Butuh 5 Ribu Pesawat Garuda untuk Angkut Warga Gaza ke Indonesia, Usul Trump Ditolak
Namun sebelum itu, usulan yang datang dari Presiden Amerika serikat (AS), Donald Trump tersebut mendapat penolakan berbagai pihak.
Termasuk dari Kementerian Luar Negeri (kemenlu) sebagai perpanjangan Pemerintah Republik Indonesia.
Dengan dalih solusi jangka panjang buat Gaza, Trump melalui orang kepercayaannya yakni Steve Witkoff memilih Indonesia sebagai salah satu tujuan perpindahan warga Gaza.
Lantas jika hal itu terjadi, relokasi warga Gaza akan memakan waktu, biaya serta akomodasi yang besar.
Demikian mengingat jumlah penduduk warga Gaza tercatat 2 juta orang dalam sensus per 2023.
Kemudian jika mematok pada data tersebut, dibutuhkan ribuan pesawat untuk mengangkutnya.
Menilik kapasitas penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan model Airbus A330-900Neo.
Jika dimodifikasi, pesawat Airbus A330-900 tersebut bisa mengangkut sekitar 400 penumpang.
Lantas apabila relokasi diwujudkan, maka butuh 5 ribu pesawat atau 5 ribu kelompok terbang (kloter) untuk relokasi warga Gaza ke Indonesia.
Dikutip dari laman Airbus, tipe pesawat tersebut biasanya digunakan untuk penerbangan jarak jauh.
Adapun spesifikasi dari pesawat Airbus yaitu memiliki kapasitas sebanyak 260-300 penumpang.
Namun, jika dilakukan modifikasi untuk kebutuhan tertentu, pesawat tipe Airbus A330-900 itu bisa memiliki kapasitas mencapai 440 kursi.
Sementara dari sisi mesin, pesawat tersebut menggunakan mesin dari General Electric CF6-80E, Pratt and Whitney PW 4000, atau Rolls-Royce Trent 7000.
Selain itu, adapula teknologi baru yang terpasang dalam pesawat tersebut seperti perangkat winglet komposit baru untuk menghasilkan daya angkat lebih besar serta mengurang hambatan.
Kemudian, adapula teknologi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang hingga 25 persen ketimbang pesawat generasi sebelumnya.
Sementara, untuk daya jelajah maksimum dari Airbus A330-900 mencapai 13.334 kilometer.
Pesawat ini bersaing dengan tipe Boeing 777 yang kerap digunakan untuk sejumlah penerbangan di dunia, termasuk di Indonesia.
Indonesia Menolak
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Anis Matta mengatakan sampai saat ini belum ada pembicaraan mengenai rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang ingin merelokasi 2 juta warga Gaza, Palestina, ke Indonesia.
Hal itu disampaikan Anis usai mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, (22/1/2025).
"Yang pertama belum ada pembicaraan sama sekali soal itu," kata Anis Matta.
Menurut dia pada dasarnya Indonesia tidak bisa menerima relokasi warga Gaza dari Palestina.
Rekonstruksi bukan menjadi alasan warga Gaza keluar dari wilayahnya.
"Pada dasarnya kan kita tidak bisa menerima relokasi warga Gaza dari Gaza karena rekonstruksi bukan jadi kendala, bukan jadi alasan untuk melakukan relokasi.," katanya.
Ia mengatakan bahwa dalam membantu warga Gaza, pemerintah fokus pada pengiriman bantuan kemanusiaan.
Selain itu Presiden Prabowo akan melakukan kunjungan ke negara negara Timur Tengah dalam waktu dekat yang salah satunya membahas masalah Gaza.
"Kita sekarang masih koordinasi teknis terkait dengan penyaluran bantuan kemanusiaan. Itu saja yang kita kerjakan," pungkasnya.
Hamas, Mesir, Yordania Tegas
Wakil ketua Hamas di luar negeri, Musa Abu Marzouk, mengomentari pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tentang pengusiran warga Palestina dari Jalur Gaza.
Dia mengatakan gagasan Donald Trump untuk menggusur warga Jalur Gaza sudah lama diungkapkan di publik.
"Tidak ada orang Palestina atau Arab yang akan menerima gagasan perpindahan dari Donald Trump," kata Abu Marzouk kepada Al Arabiya, Minggu (26/1/2025).
"Gagasan Presiden AS tentang pengungsian berarti pembersihan etnis masyarakat Gaza," lanjutnya.
Dia mengatakan ide tersebut tidak akan berhasil.
Sementara itu, Mesir dan Yordania juga menanggapi pernyataan Donald Trump tentang pengusiran warga Palestina dari Jalur Gaza.
Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Al-Safadi, mengatakan solusi terhadap masalah Palestina adalah solusi Palestina.
Ia menegaskan Yordania menolak pengungsian warga Palestina dari wilayah Palestina mana pun.
"Kerajaan Yordania adalah untuk rakyat Yordania dan Negara Palestina adalah untuk rakyat Palestina," tegasnya.
Menteri tersebut mengatakan Yordania melanjutkan penyaluran bantuan ke Jalur Gaza, sebelum upaya rekonstruksi.
Yordania juga berharap dapat bekerja sama dengan sekutu utama Israel, Amerika Serikat (AS), untuk mencapai perdamaian di kawasan tersebut.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Mesir mengatakan masalah Palestina belum selesai karena Israel menunda untuk menyelesaikannya, di antaranya Israel belum mengakhiri pendudukannya dan memulihkan hak rakyat Palestina.
"Mesir menolak setiap pelanggaran terhadap hak-hak yang tidak dapat dicabut ini, baik melalui pemukiman atau pencaplokan tanah atau mengevakuasi tanah dari pemiliknya melalui penggusuran atau mendorong warga Palestina pergi dari tanah mereka, baik sementara atau jangka panjang," kata kementerian itu.
Mesir menyerukan komunitas internasional untuk mulai mengimplementasikan solusi dua negara, termasuk perwujudan negara Palestina sesuai dengan resolusi legitimasi internasional dan garis tanggal 4 Juni 1967.
Donald Trump Ingin Usir Warga Palestina dari Jalur Gaza
Presiden AS Donald Trump mengatakan dia ingin Mesir dan Yordania menerima warga Palestina dari Gaza.
Donald Trump mengatakan dia telah mengajukan permintaan tersebut kepada Raja Yordania Abdullah dan berencana menanyakannya kepada presiden Mesir pada Minggu juga.
Sebelumnya, Donald Trump menggambarkan Gaza sebagai "lokasi pembongkaran".
"Anda berbicara tentang sekitar satu setengah juta orang, dan kami hanya membersihkan seluruh tempat itu. Pemindahan itu bisa bersifat sementara atau bisa bersifat jangka panjang," kata Donald Trump, Minggu, seperti diberitakan BBC.
Baik Hamas maupun Otoritas Palestina, mengecam usulan tersebut. Yordania dan Mesir juga menolak gagasan tersebut.
Pemerintah AS merupakan sekutu utama Israel dan pendonor terbesar untuk militer Israel sejak pendirian negara tersebut di Palestina pada 1948 dan menyalurkan bantuan militer per tahun ke Israel.
Selain itu, banyak warga Israel yang memiliki kewarganegaraan ganda, termasuk dari AS, dan mendirikan pemukiman ilegal di wilayah Palestina.
(Tribunnews.com/ Chrysnha, Faryyanida Putwiliani, Taufik Ismail, Yunita Rahmayanti)
Tag: #butuh #ribu #pesawat #garuda #untuk #angkut #warga #gaza #indonesia #usul #trump #ditolak