui pendekatan terbaru ini, sifat unggul padi hibrida dapat dipertahankan lebih dari 99,7 persen hingga generasi berikutnya.

Pendekatan ini juga membuka peluang bagi petani kecil di negara berkembang, yang sebelumnya terkendala harga benih tinggi, untuk mengakses padi hibrida berkualitas. Para pakar pertanian menilai teknologi ini dapat mempercepat upaya global mengatasi kerawanan pangan di tengah pertumbuhan populasi yang cepat.

Namun, uji lanjutan dan regulasi masih diperlukan sebelum benih apomiktik ini diproduksi massal. Jika berhasil dikomersialkan, inovasi ini bisa menjadi tonggak sejarah pertanian modern, sejajar dengan terobosan Yuan Longping di era 1970‑an, dan menjadi salah satu peluang terbesar untuk mendukung ketahanan pangan global di tengah perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya.

Editor: Setyo Adi Nugroho

Tag:  #tiongkok #kembangkan #padi #hibrida #yang #mampu #memperbanyak #benih #sendiri #berpotensi #gandakan #produksi #beras #dunia

KOMENTAR